
PESONA alam di gugusan Tanah Air, mulai dari titik nol kilometer Indonesia di ujung Pulau Sumatera hingga ke ujung Pulau Papua, banyak menawarkan keindahan yang tak pernah membosankan.
Seperti saat berada di belahan Bumi Serambi Mekah. Bagi siapapun yang mengklaim berjiwa traveler, maka begitu banyak destinasi yang harus disinggahi. Karena, kemanapun arah mata memandang alam di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), dan saat belum sempat muncul ungkapan rasa syukur akan indahnya apa yang sudah terlihat, kita akan kembali disuguhkan beragam koleksi perpustakaan outdoors karya yang maha kuasa.
Sekarang mari berkunjung ke Sabang, satu bagian kota terindah NAD. Kota ini berbentuk kepulauan, dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar dengan luas 121 km². Kali ini kami akan mengeksplore Pulau Weh saja, tidak Hopping Island ke pulau-pulau lainnya. Ini adalah kunjungan kedua dan kami mencari destinasi lain yang tidak begitu turistik tapi menarik untuk spot foto.
Untuk menuju ke kota tersebut, rombongan traveler menumpang kapal cepat Bahari dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. Kapal berangkat pukul 09.30WIB dan sampai di Balohan pukul 10.20WIB. Kapalnya sangat bersih, dilengkapi dengan jaket pelampung di bawah kursi masing-masing penumpang. Ini hal pertama yang selalu saya cek jika menumpang kapal laut. Saat peak season, tarif tiket disamakan tanpa pembagian kelas yaitu sebesar Rp80.000. Setiba di Balohan, kami dijemput Bang Haris, driver merangkap pemandu selama di Sabang. Lets go!
Nah, jika traveler punya rencana ke Kota Sabang, jangan lewatkan destinasi menarik yang memang harus dikunjungi. Mari cek lokasinya.
Tugu Kilometer Nol Indonesia
Lokasi ini terletak di Hutan Wisata Sabang, Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya. Sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Tugu ini sedang dalam tahap penyelesaian renovasi.
Setelah berkunjung ke sini, traveler bisa mengajukan pembuatan Sertifikat Nol Indonesia di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang, di Jalan Diponegoro No 1. Pemerintah setempat berencana membuat kantor didekat tugu, yang akan melayani pengurusan sertifikat di lokasi wisata. Hal ini untuk mencegah seseorang memalsukan perjalanannya ke Titik Nol Kilometer Sabang, yang selama ini marak terjadi. Jangan berpikir mahal, karena harga resmi pembuatan sertifikat saat ini hanya dikenakan biaya Rp20.000/orang.

Pantai Iboih
Pernah membayangkan ingin melihat langsung kecantikan bawah laut yang alami, maka Pantai Iboih akan memberikan semuanya kepada traveler. Air lautnya begitu jernih. Jika menyelam, kita akan disambut oleh ikan-ikan dan terumbu karang yang cantik. Pantai Iboih menjadi salah satu titik snorkling tujuan wisatawan jika ke Sabang.
Goa Sarang Sabang
Kawasan Taman Wisata Goa Sarang ini merupakan milik pribadi warga Sabang. Namun tetap dibuka untuk umum dan tarif masuk kawasan ini hanya Rp5.000/orang. Benar saja, saat baru memasuki kawasan parkirnya, kita sudah disuguhi pemandangan yang ruaaarrr biasa!
Goa Sarang adalah goa alami yang berada dibalik gunung Sabang, dihuni oleh kelelawar buah dan burung walet. Goa Sarang dapat ditempuh melalui jalur darat melewati The Pade Resort, kemudian dilanjutkan melewati destinasi wisata batu kapal dan goa kelelawar. Bagi yang menggunakan jalur darat tidak bisa langsung masuk kedalam goa sarang karena untuk mencapai mulut goa harus berenang atau menggunakan perahu.
Jika ingin melalui jalur laut, kita bisa menggunakan perahu masyarakat setempat atau speadboat yang bisa disewa di Pantai Pasir Putih, atau dari Balohan melewati Gunung Merapi Jaboi dan pemandian air panas Keunekai. Bagi traveler yang ingin menempuh jalur laut, harus didampingi oleh guide yang berpengalaman. Karena Goa Sarang hanya bisa diekplore, jika air laut sedang surut. Air laut yang sedang pasang akan menutup pintu goa.
Jadi, kami memilih jalur darat untuk menuju Goa Sarang. Untuk mencapai goa, kami harus menuruni anak tangga sejauh kurang lebih 120 meter. Ketika mencapai pantai, batu-batu hitam tampak tersusun di tepian, disertai deru ombak yang menampar bebatuan. Kami menjadikan bebatuan sebagai pijakan. Harus hati-hati melangkah di sini, sebaiknya gunakan sepatu kets atau nyeker sekalian.
Sayangnya, ketika beberapa puluh meter lagi kami mendekati gua, Bang Haris memberi tahu bahwa air mulai pasang dan kami harus segera kembali ke atas. Itu artinya kami harus kembali ke sini lagi suatu saat nanti, melihat stalaktit, kelelawar buah dan burung walet di dalam gua.

