JAKARTA, fornews.co — Gejolak geopolitik global kembali mengguncang pasar keuangan. Ketegangan di Timur Tengah, volatilitas komoditas, serta perubahan arah kebijakan moneter negara maju membentuk ekosistem perekonomian yang menyeluruh berpontesi mempengaruhi nilai tukar.
Namun Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai ketahanan mata uang nasional masih berada pada jalur yang relatif stabil, meskipun dunia menghadapi tekanan geopolitik yang tidak ringan.
“Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau dilihat betul, setiap perang rupiah hanya terdepresiasi sekitar 0,3. Artinya daya tahannya cukup baik,” ujar Purbaya di Jakarta, Jum’at kemarin.
Menurutnya, persepsi yang menyebut rupiah berada dalam kondisi sangat buruk tidak sepenuhnya sejalan dengan data yang tersedia di pasar keuangan.
Pernyataan tersebut menyoroti satu hal penting terhadap perbedaan antara persepsi masyarakat dan pemahaman berbasis indikator pasar.
Dalam ekosistem keuangan global, penilaian terhadap stabilitas perekonomian tidak hanya dilihat dari pergerakan nilai tukar harian, tetapi juga dari ukuran risiko dan respon investor.
Salah satu indikator yang menjadi rujukan adalah Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun.
Instrumen itu sering digunakan investor internasional untuk menilai tingkat risiko suatu negara. Hingga kini, pergerakannya dinilai masih relatif stabil.
Ukuran lain terlihat dari selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Data menunjukkan bahwa penyebaran tersebut bergerak dari sekitar 240 basis poin pada Januari 2025 menjadi sekitar 243 basis poin saat ini—perubahan yang sangat terbatas di tengah situasi global yang penuh tekanan.
Bagi pelaku pasar, indikator stabilitas tersebut sering dibaca sebagai tanda bahwa fondasi ekonomi tetap dipercaya. Logikanya sederhana bahwa dana hanya ditempatkan di negara yang dinilai memiliki stabilitas prospek dan pengelolaan fiskal yang terjamin.
Arus modal pada Maret juga menampilkan dinamika yang menarik. Pasar obligasi pemerintah mencatat aliran keluar sekitar Rp0,7 triliun. Namun pada saat yang sama, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru menerima dana masuk sekitar Rp2,2 triliun. Pasar saham domestik juga mengalami arus masuk dengan nilai yang hampir sama.
Pergerakan ini menggambarkan bahwa investor tidak meninggalkan pasar Indonesia secara serempak. Modal dipindahkan antar instrumen, mengikuti strategi pengelolaan risiko dan peluang imbal hasil.
Bagi pemerintah, kondisi tersebut menunjukkan pasar masih memandang ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang mampu.
Purbaya bahkan merasa bahwa investor yang benar-benar menempatkan dana cenderung membaca situasi secara lebih rasional dibandingkan sebagian komentar yang berkembang di ruang publik.
Di sisi lain, dinamika ini tetap mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dianggap selesai. Ketahanan rupiah sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal, koordinasi dengan otoritas moneter, serta kemampuan menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Dalam perekonomian global yang semakin terhubung, nilai tukar bukan hanya angka di layar perdagangan, tetapi mencerminkan persepsi terhadap arah kebijakan, disiplin fiskal, serta kemampuan negara mengelola pemerintahan.
Oleh karena itu, tantangan berikutnya tidak hanya menjaga stabilitas pasar keuangan, namun, juga membangun pemahaman masyarakat bahwa lemahnya mata uang adalah bagian dari dinamika ekonomi terbuka.
“Yang menentukan bukan sekadar naik atau turun, melainkan seberapa kuat fondasi yang menopangnya,” pungkasnya.

















