
{"id":92317,"date":"2026-04-08T12:15:09","date_gmt":"2026-04-08T05:15:09","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=92317"},"modified":"2026-04-08T12:15:09","modified_gmt":"2026-04-08T05:15:09","slug":"antusiasme-di-balik-keterbatasan-tka-menjadi-cermin-pendidikan-inklusif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/antusiasme-di-balik-keterbatasan-tka-menjadi-cermin-pendidikan-inklusif\/","title":{"rendered":"Antusiasme di Balik Keterbatasan, TKA menjadi Cermin Pendidikan Inklusif"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, fornews.co<\/strong> &#8212; Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk siswa SMP, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB), menghadirkan lebih dari hanya agenda evaluasi.<\/p>\n<p>Di berbagai daerah, ruang ujian menjadi cermin bagaimana sistem pendidikan merespons kebutuhan murid dengan beragam kondisi, apakah sudah cukup inklusif, atau masih menyisakan jarak yang perlu dijembatani.<\/p>\n<p>Dikutip dari laman resmi Kemendikdasmen, di SLBN Pandaan, Pasuruan, suasana ujian dipenuhi semangat yang tidak bisa diukur hanya dari hasil akhir. Enam siswa dengan hambatan pendengaran mengikuti TKA dengan kesiapan yang dibangun dari latihan dan pendampingan intensif.<\/p>\n<p>Kepala sekolah, <strong>Iva Evry Robiyansah<\/strong>, melihat ada dorongan kuat dari para murid untuk terlibat aktif dalam proses belajar.<\/p>\n<p>\u201cAnak-anak datang dengan kesiapan mental yang baik. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka mampu mengikuti proses yang sama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Fenomena serupa terlihat di SLBN Semarang. Dengan jumlah peserta yang terbatas, proses ujian berlangsung lebih cair dan adaptif.<\/p>\n<p>Kepala sekolah <strong>Sri Sugiarti<\/strong> menilai pendekatan persiapan yang lebih personal memberi dampak signifikan.<\/p>\n<p>\u201cKami menyiapkan mereka sejak awal dengan metode yang sesuai kebutuhan masing-masing. Itu membuat mereka lebih percaya diri saat menghadapi soal,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Di SLBN Halmahera Barat, dinamika yang muncul bahkan melampaui ekspektasi. Ada siswa yang secara regulasi tidak diwajibkan mengikuti TKA, tetapi tetap ingin berpartisipasi.<\/p>\n<p>Kepala sekolah <strong>Ismawati Muhammad<\/strong> memandang hal ini sebagai sinyal penting.<\/p>\n<p>\u201cKeinginan untuk ikut menunjukkan bahwa mereka ingin diakui sebagai bagian dari sistem yang sama. Ini tentang rasa percaya diri dan kesempatan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Cerita dari <strong>Raka Aditomo Subagyo<\/strong>, siswa tunanetra dari SLBN Pembina Tingkat Nasional Jakarta, memperlihatkan sisi lain dari pelaksanaan TKA.<\/p>\n<p>Ia merasa cukup siap menghadapi soal, tetapi tetap menghadapi kendala pada materi berbasis visual.<\/p>\n<p>\u201cSoal bergambar masih jadi tantangan, tapi kami dibantu guru pendamping dan screen reader untuk memahami isi soal,\u201d ungkap Raka.<\/p>\n<p>Raka menambahkan bahwa penggunaan headset membantu menjaga fokus selama ujian berlangsung.<\/p>\n<p>Pengalaman Raka menegaskan bahwa aksesibilitas bukan hanya soal menyediakan fasilitas, tetapi memastikan desain evaluasi benar-benar mempertimbangkan keragaman kebutuhan siswa.<\/p>\n<p>Di sinilah TKA menghadapi tantangan yang lebih kompleks bagaimana menjaga standar penilaian tanpa mengabaikan prinsip keadilan.<\/p>\n<p>Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, <strong>Tatang Muttaqin<\/strong>, menjelaskan bahwa TKA dirancang sebagai instrumen pemetaan akademik yang juga akan digunakan dalam proses penerimaan siswa ke jenjang berikutnya.<\/p>\n<p>\u201cData dari TKA akan menjadi bagian penting dalam sistem penerimaan murid baru. Karena itu, kami ingin hasilnya mencerminkan kemampuan siswa secara jujur dan utuh,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pelaksanaan TKA di SLB membuka ruang refleksi yang lebih luas, apakah sistem evaluasi nasional sudah benar-benar inklusif, atau masih berangkat dari asumsi yang seragam?<\/p>\n<p>Antusiasme para siswa menunjukkan bahwa hambatan bukan terletak pada kemauan belajar, tetapi pada bagaimana sistem memberi ruang yang setara.<\/p>\n<p>Ke depan, tantangan tidak berhenti pada penyelenggaraan tes, tetapi pada bagaimana hasilnya diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih adaptif.<\/p>\n<p>Pendidikan inklusif tidak cukup diukur dari keterlibatan siswa dalam ujian, melainkan dari kemampuan sistem untuk memahami, menyesuaikan, dan menghargai perbedaan sebagai bagian dari kekuatan.<\/p>\n<p>Tatang menekankan bahwa integritas tetap menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan tes.<\/p>\n<p>\u201cKerjakan dengan sungguh-sungguh. Yang kami butuhkan adalah gambaran kemampuan yang sebenarnya, agar kebijakan yang diambil tepat sasaran,\u201d tandasnya.<\/p>\n<h6>Ikuti Berita dan Artikel lain di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\"><strong>Google News<\/strong><\/a><\/h6>\n<h6><strong>Teks: A.S. Adam <\/strong>|<strong> Editor: A.S. Adam<\/strong><br \/>\nCopyright \u00a9 Fornews.co 2016-2026. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, fornews.co &#8212; Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk siswa SMP, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB), menghadirkan lebih dari hanya agenda evaluasi. Di berbagai daerah, ruang ujian menjadi cermin bagaimana sistem pendidikan merespons kebutuhan murid dengan beragam kondisi, apakah sudah cukup inklusif, atau masih menyisakan jarak yang perlu dijembatani. Dikutip dari laman resmi Kemendikdasmen, di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":92318,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[1],"tags":[21549,11208,28356,11732,29469,13973],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/04\/Murid-SLB-Antusias-dan-Optimis-Ikuti-TKA.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-o0Z","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92317"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92317"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92317\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92319,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92317\/revisions\/92319"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92318"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}