JOGJA, fornews.co – Kompetisi Olimpiade Layang-Layang Nasional (OLLANESIA) dalam rangkaian Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 tidak hanya menjadi ajang adu kreativitas pelajar.
Di balik setiap layang-layang yang mengudara, tersimpan pengetahuan tradisional, seni, hingga ilmu aerodinamika yang dinilai layak diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan.
Hal itu disampaikan Dr. Dra. Koniherawati, S.Sn., M.A. akrab disapa Koni, dosen Program Studi Desain Produk (Despro), Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogja.
Menurutnya, sejarah layang-layang di Nusantara bahkan diyakini sudah ada sejak lama. Ia menyontohkan layangan dari Sulawesi yang baru diketahui setelah mendalami berbagai literatur dan berinteraksi dengan komunitas layang-layang di Indonesia.
“Setelah bergabung dengan komunitas layang-layang, saya mengetahui ada museum layang-layang di Jakarta dan membaca berbagai buku. Dari situ saya menemukan bahwa jejak layang-layang tertua di Nusantara salah satunya berasal dari Sulawesi,” ujarnya kepada fornews.co di JIKF 2026, Ahad siang.
Salah satu juri lomba OLLANESIA itu menilai layang-layang memiliki nilai budaya dan ilmu pengetahuan jauh melampaui fungsinya sebagai permainan tradisional.
Koni menjelaskan, temuan di Sulawesi itu diperkuat oleh lukisan prasejarah di kawasan Leang-Leang yang menggambarkan manusia sedang memainkan layang-layang. Dalam tradisi masyarakat Sulawesi, layang-layang juga menjadi bagian dari ritual syukur usai panen.
“Layang-layang diterbangkan selama tujuh hingga sepuluh hari tanpa diturunkan. Materialnya berasal dari tanaman lokal yang tahan terhadap perubahan cuaca siang dan malam. Itu menunjukkan masyarakat kita sejak dulu sudah memiliki pengetahuan material yang luar biasa,” ungkapnya.
Koni menilai kekayaan pengetahuan tersebut belum banyak terdokumentasikan karena lebih banyak diwariskan secara lisan.
Ia menyebut para perajin tradisional telah memahami karakter bambu terbaik untuk kerangka layang-layang, waktu penebangan yang tepat, teknik pengawetan, hingga cara memilih arah serat kain agar layang-layang mampu terbang stabil.
“Semua itu adalah ilmu tradisional. Mereka mungkin tidak mengenal istilah aerodinamika, tetapi praktiknya sudah mereka kuasai sejak lama,” ujarnya.
Menurut Koni, dalam kompetisi OLLANESIA di JIKF 2026, aspek yang dinilai tidak hanya keindahan visual, tetapi juga kualitas konstruksi.
Kerangka harus simetris, ikatan kuat, keseimbangan terjaga, dan arah pemasangan kain harus tepat agar mampu menghadapi tekanan angin.
“Kami melihat bagaimana konstruksinya, cara mengikat rangka, keseimbangan, sampai arah serat kain. Kesalahan kecil saja bisa membuat layang-layang tidak mampu terbang dengan baik,” jelasnya.
Sebagai dosen seni, Koni mengaku memanfaatkan layang-layang sebagai media pembelajaran tiga dimensi bagi mahasiswa.
Dari sebuah garis di atas kertas, mahasiswa diajak mewujudkannya menjadi karya yang dapat diterbangkan sekaligus mengangkat kekayaan budaya Nusantara melalui motif dan cerita visual.
Ia menilai proses membuat layang-layang juga melatih ketelitian, kesabaran, kreativitas, dan kemampuan memecahkan persoalan secara langsung.
“Membuat layang-layang tidak bisa dikerjakan terburu-buru. Mulai dari memilih bambu, membuat pola, menjahit kain, menentukan kombinasi warna, sampai menghitung keseimbangan semuanya membutuhkan ketelatenan,” katanya.
Di sisi lain, Koni melihat perkembangan layang-layang modern telah membawa seni ini ke ruang publik yang lebih luas. Berbeda dengan lukisan yang hanya dapat dinikmati di galeri, karya layang-layang justru dapat disaksikan ribuan orang secara gratis di ruang terbuka.
“Itulah yang membuat saya tertarik. Karya seni ini langsung berinteraksi dengan masyarakat. Tidak perlu masuk museum atau membeli tiket galeri untuk menikmatinya,” ujarnya.
Karena itu, ia mendukung upaya komunitas layang-layang agar seni membuat layang-layang dapat masuk dalam kurikulum pendidikan sebagai bagian dari pembelajaran seni, budaya, sains, dan kearifan lokal.
Menurut Koni, melalui layang-layang, peserta didik tidak hanya belajar membuat benda yang bisa terbang, namun juga memahami sejarah, budaya, teknologi tradisional, hingga identitas bangsa.
“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Layang-layang adalah salah satu media untuk mengenalkan Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda sekaligus melestarikan pengetahuan tradisional yang selama ini belum banyak terdokumentasi,” pungkasnya.
















