JOGJA, fornews.co – Jogjakarta International Kite Festival (JIKF) 2026 mendorong regenerasi pelayang muda melalui program ekstrakurikuler Kriya Reka Rakit Bambu dan Ragam Hias Layang-Layang di SMK.
Program yang dikembangkan Angkasa Satu bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui SMK Bisa ini mengajarkan siswa merancang, merakit, hingga menerbangkan layang-layang dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM).
Program Director Angkasa Satu, Rizal Rusyadi, mengatakan uji coba telah dilakukan di dua SMK di Jogjakarta. Guru dilatih sebagai pendamping, sementara siswa mempelajari desain, teknik penerbangan, material, hingga peluang industri layang-layang. Karya mereka akan diterbangkan pada JIKF 2026 pada 11 Juli.
Menurut Rizal, program ini menjawab tantangan regenerasi pelayang sekaligus membuka peluang industri. Permintaan pasar Eropa terhadap layang-layang terus meningkat, namun belum sepenuhnya terpenuhi.
“Indonesia memiliki peluang besar jika mampu memenuhi standar bahan baku, teknik produksi, dan kebutuhan pasar internasional,” ujarnya.
Jika uji coba berhasil, program akan diperluas ke 12 SMK di Jawa, Bali, Sumatra, dan Kalimantan.
Selain itu, Angkasa Satu juga menyiapkan film dokumenter tentang budaya layang-layang Nusantara sebagai upaya pelestarian sekaligus memperkuat nilai ekonomi dan budaya layang-layang bagi generasi muda.
















