Penulis oleh A.S. Adam
SUPARJO membangun monumen penghormatan kepada pemuda Rejodani yang gugur dalam pertempuran.
Monumen yang dibangun di halaman Masjid Sulthony, Desa Rejodani, Sleman, mengisyaratkan untuk menolak lupa terhadap sejarah.
Masjid Sulthony berjarak 950 meter dari monumen Medan Laga Rejodani TP BE-17 (Monumen Tentara Pelajar) Taman Sariharjo.
Dalam monumen itu terukir 7 nama pemuda yang gugur dalam pertempuran dan 7 nama pemuda yang hilang pada pertempuran.
Salah satu yang gugur dalam pertempuran adalah kakak kandung Suparjo bernama Mohamad Suhadi. Jenazahnya dimakamkan di sisi Barat Masjid.
Namun, salah seorang pemuda Rejodani bernama Usman tidak ditulis karena termasuk anggota tentara pelajar yang gugur di Kaliurang.
Baca: Monumen Tentara Pelajar di Rejodani Sleman
“Sebenarnya yang hilang ada delapan, tapi yang ditulis hanya tujuh,” ungkap Suparjo.
Di monumen juga tertera nama Gunandi dan Iskandar. Mereka berdua adalah kakak dan adik yang turut bertempur dan gugur.
Gunandi dibunuh Belanda di Brayut.
Semula, Belanda mengira Gunandi sudah mati. Perutnya terkoyak perluru dengan usus terburai. Ia mengerang kesakitan. Bukan didatangkan medis untuk mengobati Gunandi, Belanda malah menembak kepalanya.
Sedangkan Iskandar, tertangkap tentara Belanda di Selatan pasar Rejodani. Ia lantas dibawa ke Beran.
Namun, tentara Belanda membunuhnya dalam perjalanan ke markas Belanda di Beran. Iskandar dibunuh di sebelah Barat jembatan Denggung.


Begitu pula pemuda Rejodani bernama Baidowi yang tertangkap dan dibunuh tentara Belanda di Ambarawa. Ia tertinggal di Pos Ambarawa ketika terjadi penyerangan.
Sedangkan Fan Udrus, gugur di Timur Prambanan saat bertempur menghadang Belanda.
Ia gugur dalam peperangan melawan Belanda yang keras kepala memaksa masuk ke Jogja.
Jogja pada waktu berstatus Ibu Kota Negara Republik Indonesia.
Seluruh pemuda Rejodani itu rata-rata berusia 20 tahun.
Dahulu di masa penjajahan Belanda, kata Suparjo, Rejodani kerap disebut sebagai Kaumannya Sleman. Ini karena banyak kader Muhammadiyah di Rejodani.

Suparjo mendengar kabar pemuda Kauman dan Danurejan menyerang Jepang di Kotabaru. Mereka akan merampas senjata tentara Jepang.
Namun, para pemuda mendapat perlawanan keras dari Jepang menyebabkan 29 pemuda gugur.
Untuk mengenang peristiwa itu Wakil Presiden RI pertama, Mohamad Hatta, mendirikan Masjid Syuhada sebagai monumen pengingat gugurnya 29 pemuda dalam pertempuran di Kotabaru.

Mendengar banyak pemuda di kota menyerang markas-markas Jepang menyebabkan darah para pemuda Rejodani memuncak!
Sore hari mereka lantas bergeser ke Kota turut serta dalam penyerangan markas Jepang termasuk pula yang di Jalan Magelang.
Tapi, mendengar banyak permuda yang gugur di Kotabaru, Ridwan selaku Komandan Pemuda Rejodani membubarkan aksi penyerangan yang melibatkan pemuda Rejodani.
Kata Suparjo, Komandan Ridwan khawatir malah akan semakin banyak yang gugur dalam pertempuran.
Puncaknya, pada 15 Agustus 1945, Jepang di bom atom oleh Amerika.
Kota Heroshima dan Nagasaki lumpuh. Jepang menyerah tanpa syarat. Dilucuti.

Pemuda Rejodani pun atur siasat. Mereka menghubungi preman kampung Gemawang dan Karangjati. Tugas mereka menyirep seluruh tentara Jepang agar para pemuda dapat merampas truk-truk milik Jepang.
Setelah disepakati, malamnya mereka berangkat ke markas Jepang. Preman-preman kampung itu beraksi. Sementara para pemuda mengawasi situasi.
Dua truk dan satu sedan berhasil dirampas. Ditambah amunisi dan senjata, berikut seragam militer.
Hingga pagi hari, seluruh tentara Jepang di markas NKK masih tertidur pulas. Ilmu sirep preman-preman dari dua kampung itu mujarap. Para pemuda berhasil dan selamat.
Dua truk rampasan tentara Jepang lantas dipakai oleh pemuda gabungan dari Rejodani dan Macanan, untuk pergi ke Ambarawa di bawah pimpinan Komarudin yang terkenal tak tembus peluru musuh.

“Suatu ketika saat sholat ashar berjamaah, Komarudin sebagai imam, diberondong peluru oleh Belanda—tidak satupun yang kena,”cerita Suparjo.
Namun, pemuda Rejodani yang tergabung dalam Lasykar Hisbullah bersama pemuda Muhammadiyah Macanan gugur dalam pertempuran di Selatan Semarang.
“Peristiwa itu dikenal dengan Palagan Ambarawa,” ujar Suparjo dengan nada terbata-bata dan mata yang mendung.
Setelah Jepang kalah, setelah Agresi Militer ke-1, pada 19 Desember 1948, Belanda kembali masuk Ibu Kota Negara Republik Indonesia lewat udara menyerang Yogyakarta. (adam)
Copyright © Fornews.co 2023. All rights reserved.
Sebelumnya artikel berjudul: Peristiwa Heroik Pejuang Pemuda Rejodani

















