
{"id":92294,"date":"2026-04-07T16:34:26","date_gmt":"2026-04-07T09:34:26","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=92294"},"modified":"2026-04-07T16:34:26","modified_gmt":"2026-04-07T09:34:26","slug":"mbg-di-era-disrupsi-informasi-membangun-narasi-menjaga-kepercayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/mbg-di-era-disrupsi-informasi-membangun-narasi-menjaga-kepercayaan\/","title":{"rendered":"MBG di Era Disrupsi Informasi, Membangun Narasi, Menjaga Kepercayaan"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, fornews.co<\/strong> &#8212; Program sebesar <strong>MBG<\/strong> membutuhkan kepercayaan publik yang kuat. Tanpa itu, capaian di lapangan akan sulit mendapatkan legitimasi yang utuh.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, <strong>Khairul Hidayati<\/strong>, dalam Rapat Koordinasi Kerja Sama Komunikasi Publik MBG bersama Kementerian Komdigi di Bekasi, Senin, 6 April.<\/p>\n<p>Hidayati menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar MBG bukan semata pada skala operasionalnya, tetapi pada bagaimana program ini dipahami oleh publik yang semakin kritis.<\/p>\n<p>Di tengah derasnya arus informasi digital dan meningkatnya sensitivitas publik terhadap kebijakan sosial, Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menata ulang cara berbicara kepada masyarakat.<\/p>\n<p>Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tidak hanya dihadirkan sebagai proyek distribusi pangan, kepercayaan narasi, transparansi, dan respons menjadi penentu arah keberlanjutan.<\/p>\n<p>Perubahan pendekatan ini muncul dari kesadaran bahwa opini publik bergerak cepat, sering kali melampaui kemampuan institusi untuk merespons secara konvensional.<\/p>\n<p>Hoaks, potongan informasi tanpa konteks, hingga bias persepsi menjadi realitas sehari-hari. BGN merespons kondisi tersebut dengan membangun sistem komunikasi krisis yang tidak reaktif, tetapi antisipatif mengandalkan pemantauan percakapan digital secara real time serta pemetaan karakter setiap platform.<\/p>\n<p>\u201cDi era informasi cepat, persepsi bisa terbentuk dalam hitungan detik. Karena itu, kami harus memastikan setiap respons hadir tepat waktu, berbasis data, dan tidak menimbulkan ruang tafsir yang berlebihan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Hasil pembacaan mereka menunjukkan lanskap yang tidak seragam, mislanya di <em>Instagram<\/em> relatif ramah terhadap narasi program, sementara platform <em>X<\/em> menghadirkan ruang diskusi yang lebih tajam dan penuh kritik.<\/p>\n<p>Perbedaan itu tidak dipandang sebagai hambatan, tetapi sebagai petunjuk untuk merancang strategi yang lebih presisi.<\/p>\n<p>\u201cSetiap platform memiliki dinamika sendiri. Kami tidak bisa menyampaikan pesan dengan pendekatan yang sama. Adaptasi menjadi kunci agar pesan tetap relevan dan dipercaya,\u201d tambah Hidayati.<\/p>\n<p>Langkah ini juga mempertanyakan sejauh mana komunikasi mampu menutup celah antara kebijakan dan realitas di lapangan?<\/p>\n<p>BGN mencoba menjawabnya dengan memperkuat basis data dalam setiap pesan yang disampaikan. Informasi tidak lagi berhenti pada klaim keberhasilan, tetapi diarahkan untuk menunjukkan dampak konkret yang bisa diverifikasi publik.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin publik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memahami dan menilai berdasarkan fakta. Transparansi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan itu,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, penguatan ekosistem digital menjadi bagian penting dari transformasi ini. Konten tidak hanya diproduksi untuk hadir, tetapi dirancang sebagai rangkaian pengalaman yang menghubungkan edukasi gizi, cerita penerima manfaat, hingga pelaporan capaian program.<\/p>\n<p>\u201cKonten yang kami bangun harus humanis dan mudah dipahami. Masyarakat perlu melihat langsung bagaimana program ini bekerja dan apa dampaknya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pendekatan ini menunjukkan hasil awal yang signifikan dalam jangkauan dan interaksi. Tetapi di balik angka-angka tersebut, terdapat tantangan yang lebih subtil, yaitu menjaga konsistensi pesan di tengah tekanan algoritma, dinamika politik, serta ekspektasi publik yang terus berkembang.<\/p>\n<p>\u201cMengantisipasi misinformasi tidak cukup dengan klarifikasi. Kami membangun sistem komunikasi yang solid dan terintegrasi agar kepercayaan publik tidak mudah tergerus,\u201d kata Hidayati.<\/p>\n<p>BGN juga menempatkan transparansi sebagai elemen kunci, bukan hanya untuk meredam keraguan, tetapi untuk membuka ruang evaluasi publik.<\/p>\n<p>Dengan cara ini, masyarakat tidak diposisikan sebagai penerima informasi pasif, melainkan sebagai bagian dari proses penilaian program itu sendiri.<\/p>\n<p>Langkah-langkah ini menandai pergeseran penting dari komunikasi yang berorientasi pada penyampaian pesan menuju komunikasi yang membangun relasi.<\/p>\n<p>MBG, dalam konteks ini, bukan sebatas intervensi gizi melainkan menjadi cermin bagaimana negara membangun dialog dengan warganya melalui data, keterbukaan, dan konsistensi sikap.<\/p>\n<p>Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara kinerja nyata di lapangan dan narasi yang disampaikan ke publik.<\/p>\n<p>\u201cKami menyadari bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan, tetapi menjaga kepercayaan dalam jangka panjang. Itu yang terus kami bangun,\u201d tutup Hidayati.<\/p>\n<h6>Ikuti Berita dan Artikel lain di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\"><strong>Google News<\/strong><\/a><\/h6>\n<h6><strong>Teks: A.S. Adam <\/strong>|<strong> Editor: A.S. Adam<\/strong><br \/>\nCopyright \u00a9 Fornews.co 2016-2026. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, fornews.co &#8212; Program sebesar MBG membutuhkan kepercayaan publik yang kuat. Tanpa itu, capaian di lapangan akan sulit mendapatkan legitimasi yang utuh. Hal itu disampaikan Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, dalam Rapat Koordinasi Kerja Sama Komunikasi Publik MBG bersama Kementerian Komdigi di Bekasi, Senin, 6 April. Hidayati menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar MBG [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":92295,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[1],"tags":[28385,28356,28799],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/04\/Khairul-Hidayati.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-o0C","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92294"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92294"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92294\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92296,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92294\/revisions\/92296"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92294"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92294"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92294"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}