JAKARTA, fornews.co – Panitia Pelaksana Asian Games (INASGOC) 2018 mengadakan rapat akhir tahun 2017 di markas INASGOC, Wisma Serbaguna, Senayan, Jakarta, Kamis (28/12). Dalam rapat tersebut, INASGOC melakukan evaluasi kinerja keseluruhan terkait persiapan Asian Games 2018.
Dipimpin Wakil Ketua INASGOC, Sjafrie Sjamsoeddin, evaluasi tersebut penting untuk mengukur sejauh mana kinerja yang dilakukan tiga bidang, empat deputi, dan 31 departemen yang ada di INASGOC. Rapat pimpinan itu dihadiri Sekjen INASGOC, Eris Herryanto, Wakil Asisten Keuangan, Suwartomo, Koordinator Perencanaan dan Anggaran, Tjuk Agus Minahasa, Koordinator Pengadaan, Listyanto, Deputy I Harry Warganegara serta beberapa panitia yang mewakili deputi-deputi dan para koordinator dari berbagai departemen.
“Dalam tahun 2017, banyak kegiatan penting dijalankan INASGOC sebagai penyelenggara. Mulai dari countdown di dua kota, pelaksanaan test event lebih dari 30 cabang olahraga yang berjalan lancar, bahkan test event di Palembang mayoritas digelar di competition venue sehingga bukan hanya panpel, tapi kelayakan venue juga diuji coba. Keberhasilan dalam kerja sama sponsor dengan BUMN dan beberapa perusahaan swasta juga menjadi momen penting karena INASGOC mampu meraih pemasukan dari sumber lain,” jelas Sjafrie Sjamsoeddin.
Menurut Sjafrie, untuk menggelar Asian Games 2018 Jakarta, Palembang, INASGOC membutuhkan Rp5,5 triliun. Pemerintah memberikan dukungan lewat APBN sebesar Rp4,95 triliun, sehingga kekurangan Rp540 miliar harus diperoleh dari sponsor. Sejauh ini, prospek mendapatkan dana dari sponsor sangat positif karena enam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkemuka sudah menandatangani komitmen sebagai sponsor utama Asian Games. Ditambah empat perusahaan asal China sebagai prestige dan support sponsor, dan sembilan perusahaan swasta menjalin kerja sama.
Wakil Asisten Keuangan INASGOC, Suwartomo menambahkan, dalam menggunakan uang negara, tingkat penyerapan yang dilakukan INASGOC sangat tinggi. Dari anggaran Rp2 triliun di tahun 2017, alokasi terbesar digunakan untuk kegiatan atau belanja barang, yang kebutuhan anggarannya tahun jamak (multiyears).
“Target penyerapan anggaran tahun 2017 dengan alokasi Rp2 triliun, sampai tanggal 27 Desember mencapai 94%. Penyerapan tersebut dilakukan sejak Juni 2017, sehingga dilakukan akselerasi proses dalam penyerapannya,” jelas Suwartomo.
Adapun dua deputi penting di INASGOC, yakni Deputi I Games Operation dan Deputi III Games Support sejak pertengahan 2017 mengerjakan kegiatan dalam skala besar dan menggunakan anggaran multiyears.
“Mulai dari persiapan broadcasting, opening and closing ceremony, pembelian peralatan timing and scoring, serta penyiapan dukungan IT&T. Biaya sewa venue, kegiatan akreditasi, pengadaan alat olahraga untuk pertandingan, serta penyelenggaraan 45 test event juga menyedot biaya yang tidak kecil. Tahun 2017 merupakan tahun penting dalam persiapan utama Asian Games sebelum memasuki tahun Games Times di 2018,” tambah Koordinator Perencanaan dan Anggaran INASGOC, Tjuk Agus Minahasa.
Menurut Agus, dalam menjalankan penyerapan, INASGOC tetap menjalankan prinsip akuntabilitas dan transparansi agar tidak terjadi penyalahgunaan yang bisa menimbulkan kerugian dalam penggunaan uang negara. Dalam hal ini, INASGOC mendapat pendampingan dan pengawasan dari BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), tim Kejaksaan Agung, dan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) yang memberikan asistensi prosedur pengadaan.
“Berkat pendampingan dan koordinasi pengawasan dengan BPKP, LKPP, dan tim Kejaksaan Agung, kami bisa melakukan banyak kontrak pengadaan barang dan jasa yang memudahkan kinerja INASGOC dalam menjalankan program kerja,” jelas Sjafrie. (ije/rel)
















