
{"id":93001,"date":"2026-07-11T07:41:15","date_gmt":"2026-07-11T00:41:15","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=93001"},"modified":"2026-07-11T07:44:09","modified_gmt":"2026-07-11T00:44:09","slug":"seabad-trubus-soedarsono-pameran-daulat-sampah-maestro-seni-rupa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/seabad-trubus-soedarsono-pameran-daulat-sampah-maestro-seni-rupa-indonesia\/","title":{"rendered":"Seabad Trubus Soedarsono, Pameran &#8220;Daulat Sampah&#8221; Maestro Seni Rupa Indonesia"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>JOGJA, fornews.co <\/strong>\u2013 Tepat seabad setelah kelahirannya, nama <strong>Trubus Soedarsono<\/strong> kembali dihadirkan ke ruang <em><strong>Seabad Trubus Soedarsono, Pameran &#8220;Daulat Sampah&#8221; Maestro Seni Rupa Indonesia<\/strong> <\/em>publik melalui pameran yang mengajak publik membaca ulang sejarah seni rupa Indonesia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pameran <em><strong>&#8220;Daulat Sampah: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo&#8221;<\/strong><\/em> digelar di Galeri Seni Taman Budaya Kulon Progo (TBKP), 11\u201320 Juli 2026, sebagai penanda 100 tahun kelahiran maestro asal Wates sekaligus mengenang 100 hari wafatnya pamong seni Kulon Progo, Sujarwo.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di balik pameran tersebut tersimpan ikhtiar besar mengembalikan Trubus Soedarsono ke posisi yang layak dalam sejarah seni rupa nasional.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Meski dikenal sebagai salah satu perupa realisme naturalis Indonesia yang meninggalkan karya-karya monumental, nama Trubus selama bertahun-tahun relatif tenggelam dalam narasi sejarah seni Indonesia akibat kuatnya dinamika politik yang melingkupi zamannya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kurator pameran, <strong>Jajang R Kawentar<\/strong>, menilai momentum seabad Trubus menjadi saat yang tepat untuk memisahkan pencapaian artistik seorang seniman dari tarik-menarik politik masa lalu.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Sudah waktunya publik melihat Trubus sebagai maestro yang memberikan sumbangan besar bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Karya-karyanya adalah warisan budaya yang berbicara tentang kemanusiaan, bukan sekadar catatan sejarah politik,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lahir di Wates, Kulon Progo, pada 23 April 1926, Trubus Soedarsono dikenal sebagai pelukis dan pematung dengan penguasaan anatomi manusia yang sangat kuat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kemampuan Trubus menempatkan figur manusia secara realistis membuat karya-karyanya mendapat perhatian Presiden <strong>Soekarno<\/strong>, yang kemudian mengoleksi sejumlah lukisannya untuk Istana Kepresidenan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Nama Trubus juga tercatat dalam sejarah seni patung Indonesia melalui keterlibatannya bersama maestro <strong>Edhi Sunarso<\/strong> dalam pengerjaan Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, salah satu ikon paling penting yang dibangun menjelang penyelenggaraan Asian Games 1962.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Bagi banyak pengamat seni, Trubus merupakan salah satu representasi penting seni realisme Indonesia yang menempatkan manusia biasa sebagai subjek utama. Karya-karyanya menggambarkan kehidupan rakyat dengan pendekatan yang jujur, kuat secara teknis, dan sarat nilai kemanusiaan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Semangat itulah yang menjadi benang merah pameran &#8220;Daulat Sampah&#8221;. Melalui karya puluhan seniman lintas generasi, pihak penyelenggara ingin menunjukkan bahwa nilai perjuangan Trubus masih relevan bagi perkembangan seni rupa Indonesia hari ini.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Namun pameran ini tidak hanya berbicara tentang Trubus, namun, juga menghadirkannya sebagai penghormatan kepada Sujarwo, sosok yang selama puluhan tahun menjadi denyut kehidupan seni di Kulon Progo.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Bagi komunitas seni, Sujarwo bukan hanya birokrat kebudayaan atau pendidik tetapi lebih dikenal sebagai pamong yang hadir langsung mendampingi para seniman, mulai dari proses latihan, pementasan, pameran hingga memperjuangkan ruang berekspresi bagi komunitas seni.