
{"id":92891,"date":"2026-06-26T16:56:52","date_gmt":"2026-06-26T09:56:52","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=92891"},"modified":"2026-06-26T17:36:36","modified_gmt":"2026-06-26T10:36:36","slug":"45-tahun-berkarya-garin-nugroho-memaknai-diri-sebagai-peladang-berpindah-di-negeri-kepulauan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/45-tahun-berkarya-garin-nugroho-memaknai-diri-sebagai-peladang-berpindah-di-negeri-kepulauan\/","title":{"rendered":"45 Tahun Berkarya, Garin Nugroho Memaknai Diri sebagai &#8220;Peladang Berpindah&#8221; di Negeri Kepulauan"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>JOGJA, fornews.co<\/strong> \u2013 Pengelolaan arsip masih menjadi persoalan mendasar di Indonesia. Padahal, arsip merupakan jejak yang merekam capaian, reputasi, sekaligus perjalanan intelektual seseorang maupun sebuah bangsa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Berangkat dari kegelisahan itu, pameran <strong>&#8220;Archaivepelago: Jalan Persemaian Garin Nugroho \u2013 45 Tahun Merekam Indonesia&#8221;<\/strong> diselenggarakan sebagai ruang yang menghadirkan arsip bukan hanya dokumentasi, melainkan sumber pengetahuan dan refleksi publik.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kurator pameran, <strong>Suwarno Wisetrotomo<\/strong>, mengatakan mengarsip merupakan kerja sunyi yang membutuhkan ketekunan, kecermatan, waktu, biaya, dan daya tahan. Namun, kesadaran untuk mengelola arsip secara serius masih belum tumbuh sebagai budaya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Arsip adalah fakta keras yang menunjukkan daya jelajah, pencapaian, dan reputasi seseorang. Sayangnya, belum banyak institusi yang mengabdikan diri pada pentingnya pengelolaan arsip, sementara dukungan dari berbagai pihak juga masih sangat terbatas,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_92894\" aria-describedby=\"caption-attachment-92894\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-92894\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-7.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"490\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-7.jpg 700w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-7-300x210.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-92894\" class=\"wp-caption-text\">KURATOR pameran 45 Tahun Berkarya, Garin Nugroho, Suwarno Wisetrotomo. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p dir=\"ltr\">Menurut Suwarno, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia riset di Indonesia. Tidak semua peristiwa, tokoh, karya, maupun artefak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak jejak sejarah yang berpotensi hilang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ia menilai dokumentasi, pengarsipan, riset, pengolahan data, hingga penyajiannya kepada publik merupakan rangkaian kerja edukasi yang semestinya dilakukan secara berkelanjutan. Atas dasar itulah pameran ini dirancang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pameran bertumpu pada kekayaan arsip perjalanan kreatif <strong>Garin Nugroho<\/strong> yang selama lebih dari empat dekade merekam beragam dinamika Indonesia. Mulai dari lanskap alam beserta ancaman kerusakannya, kekayaan budaya yang kerap terabaikan, perubahan sosial, hingga kritik terhadap praktik politik, etika, regulasi, kapasitas, dan integritas yang mewarnai kehidupan berbangsa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Selama 45 tahun berkarya sejak era 1980-an, Garin tidak hanya menghasilkan film, tetapi juga mendokumentasikan aktivitas intelektual, artistik, advokasi, dan pengembangan ekosistem kebudayaan. Jejak itu mencakup karya-karya sinematografi, tulisan, pendirian berbagai institusi seperti SET dan JAFF, hingga dinamika yang menyertai perjalanan kreatifnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Pameran ini merupakan upaya meringkas sekaligus meringkus perjalanan intelektual dan kreatif Garin Nugroho, bagaimana ia memandang Indonesia, dipandang oleh banyak pihak, serta memosisikan dirinya dalam lanskap intelektual, estetik, artistik, dan kebudayaan Indonesia maupun dunia,&#8221; kata Suwarno.<\/p>\n<figure id=\"attachment_92895\" aria-describedby=\"caption-attachment-92895\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-92895\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-11.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"490\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-11.jpg 700w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-11-300x210.