Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd. (Pemerhati Kesejarahan dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah)
TAN MALAKA adalah pahlawan kemerdekaan, ideolog, pemikir, dan aktivis yang lahir pada tahun 1897 di Suliki, Sumatera Barat. Semenjak tahun 1921, dia aktif dalam kehidupan politik perburuhan, hingga terlibat pemogokan dan perlawanan buruh di beberapa tempat, yang akibatnya dia pernah dibuang ke Kupang pada tahun 1922.
Sempat berada di Hongkong dan tinggal di asrama milik Nn. Carmen, putri seorang pemberontak Filipina, Tan Malaka lalu berangkat pada awal Juni 1925 menumpang kapal ke negeri itu. Dengan mudah, Tan Malaka mengelabui Emigration Law Amerika Serikat dan tiba sebagai seorang Filipina yang kembali dari negeri asing bernama ‘Elias Fuentes’.[1]
Salah satu Bapak Bangsa Indonesia ini terus berada di Filipina hingga 1927. Tulisan ini akan mengulik buah pikiran Tan Malaka yang cukup menarik mengenai sejarah Filipina, yang disebutnya ‘saudara-saudara kita (bangsa Indonesia) di sebelah utara’.[2] Secara tidak langsung, ia turut mengajak kita menjumpai pengaruh kerajaan Sriwijaya sebagai prototipe ‘negara nasional pertama’ di Indonesia hingga ke utara kawasan Samudera Pasifik.
Kosakata Tagalog dan Indonesia Utara
Dalam buku ‘Dari Penjara ke Penjara’, Tan Malaka menggambarkan persiapan sebelum menuju Filipina, yakni dengan mempelajari bahasa Tagalog dari Nn. Carmen dan ibunya. “…Kalau pelajaran bahasa Jerman dan Inggris bisa saya pelajari dalam dua-tiga bulan, apalagi bahasa Tagalog, yang juga salah satu bahasa suku Indonesia”[3], akunya. Mungkin alangkah baiknya, jika Tan Malaka sambil melengkapi kisah itu dengan mengungkap kemiripan ucapan maupun arti beberapa kosakata Tagalog dan Indonesia, seperti : Salamat (Terima Kasih), Kanan ([arah] Kanan), Apat (Empat), Lima (Lima), Pito & Walo (seperti Pitu & Wolu/angka 7 & 8 dalam bahasa Jawa), Mahal (Mahal), dan Mura (Murah).[4] Itu hanya beberapa contoh dan mungkin lebih banyak lagi.
Pada buku yang sama di awal Bab 12, Tan Malaka membuka pembahasan dengan mengajukan pertanyaan; “Bagaimana keadaan Filipina sekitar 450 tahun terpisah dengan Indonesia Selatan ?. Inilah semestinya pertanyaan yang timbul dalam hati seorang yang mengenal sejarah Indonesia seluruhnya dan seorang penggemar sejarah…Dalam salah satu buku sekolah di Filipina disebutkan The First Indonesian, orang pertama yang mendayung perahu. Hubungan politik dengan Majapahit tertera dalam sejarah Filipina.”[5] Di sini terdapat ketidaklengkapan informasi mengenai judul serta penulis buku sejarah di sekolah Filipina yang dibaca Tan Malaka.
Lalu apakah kata ‘Indonesian’ benar-benar tertulis sedemikian, ataukah distorsi dari istilah Indigenous dari bahasa Inggris maupun Indios sebagaimana penjajah Spanyol menyebut orang setempat ? : keduanya sama-sama memiliki arti ‘Orang Asli’. Meski begitu bukan berarti nama ‘Indonesia’ belum dikenal di era tersebut. Opsi untuk menyebut Kepulauan Hindia dan Melayu sebagai ‘Indonesia’ telah diajukan dalam Journal of the Indian Archipelago and Asia vol.4 (1850) yang terbit di Singapura. Adolf Bastian, seorang dokter kapal asal Jerman mempopulerkan nama ‘Indonesia’. Ia telah menuliskan sejumlah buku, salah satu yang banyak dibaca orang adalah Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884-1894.[6]
Kemungkinan besar memang terjadi distorsi dalam tulisan Tan Malaka, mengingat secara geografis Filipina lebih dekat dengan samudera Pasifik, bukan Hindia. Tapi masih ada informasi lainnya, yakni soal hubungan Filipina dengan kerajaan Majapahit. Buku berjudul ‘Zaman Silam’ yang digunakan selama 22 tahun di sekolah-sekolah dasar Indonesia (1953-1975) karangan Soeroto (wartawan senior dan mantan dosen SSKAD) mengisahkan penaklukan oleh Majapahit di bawah Gajah Mada : “…Yang pertama ditaklukkan ialah Bali. Setelah itu berturut-turut menaklukkan Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, Sumatera, Maluku, dan Semenanjung Melayu hingga ke Campa dan Filipina…”[7] Mengapa nama Filipina ikut disebutkan sebagai salah satu wilayah kekuasaan Majapahit dan apakah terdapat bukti yang jelas mengenai hal ini ?