Pantai Anoi Itam
Setelah dari Goa Sarang, kami melanjutkan perjalanan ke arah kota. Nah, sepanjang perjalanan tersebut, kami menjumpai beberapa spot cantik. Salah satunya pemandangan Pulau Klah dari ketinggian. Ada penjual kelapa muda dan rujak Sabang di sini. Kita bisa menikmati keindahan Pulau Klah yang tepat berada di jantung teluk Sabang, sambil menikmati kelapa muda dan rujak yang pas banget rasa bumbunya.
Destinasi berikutnya adalah Pantai Anoi Itam, yang dalam Bahasa Indonesia berarti pasir hitam. Kilauan pasir hitam yang disapu air laut membuatnya berkilau eksotis. Batu-batu kapur yang berwarna putih di sekelilingnya tampak kontras serta memberi sensasi keindahan tersendiri.

Puncak GT
Puncak Cot Bak Geuthom atau lebih dikenal dengan sebutan Puncak GT menawarkan pemandangan yang indah. Dari puncak akan nampak jalan yang berkelok-kelok, bentangan laut biru dan kapal-kapal di Pelabuhan Balohan. Telah disediakan anjungan bagi wisatawan untuk berfoto di sini atau sekedar menikmati suguhan alam Sabang yang mempesona.
Kawah Gunung Jaboi
Sabang tidak saja menyuguhkan wisata bahari dan kuliner. Ada satu destinasi yang juga menarik untuk dikunjungi, yaitu kawah Gunung Jaboi yang terletak di Gampong Jaboi, Sabang.
Gunung yang masih aktif ini, bisa ditempuh sekitar 15 kilometer dari pusat kota Sabang. Gunung Jaboi memiliki lima kawah yang masih aktif, akibat adanya aktivitas panas bumi. Uap panas dengan aroma belerang menyembur dari ratusan lubang-lubang kecil di tanah. Di kawasan gunung api Jaboi, terdapat sumber air panas dan belerang yang menjadi ciri khas gunung api aktif.
Kawah gunung ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Saat berkunjung ke sini, kami hanya bertemu wisatawan mancanegara yang sedang mengamati aktifitas kawah. Jika Anda suka dengan aktifitas mendaki atau trekking, Anda bisa mendaki sampai kawah kelima. Saya hanya mencapai kawah pertama, karena memang tidak menyiapkan diri untuk mendaki.