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-92895\" class=\"wp-caption-text\">RUANG pameran dibagi empat dekade. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p dir=\"ltr\">Untuk memudahkan pembacaan perjalanan tersebut, materi pameran dibagi ke dalam empat setengah dekade, mulai 1980 hingga 2025. Setiap periode menghadirkan karya-karya yang dinilai menjadi tonggak penting, dilengkapi foto, poster, kutipan, dan berbagai artefak yang memiliki keterkaitan erat dengan proses kreatif produksi film.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pameran ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang berlangsung di berbagai daerah, mulai dari Selasar Seni Sunaryo Art Space di Bandung hingga Nias, Papua, dan Bali, baik dalam bentuk pameran maupun produksi film.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Bagi Suwarno, proses tersebut menunjukkan bahwa kerja mengarsip tidak berhenti pada penyimpanan dokumen, tetapi menjadi cara menyebarluaskan gagasan dan merawat narasi kebangsaan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Garin Nugroho adalah gairah intelektual, narasi kebangsaan, semangat memberdayakan, merekam, dan menghadirkan Indonesia tanpa tepi. Karena itu ia terus dicatat, ditulis, direkam, untuk dan oleh Indonesia,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_92898\" aria-describedby=\"caption-attachment-92898\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-92898\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-12.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"490\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-12.jpg 700w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-12-300x210.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-92898\" class=\"wp-caption-text\">SINEAS Garin Nugroho bersama kurator pameran, Suwarno Wistrotomo, di galeri pameran GIK UGM, Kamis siang, 25 Juni 2026. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p dir=\"ltr\">Empat puluh lima tahun berkarya tidak dimaknai sineas Garin Nugroho sebagai perjalanan mengejar prestasi atau sekadar menghasilkan film. Bagi Garin, seluruh proses kreatifnya adalah perjalanan panjang sebagai &#8220;peladang berpindah&#8221;\u2014menjelajah Indonesia, menanam gagasan, merawat ekosistem seni, sekaligus menyemai talenta-talenta baru di berbagai daerah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Metafora itu lahir dari sebuah percakapan yang membekas ketika Garin berkeliling Kalimantan pada 1984 untuk mengerjakan film dokumenter. Saat itu, ia mempertanyakan mengapa dirinya selalu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, berbeda dengan banyak seniman yang berkarya di satu studio atau daerah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Seorang sahabat Dayak berkata, &#8216;Bung Garin memang peladang berpindah, bukan peladang menetap.&#8217; Sejak itu saya mengibaratkan kerja saya sebagai peladang berpindah, mengelola ladang dari satu tempat ke tempat lain, membuat karya dari suatu wilayah ke wilayah budaya lainnya di negara kepulauan ini,&#8221; kata Garin.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Perjalanan itu bermula setelah ia membuat film-film pendek menggunakan kamera 8 mm dan 16 mm pada 1981\u20131983. Setahun kemudian, pekerjaannya sebagai pembuat film dokumenter membawanya menjelajahi berbagai pulau di Indonesia dan mempertemukannya dengan beragam budaya, persoalan sosial, hingga tokoh-tokoh penting.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Bagi Garin, menjadi &#8220;peladang berpindah&#8221; berarti 0bekerja secara organik melalui kolaborasi serta menghormati ekosistem budaya setempat. Pengetahuan dari luar dipadukan dengan kekuatan lokal, sementara proses kreatifnya dibangun dari percampuran berbagai referensi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Layaknya peladang dengan bekal nasi campur, cara kerja saya juga serba campuran, mulai dari pengetahuan, referensi, cara pikir lokal dan global, tradisi dan kontemporer, hingga budaya populer dan alternatif,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pendekatan itu mempertemukan Garin dengan berbagai peristiwa besar yang membentuk perspektif artistiknya. Ia pernah bertemu tokoh Papua Merdeka Matias Wenda di tengah hutan, berdialog dengan tokoh Gerakan Aceh Merdeka sebelum perdamaian, hingga berkolaborasi dengan sejumlah presiden Indonesia, mulai dari <strong>Soeharto<\/strong>, <strong>B.J. Habibie<\/strong>, <strong>Abdurrahman Wahid<\/strong>, <strong>Megawati Soekarnoputri<\/strong>, hingga <strong>Susilo Bambang Yudhoyono.