Majapahit dan Sumpah Palapa Gajah Mada
Sebelum lahirnya karya Soeroto, Muhammad Yamin salah satu pahlawan nasional Indonesia yang terkenal dengan karyanya yakni Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara (pertama kali dicetak tahun 1945), menyebut ‘Daerah yang Delapan’ sebagai tumpah darah Persatuan Indonesia yang diterima sebagai pusaka (warisan) Nusantara di bawah lindungan Majapahit. Dua di antaranya termasuk Tanjungnegara (Kalimantan) dan Udamakatraya (Talaud). Bagi Yamin, sebagai wilayah pinggir Nusantara, Kalimantan dan Talaud ikut mencurahkan pengaruh serta memperoleh perhubungan (interaksi) dengan beberapa wilayah di Filipina yakni :
“…kepulauan Sulu, daerah Lanao dan Caraga di Pulau Mindanao, teluk Manila di daerah Luzon, dan dataran Kotabato dan sungan Agusan. Pulau Cebu, Bohol, Negros, Panai, dan Masbate menerima pengaruh dari selatan (Kalimantan & Talaud-Pen)…”[8]
Berbicara mengenai bukti dari dominasi Majapahit (Jawa) di tanah Filipina, ada beberapa argumen tambahan dari pada hanya kemiripan dengan kosakata Pito & Walo seperti di atas. Menurut Colleen A. Sexton, terdapat elemen budaya Hindu yang masuk ke Filipina akibat kekuasaan Majapahit, contohnya Barong, yakni pakaian kuno yang diadaptasi dari garmen masyarakat Hindu di India selatan.[9] Kemudian, Ensiklopedi Budaya Nasional : Keris dan Senjata Tradisional Lainnya, ikut merekam bahwa Filipina memiliki senjata keris yang disebut Sundang. Meskipun saat ini budaya keris di negeri itu sudah punah.[10] Kerajaan Majapahit yang sempat menyatukan seluruh nusantara, kemungkinan besar turut menyebarkan hasil-hasil kebudayaannya yang berbentuk pakaian maupun senjata.
Akan tetapi, di sini ada hal penting yang harus dilihat dari awal momen sejarah penyatuan Nusantara di bawah Gajah Mada, yang populer disebut sebagai ‘Sumpah Palapa’ (dikumandangkan pada 1336 M). Arkeolog dan sejarawan, Agus Aris Munandar mengungkap, bahwa Gajah Mada dalam sumpahnya seakan-akan mencari tuah dan ‘kekuatan sakti’ dari kerajaan-kerajaan yang mendahului Majapahit (tepatnya ‘legitimasi’-Pen) :
“…Beberapa daerah yang dibidik oleh Gajah Mada tersebut ternyata tempat berkembangnya kerajaan lama, kerajaan terdahulu yang mempunyai sejarah lebih tua dari pada Majapahit. Misalnya Bali, dulu di pulau itu pernah berdiri Kerajaan Balidwipamandala dengan ibu kota Singhadwala milik dinasti Warmadewa (abad ke-8-10). Sunda yang terletak di Jawa bagian barat, dulu di wilayah itu pernah berdiri kerajaan tertua di Tanah Jawa, yaitu Tarumanagara (sekitar abad ke-4-6). Menyusul Tanjungpura yang terletak di Kalimantan. Di pulau itu pernah berdiri kerajaan Kutai kuno dengan rajanya Mulawarmman (abad ke-4-5) dan Palembang di Sumatra Selatan bekas tempat kedudukan Kerajaan Sriwijaya yang berkembang dalam abad ke-8-12…” [11]
Jika kita hubungkan dengan kajian Agus Aris Munandar mengenai usaha Gajah Mada dalam memperoleh warisan legitimasi kerajaan-kerajaan sebelum Majapahit, maka relasi historis-kultural Filipina dan Indonesia bahkan terbukti lebih tua. Justru Sriwijaya-lah sebagai kerajaan maritim yang melengkapi mata rantai keterkaitan sejarah kedua negara.
