
{"id":93209,"date":"2026-08-16T11:45:27","date_gmt":"2026-08-16T04:45:27","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=93209"},"modified":"2026-08-16T11:45:27","modified_gmt":"2026-08-16T04:45:27","slug":"pameran-merdeka-merawat-kebhinekaan-dan-kesetaraan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/pameran-merdeka-merawat-kebhinekaan-dan-kesetaraan\/","title":{"rendered":"Pameran Merdeka Merawat Kebhinekaan dan Kesetaraan"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>JOGJA, fornews.co<\/strong> \u2014 Di tengah situasi sosial yang dinilai semakin penuh ketegangan, seni tidak hanya hadir sebagai ruang estetika. Seni dapat menjadi ruang untuk mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda, mencairkan ketegangan, dan merawat rasa kebangsaan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pandangan itu disampaikan Profesor M Dwi Marianto, kurator Pameran Merdeka yang dibuka pada Sabtu sore, 15 Agustus 2026, kepada <em><strong>fornews.co<\/strong><\/em> di kawasan heritage Sagan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurutnya, kekuatan utama pameran bukan semata-mata terletak pada bagus atau tidaknya sebuah karya, melainkan pada kemampuannya menyatukan berbagai latar belakang melalui seni.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cYang paling penting adalah menyatukan orang dari berbagai macam latar belakang. Kalau seni itu berbeda, justru membuat karya menjadi dinamis. Kontras dibutuhkan dalam seni,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dwi menilai keberagaman peserta Pameran Merdeka menjadi salah satu kekuatan acara tersebut.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Seniman yang terlibat tidak hanya berasal dari Jogja, namun juga datang dari sejumlah daerah, termasuk Kalimantan dan Sumatra.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pertemuan para seniman itu, menurut Dwi, tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan reuni bagi para pelaku seni.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cOrang di seni itu senang kalau berkumpul. Jadi bisa menjadi ajang reuni,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lebih dari itu, Dwi melihat kegiatan semacam Pameran Merdeka memiliki arti penting dalam situasi sosial yang menurutnya sedang mengalami kegamangan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pertemuan melalui seni dinilai dapat menjadi semacam ruang untuk menurunkan ketegangan yang terakumulasi di masyarakat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cUntuk menjadi optimistis itu susah. Untuk menjadi senang itu juga susah. Acara seperti ini membuat tensi yang sudah terakumulasi mulai cair dan kendor lagi, supaya kita bisa berpikir waras dan bisa ketawa,\u201d katanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kebhinekaan harus Berujung Kesetaraan<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pameran Merdeka yang digelar menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia juga dinilai memiliki relevansi kuat dengan momentum 17 Agustus.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dwi mengatakan, kemerdekaan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai perayaan atas keberagaman. Menurut dia, di balik kebhinekaan terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni kesetaraan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cDalam kebhinekaan sebenarnya ada yang kurang. Jangan cuma kebhinekaan, tetapi harus ada kesetaraan. Itu yang belum banyak,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ia melihat masyarakat masih kerap terjebak pada pembelahan \u201corang sini\u201d dan \u201corang sana\u201d, \u201ckita\u201d dan \u201cmereka\u201d. Cara pandang semacam itu menunjukkan bahwa keberagaman belum sepenuhnya diikuti dengan kesetaraan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Karena itu, momentum kemerdekaan seharusnya menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali makna hidup bersama sebagai bangsa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cCoba upayakan melihat dan merefleksikan bahwa kebhinekaan itu tidak cukup. Harus ada kesetaraan,\u201d katanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dwi juga mengingatkan bahwa makna penjajahan pada masa kini telah mengalami perubahan. Jika dahulu penjajahan identik dengan kekuatan dari luar, ancaman terhadap persatuan bangsa saat ini justru dapat muncul dari dalam masyarakat sendiri.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cDulu penjajahan seakan-akan orang dari luar. Ternyata sekarang yang menjadi ancaman justru saudara sendiri. Itu yang paling bahaya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurut dia, jika ketegangan sosial semacam itu dibiarkan tanpa ruang dialog dan perjumpaan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi konflik yang lebih serius.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Karena itu, ia berharap Pameran Merdeka tidak berhenti sebagai kegiatan seni, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya mencairkan ketegangan sosial.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cSemoga pameran ini, nanti pameran lain atau kegiatan yang lain, bisa membuat ketegangan yang memuncak itu mencair lagi,\u201d katanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Hotel Berkewajiban Memajang Karya Seni<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di sisi lain, Dwi menilai ekosistem seni di Jogja sebenarnya memiliki potensi besar. Seniman dinilai produktif dan kreatif, tetapi masih membutuhkan sistem yang mampu menopang keberlanjutan karya mereka, terutama dalam aspek pemasaran.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cYang belum adalah sistem untuk marketing. Ini juga penting supaya seniman tidak sendirian, tetapi disokong oleh sistem,\u201d katanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dwi mencontohkan kebijakan di Jakarta yang menurutnya telah memberikan ruang bagi karya seni untuk hadir di ruang-ruang publik dan komersial. Salah satunya melalui kewajiban tertentu bagi hotel untuk memajang karya atau unsur seni yang berkaitan dengan budaya lokal.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurut Dwi, pola semacam itu dapat menjadi salah satu contoh bagaimana pemerintah maupun sektor swasta membangun ekosistem yang memungkinkan seniman tidak hanya berkarya, tetapi juga memperoleh ruang ekonomi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Bagi Dwi, dukungan terhadap seniman tidak cukup berhenti pada penyelenggaraan pameran. Diperlukan sistem yang membuat karya seni memiliki pasar dan seniman memperoleh keberlanjutan hidup dari proses kreatifnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cSeniman jangan dibiarkan hidup atau mati sendiri. Harus ada sistem yang menyokong,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pada akhirnya, Pameran Merdeka diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seni menyambut Hari Kemerdekaan. Lebih jauh, pameran tersebut dapat menjadi ruang perjumpaan untuk merawat rasa kebangsaan, mempertemukan perbedaan, dan mendorong kesetaraan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sebab, bagi Dwi, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat untuk hidup bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ikuti Berita dan Artikel lain di Google News<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Reporter: A.S. Adam | Editor: A.S. Adam<br \/>\nCopyright \u00a9 <a href=\"http:\/\/Fornews.co\">Fornews.co<\/a> <a href=\"tel:20162026\">2016-2026<\/a>. All rights reserved.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\">https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JOGJA, fornews.co \u2014 Di tengah situasi sosial yang dinilai semakin penuh ketegangan, seni tidak hanya hadir sebagai ruang estetika. Seni dapat menjadi ruang untuk mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda, mencairkan ketegangan, dan merawat rasa kebangsaan. Pandangan itu disampaikan Profesor M Dwi Marianto, kurator Pameran Merdeka yang dibuka pada Sabtu sore, 15 Agustus 2026, kepada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":93210,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[29850,25344,28348],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/08\/20260816_113620.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-ofn","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93209"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93209"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93209\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93211,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93209\/revisions\/93211"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/93210"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93209"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93209"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93209"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}