<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tidak hanya itu, perjalanan lintas pulau juga membawanya menyaksikan langsung berbagai tragedi kemanusiaan dan kerusakan lingkungan, mulai dari tsunami, konflik antarsuku, hingga degradasi ekosistem di berbagai wilayah Indonesia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Perjalanan di berbagai pulau membawa saya berdialog secara pribadi dengan berbagai peristiwa kemanusiaan dan alam. Dari situ lahir karya-karya, tulisan, pemberdayaan, dan penjelajahan yang terus berlangsung,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pengalaman tersebut kemudian melahirkan karya-karya yang dipresentasikan di berbagai festival film dan ruang seni dunia, termasuk Venice, Berlin, Cannes, Busan, hingga sejumlah galeri dan pusat pertunjukan internasional.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Namun, Garin menegaskan pencapaian internasional bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem agar seni terus bertumbuh.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Bekerja sebagai peladang menyadarkan pentingnya ekosistem. Seluruh unsur ladang harus ditumbuhkan agar menghasilkan tanaman yang subur dan produktif,&#8221; katanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kesadaran itu mendorongnya terlibat membangun berbagai ruang kreatif, di antaranya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), LA Indie Movie, sekolah keliling, serta berbagai inisiatif pengembangan seni di sejumlah daerah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurut Garin, berkesenian tidak cukup hanya menghasilkan karya. Seorang seniman juga memiliki tanggung jawab merawat ekosistem, berbagi pengetahuan, dan terus menyemai generasi baru.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Karena itu, peringatan 45 tahun perjalanan kreatifnya tidak dipandang sebagai penutup perjalanan, melainkan hanya sepotong peta dari proses yang masih terus berlangsung.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Perayaan 45 tahun hanyalah peta kecil dari sebuah kepulauan bernama Indonesia yang terus berubah. Tidak akan habis dijelajahi dan dikritisi, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk terus merawat tanaman, yaitu karya yang berkualitas, sekaligus melakukan persemaian ide dan bakat-bakat baru,&#8221; ujar Garin.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pameran arsip 45 tahun Garin Nugroho pun menjadi penanda perjalanan tersebut\u2014jejak seorang &#8220;peladang berpindah&#8221; yang terus membaca Indonesia melalui karya, kolaborasi, dan upaya merawat ekosistem kebudayaan di negeri kepulauan.<\/p>\n<h6>Ikuti Berita dan Artikel lain di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\"><strong>Google News<\/strong><\/a><\/h6>\n<h6><strong>Reporter: A.S. Adam | Editor: A.S. Adam<\/strong><br \/>\nCopyright \u00a9 Fornews.co 2016-2026. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JOGJA, fornews.co \u2013 Pengelolaan arsip masih menjadi persoalan mendasar di Indonesia. Padahal, arsip merupakan jejak yang merekam capaian, reputasi, sekaligus perjalanan intelektual seseorang maupun sebuah bangsa. Berangkat dari kegelisahan itu, pameran &#8220;Archaivepelago: Jalan Persemaian Garin Nugroho \u2013 45 Tahun Merekam Indonesia&#8221; diselenggarakan sebagai ruang yang menghadirkan arsip bukan hanya dokumentasi, melainkan sumber pengetahuan dan refleksi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":92896,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[29738,29740,29739,29737,25344],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/06\/archivepelago-garin-3.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-oaf","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92891"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92891"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92891\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92901,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92891\/revisions\/92901"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92891"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92891"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92891"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}