Sriwijaya : Akar Hubungan Indonesia-Filipina
Buku Philippine History, karangan M.C. Halili menyebut, bahwa Kerajaan Sriwijaya asal Sumatra turut meluaskan pengaruhnya ke kepulauan Filipina.[12] Keyakinan atas kehadiran pengaruh Sriwijaya tak bisa dianggap omong kosong. Hal ini terlihat setelah penemuan Prasasti Keping Tembaga Laguna (900 M), oleh Anton Postma pada tahun 1990 sebagai sumber tertulis paling tua di Filipina, isinya berbahasa Tagalog Lama serta banyak meminjam kata-kata dari bahasa Sansekerta, Melayu Kuno, dan ditulis dengan huruf Jawa Kuno (Kawi). Bukti itu menurut Yves Boquet, seorang profesor Universitas Bourgogne-Prancis, menunjukkan hubungan antara Pulau Luzon dengan Jawa, dan Sumatra terutama Sriwijaya.[13]
Prasasti-prasasti Sriwijaya kebanyakan memakai bahasa Melayu Kuno, namun antara Jawa dan kerajaan ini pernah mengalami keterikatan politik yang erat yaitu di saat masuknya pengaruh Syailendra, sebuah dinasti Budha asal kerajaan Mataram Kuno. Hubungan Syailendra-Sriwijaya diyakini terbentuk akibat perdagangan dan pernikahan, bukan penaklukan.[14] Salah satu buktinya, Prasasti Ligor B peninggalan Sriwijaya yang berangka tahun 775 M, ditulis dalam huruf Kawi (Jawa Kuno-Pen).[15] Karena hubungan itu juga, Balaputradewa yang kalah dalam perang saudara di Jawa kemudian mampu memperoleh takhta di Sriwijaya. Sebaliknya juga, di Jawa juga didapati peninggalan berupa prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno seperti di Sojomerto, Majusrigrha, Dang Pu Hawang Geulis, Gunung Sundoro, Bukateja, Sang Hyang Wintang, dan Kebon Kopi.[16]
Pengaruh Sriwijaya yang tidak hanya membawa corak Melayu namun juga Jawa Kuno, ikut diperkuat dengan adanya orang-orang pendatang yang tiba ke Filipina. Boquet menyebut ‘Orang “Dumpuan’ yakni mereka yang berasal dari Champa, salah satu vassal / taklukan Sriwijaya, tiba di Filipina dari Annam sekitar abad ke-10 M, diikuti oleh Orang “Bajar” yang tiba dari Banjarmasin di Kalimantan, juga merupakan bawahan Sriwijaya.[17]
Tan Malaka memang telah meninggal puluhan tahun sebelum penemuan Prasasti Tembaga Laguna. Tetapi, penemuan arkeologis serta bukti-bukti linguistik itu memperkuat pandangan dalam tulisannya yang menilai kesamaan fisik orang-orang di Hindia Belanda (Indonesia) dengan Filipina :
“…Sama sekali tidak ada perbedaan petani di desa Filipina dengan petani di Manado, Bugis, Banjarmasin, Batak, Padang, Sunda atau Jawa dalam bentuk badan dan muka, tinggi rendahnya, warna kulit, mata dan rambut. Petani di Filipina, dan Bigan di Pulau Luzon sampai ke Bato di Mindanao, sama dengan penduduk asli di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Tetapi di kota-kota seperti Manila, Ho-Ho, Cebu, memang tampak perbedaan. Di sana kita menjumpai orang Filipina yang sudah menerima darah Spanyol dan Tionghoa, seperti campuran Indonesia-Tionghoa, Belanda-Tionghoa. Tetapi itu hanya terdapat pada kaum borjuis bagian atas saja. Juan dan Pedro, yang bekerja pada pelabuhan, kereta api, dan bengkel di Manila sebagai kaum buruh, tak ada bedanya sedikit pun dengan Ali dan Darmo di Medan atau Surabaya…”[18]
Hikmah serta Prospek ke Depan
Pascahadirnya Spanyol pada abad ke-16, penduduk Filipina mengalami Hispanisasi besar-besaran dari segi kultur dan agama. Pengaruhnya masih dapat dilihat dari nama-nama yang dipakai masyarakat Filipina, termasuk ‘Elias Fuentes’ yang dipakai Tan Malaka.
