JOGJA, fornews.co — Peringatan Hari Kebudayaan tahun 2025 merupakan momentum bersejarah sebagai pilar pembangunan bangsa.
Tanggal 17 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kebudayaan melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 162/M/2025, bertepatan dengan hari lahir semboyan Bhineka Tunggal Ika dan penandatanganan peraturan pemerintah tentang lambang negara Garuda Pancasila oleh Presiden Soekarno pada 1951.
Penetapan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap peran strategis kebudayaan dalam memperkuat jati diri bangsa dan menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia.
Dengan tema “Merayakan keberagaman”, kegiatan ini menghadirkan beragam program yang menegaskan semangat Bhineka Tunggal Ika melalui pementasan, dialog, pameran, dan kolaborasi seni lintas tradisi.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, dengan dukungan lintas direktorat, lembaga budaya, akademisi, seniman, dan masyarakat.
Sejumlah pihak turut berperan, di antaranya Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) yang menampilkan kolaborasi seni wayang kulit bersama seniman kethoprak Jogjakarta, serta Herjuno Pramariza Fadiansyah sebagai dalang milenial yang membawa semangat regenerasi dalam seni pewayangan.

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 16-18 Oktober 2025, meliputi:
- 16 Oktober: Syukuran dan seremonial pembukaan Hari Kebudayaan di Plaza Barat Museum Benteng Vredeburg, dengan menggelar ritus berupa Ruwat Nusantara. Ritus ini melibatkan Masyarakat Adat dan Penghayat.
- 17 Oktober: Pameran Warisan Budaya Nusantara yang menampilkan berbagai artefak, replika, dan karya warisan budaya Nusantara yang mencerminkan perjalanan sejarah peradaban bangsa berjudul “Kronik Ragam Budaya Indonesia”, Lokakarya Pusaka Budaya Nusantara berupa topeng, tenun, pencak silat praktis dan tatah sungging wayang, Karnaval Bhineka Tunggal Ika di kawasan Malioboro, serta Pagelaran Kolaborasi Wayang Kulit dan Kethoprak di Monumen SO 1 Maret.
- 18 Oktober: Dialog Hari Kebudayaan dengan tema Bhineka Tunggal Ika dan Panggung Seni Budaya Nusantara yang menampilkan Yogyakarta Royal Orchestra yang berkolaborasi dengan seniman lainnya, serta sanggar-sanggar binaan dari seluruh Indonesia.

Seluruh rangkaian kegiatan berpusat di Kota Jogjakarta dengan beberapa titik utama pelaksanaan seperti Museum Benteng Vredeburg (Plaza Barat dan Gedung D), Kawasan Malioboro dan Titik 0 Km Jogjakarta, Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, dan Hotel Tasneem Mandira Baruga Ballroom.
Perayaan ini dikemas dengan kolaboratif dan pasrtisipatif, menggabungkan unsur ritual, edukasi, dan pertunjukan publik.
Acara dimulai dengan Ruwatan Nusantara dan doa lintas budaya, dilanjutkan dengan pemetasan teaterikal, orasi kebudayaan, karnaval budaya dari Sabang Sampai Merauke, hingga kolaborasi seni tradisi dan kontemporer.
Partisipasi masyarakat adat, pelajar, dan seniman, menjadikan kegiatan ini bukan hanya seremonial, namun, juga ruang perjumpaan budaya yang hidup dan inklusif.
















