JAKARTA, fornews.co — Perdebatan tentang penggunaan gawai pada anak mulai bergeser, dari soal kebebasan akses menuju perlindungan jangka panjang terhadap perkembangan otak dan tubuh.
Ha itu terungkap dalam kegiatan buka bersama terkait implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) dan Peraturan Menkomdigi No 9 Tahun 2026 di Jakarta, Selasa, 17 Maret.
Sejumlah pakar, akademisi dan pemangku kepentingan, mengingatkan dampak dari penggunaan gawai secara berlebihan tidak selalu terlihat langsung, tetapi bekerja diam-diam dan berpotensi menetap hingga dewasa.

Dokter anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, Tuty Herawati, menekankan bahwa paparan layar berlebihan bukan hanya persoalan perilaku, tetapi juga menyentuh sistem biologis anak.
“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” ujarnya.
Dijelaskan, pada usia 5 hingga 15 tahun merupakan fase penting pertumbuhan. Ketika periode ini didominasi layar tanpa keseimbangan aktivitas lain, proses perkembangan berisiko terganggu. Namun, kesadaran orang tua terhadap hal ini masih terbatas.
“Tidak cukup sekali disampaikan. Harus ada dialog yang setara agar orang tua memahami bahwa ini bukan sekadar soal membatasi, tetapi melindungi anak dari dampak jangka panjang,” jelas Tuty.
Risiko tersebut tidak terjadi secara seragam. Anak yang tetap aktif secara fisik dan memiliki pengalaman di luar ruang cenderung lebih terlindungi.
Sebaliknya, paparan tanpa kendali dalam durasi panjang meningkatkan potensi gangguan postur, otot, hingga fungsi saraf.
“Dampaknya bukan hanya emosional, tetapi juga fisik. Ini yang perlu dipahami bersama oleh orang tua,” tegasnya.

Di sisi lain, Guru Besar UI, Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan ancaman yang lebih halus karena terhambatnya perkembangan otak akibat minimnya variasi stimulasi.
Pada masa awal kehidupan, otak anak sangat terbuka terhadap pengalaman. Ketika yang diterima bersifat repetitif, kapasitas kognitif tidak berkembang optimal.
“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” ujarnya.
Ia menggambarkan kondisi “brain drop”, ketika perkembangan otak tidak mencapai potensi maksimal karena kurangnya ragam pengalaman.
“Yang membuat otak berkembang bukan ukuran, tetapi banyaknya koneksi antar-saraf. Koneksi itu terbentuk dari variasi pengalaman dan stimulasi,” jelasnya.
Ketergantungan pada satu jenis konten digital seperti gim atau tayangan berulang justru membatasi pembentukan koneksi tersebut.
Dampaknya bukan hanya pada kemampuan berpikir, tetapi juga kreativitas dan keterampilan sosial.
Dalam konteks ini, penguatan kebijakan seperti PP Tunas menjadi penting sebagai pemicu kesadaran publik. Namun, perubahan nyata bergantung pada praktik sehari-hari di rumah.
Pengaturan penggunaan gawai tidak cukup berhenti pada pembatasan waktu, tetapi perlu diimbangi dengan pengalaman nyata terhadap interaksi sosial, aktivitas fisik, dan eksplorasi lingkungan.
“Intinya bukan melarang, tetapi mengatur dengan bijak agar anak tetap sehat, baik secara fisik maupun perkembangan secara keseluruhan,” kata Tuty.
Rose Mini menegaskan arah yang perlu ditempuh. Anak perlu pengalaman yang beragam agar koneksi otaknya berkembang optimal. Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi.
Pesan para ahli ini memperjelas satu hal bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh akses teknologi, tetapi oleh kualitas pendampingan dan keberagaman pengalaman yang mereka terima setiap hari.

