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tidak sedikit seniman yang mengenangnya sebagai figur yang rela bekerja tanpa pamrih demi memastikan kesenian tetap hidup di Bumi Binangun.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kepergian Sujarwo seratus hari lalu meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Karena itu, pameran ini merupakan penghormatan terhadap Trubus dan Sujarwo sebagai simbol bahwa seni besar hanya dapat bertahan jika lahir dari karya para maestro sekaligus dirawat oleh orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk kebudayaan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pengampu Daulat Sampah Kulon Progo, Teguh Paino, mengatakan pembukaan pameran akan berlangsung Sabtu, 11 Juli, pukul 10.00 WIB dan dibuka oleh kurator sekaligus dosen ISI Jogjakarta, <strong>Rain Rosidi, S.Sn., M.Sn.<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Pameran ini akan diramaikan oleh puluhan seniman lokal Kulon Progo serta partisipan dari luar kota. Kami ingin menghadirkan dialog visual lintas generasi yang merespons napas perjuangan Trubus dan ketulusan pengabdian Pak Sujarwo,&#8221; kata Teguh.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lebih dari 60 seniman ambil bagian dalam pameran tersebut, di antaranya <strong>Adi Maryanto, Antonius Rulli, Ariswan Adhitama, Bay Art, Deden FG, Hambali, Irfan Kuswara, Leo Vertigo, Maryadi, MokoJepe, Nugrahanto Widodo, Oskar Matano, Sartono Ston, Sunardi, Suryana Penthul, Teguh Paino, Tri Winanto, Wisnu Harjuno, Retno Aris, Arief Sayekti<\/strong>, <strong>Suhardi<\/strong>, serta puluhan perupa lainnya dari Kulon Progo dan berbagai daerah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurut Jajang, tema &#8220;Daulat Sampah&#8221; dipilih sebagai metafora bahwa sesuatu yang kerap dianggap tersisih atau terlupakan sesungguhnya masih menyimpan nilai yang sangat penting.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Gagasan itu menjadi simbol upaya mengangkat kembali jejak Trubus Soedarsono yang sempat memudar dalam ingatan publik, sekaligus meneruskan api pengabdian Sujarwo yang terus hidup melalui karya dan dedikasi generasi penerus.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Melalui &#8216;Daulat Sampah&#8217;, kita tidak sedang meratapi kehilangan. Kita sedang merayakan keteguhan garis kuas Trubus dan memastikan api pengabdian yang dinyalakan Pak Sujarwo tetap menyala di hati para seniman,&#8221; kata Jajang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pameran ini terbuka bagi masyarakat umum, akademisi, pelajar, kolektor, komunitas seni, hingga wisatawan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lebih dari hanya sebatas ruang apresiasi karya, &#8220;Daulat Sampah&#8221; diharapkan menjadi momentum memulihkan ingatan sejarah sekaligus menegaskan bahwa Kulon Progo bukan hanya tanah kelahiran seorang maestro, tetapi juga ruang yang terus melahirkan dan merawat kehidupan seni rupa Indonesia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ikuti Berita dan Artikel lain di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\"><strong>Google News<\/strong><\/a><\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>Reporter: A.S. Adam | Editor: A.S. Adam<\/strong> Copyright \u00a9 Fornews.co 2016-2026. All rights reserved.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JOGJA, fornews.co \u2013 Tepat seabad setelah kelahirannya, nama Trubus Soedarsono kembali dihadirkan ke ruang Seabad Trubus Soedarsono, Pameran &#8220;Daulat Sampah&#8221; Maestro Seni Rupa Indonesia publik melalui pameran yang mengajak publik membaca ulang sejarah seni rupa Indonesia. Pameran &#8220;Daulat Sampah: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo&#8221; digelar di Galeri Seni [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":93002,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[28317,25344,16394,23381,29768],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/07\/20260711_073616.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-oc1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93001"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93001"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93001\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93005,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93001\/revisions\/93005"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/93002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}