Gampong Ie Meulee
Desteni yang satu ini adalah kampung nelayan. Namun, di sini ada pantai tempat nelayan melabuhkan kapal-kapal mereka yang cantik berwarna-warni. Kemudian ada talud, yang berfungsi melindungi perahu-perahu nelayan dari gelombang besar, yang datang dari selat Malaka dan perairan Andaman. Pantai ini juga menjadi tempat bongkar muat hasil tangkapan, pengisian bahan bakar dan logistik.
Sunset di Sabang Fair
Menjelang petang, kami memutuskan untuk menikmati sunset di Sabang Fair. Menunggu matahari kembali ke peraduannya, memberi sensasi tersendiri buat kami dan selalu kami buru. Melihat langit dan laut perlahan mulai jingga, detik-detik saat matahari bersembunyi di balik bukit Sabang adalah sebuah pemandangan yang luar biasa indah.

Sate Gurita
Nah traveler, tidak lengkap jika berwisata ke suatu tempat tanpa menikmati kulinernya. Ada beberapa kuliner Sabang yang sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan, diantaranya Mie Jalak, Mie Sedap, Mie Pingsung dan kue Sabang. Kali ini yang membuat saya penasaran ingin mencoba adalah sate gurita. Saya membayangkan hewan moluska yang cantik ini dibakar utuh, dan pastinya akan sedikit membuat geli ketika melihatnya, ternyata tidak.
Gurita dipotong dadu, ditusukan pada tusuk sate dan dibakar hingga matang. Ada dua pilihan rasa, bumbu kacang dan bumbu Padang. Top banget, dagingnya tidak alot dan tidak tercium bau amis! Harganya Rp15.000/porsi. Mau mencoba?
Saya makan di Sate Gurita Ajo Minang Tanjung di daerah Lhok Panglima. Jika bingung mencari Lhok Panglima, bisa mencoba di Taman Wisata Kuliner Sabang Fair, atau pada pedagang sate gurita lainnya yang bisa kita temui di pusat jajanan kuliner malam Sabang. Oh iya, sate gurita hanya dijual saat sore hingga malam hari.

Tak lengkap jika mengunjungi Sabang, tanpa mencicipi kuliner di Sate Gurita Ajo Minang Tanjung di daerah Lhok Panglima, di Taman Wisata Kuliner Sabang Fair. (foto ivone suryani)
Kedai Kopi
Tak terbantahkan kalau Aceh memang terkenal dengan sebutan Negeri Sejuta Kedai Kopi. Kopi-kopi asal Aceh sudah sangat populer. Racikan yang pas, membuat saya yang awalnya tidak suka kopi jadi ingin mencoba. Jika tetap tak suka kopi, kita bisa mencoba teh tarik atau minuman ringan lainnya. Duduk di kedai kopi sambil mengobrol dan menikmati cemilan ringan sudah menjadi budaya di Aceh, begitu juga di Sabang. Kami menghabiskan malam ini dengan menikmati kopi panas dan mie aceh di De Sagoe Kuphie sambil mengobrol tentang betapa kaya Indonesia.
Selama di Sabang kami menginap di Casa Nemo Beach Resort, sebuah resort yang nyaman di tepi Pantai Sumur Tiga. Konon katanya, disebut Pantai Sumur Tiga karena pantai yang panjang dan berpasir putih halus ini mempunyai tiga buah sumur yang berair tawar padahal letaknya di dekat bibir pantai. Salah satu sumurnya tepat berada di depan cottage yang saya tempati. Setiap malam Minggu, ada live music di sini. Kita bisa menikmatinya sambil makan malam di tepi pantai, bersama keluarga atau sahabat. Bagi yang suka tempat sunyi untuk melarikan diri dari keriuhan kota, saya rekomendasikan tempat ini sebagai alternatif untuk menginap.

Jika Anda tertarik untuk ke Sabang, ada alternatif transportasi untuk menuju ke sana. Anda bisa menggunakan transportasi laut dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh menuju ke Pelabuhan Balohan, Sabang, setiap hari pulang pergi. Tersedia juga penerbangan Garuda Indonesia dua kali dalam seminggu dan Wings Air tiga kali dalam seminggu dari Medan menuju Sabang dan sebaliknya. Ketersediaan jadwal penerbangan dapat dicek pada situs masing-masing maskapai. (ivone suryani/sabang)

