Namun hal itu tidak secara mutlak menghapus pengaruh-pengaruh peradaban yang lebih tua. Melalui perkembangan-perkembangan temuan sejarah itu, kita sudah melihat bahwa pengaruh nusantara tertua yang tiba di Filipina adalah sejak masa kerajaan Sriwijaya, sebuah otoritas politik bercorak maritim yang berpusat di Palembang, Sumatra Selatan. Bukti-bukti kehadirannya diperkuat dengan kesamaan kultur linguistik dan penulisan (bahasa Melayu Kuno-Huruf Kawi), serta migrasi orang-orang yang menjadi bawahan Sriwijaya. Secara turun temurun, akhirnya relasi itu tergambar dalam kesamaan linguistik maupun bentuk fisik manusianya. Otoritas politik Majapahit nampaknya menggantikan pengaruh Sriwijaya yang melemah pada abad ke-11.
Ada hikmah serta prospek di balik sekelumit kajian sederhana ini bagi bidang kesejarahan maupun para pembaca Indonesia, di antaranya :
a)Memperkaya kajian mengenai kerajaan Sriwijaya yang mungkin selama ini pengarunya ke luar, lebih banyak ditekankan ke kawasan semenanjung Melayu (Malaysia). Hal ini dapat memberi kesempatan pada para akademisi sejarah untuk menelisik lebih jauh hubungan keduanya melalui kegiatan-kegiatan ilmiah dan empublikasikannya pada masyarakat luas.
b)Kajian Tan Malaka mengenai sejarah Filipina mesti dilihat juga sebagai pembangun semangat literasi bagi generasi kekinian yang telah lumrah melancong ke negeri orang. Meskipun Tan Malaka tiba di Filipina pada era 1920-an yang belum mengenal teknologi komputer, internet, maupun android, ia tidak menghabiskan waktu di negeri orang sekadar untuk pelesiran, melainkan juga belajar sejarahnya.
c)Kita telah membaca mengenai hubungan antar-wilayah yang saling memengaruhi seperti antara Sriwijaya (Sumatera), Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Campa, dan Filipina ; artinya dalam sejarah-pun setiap peradaban tak bisa hidup sendiri. Namun keterbukaan itu tetap dengan semangat mempertahankan ciri khas masing-masing budaya tempatan. Demikianlah makna gagasan “Indonesia Utara” Tan Malaka hingga penemuan-penemuan bukti sejarah yang lebih ilmiah seperti Prasasti Keping Tembaga Laguna.
d)Selain membuka kesempatan pengkajian ilmiah oleh para ahli sejarah, bukti sejarah hubungan Indonesia dan Filipina yang ternyata telah terbina sejak lama dapat menjadi aspek komprehensif dan komparatif sejarah. Kedua aspek ini dapat mengurangi tendensi-tendensi sensitifitas keagamaan apabila berbicara soal Filipina, utamanya isu “Konflik Moro” yang sempat melibatkan otoritas militer dan golongan Islam.*
Sumber :
- Malaka, Tan, Dari Penjara ke Penjara, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 160.
- Malaka, Tan, Aksi Massa, Yogyakarta : Narasi, 2013. Hlm. 42.
- Op.Cit. Hlm. 159.
- Sihmanto, RP2 Juta Keliling Filipina dalam 10 Hari, Yogyakarta : B-First, 2010. Hlm. 145-148.
- Op.Cit. Hlm. 161.
- Pramasto, Arafah, dan Noftarecha Putra, Rampai Sejarah Keindonesiaan & Keislaman, Bandung : Jejak Publisher, 2018. Hlm. 41.
- Soeroto, Suri-Teladan Tokoh-Tokoh Zaman Silam, Jakarta : Myrttle Publishing, 2004. Hlm. 44.
- Yamin, Mohammad, Gajah Mada : Pahlawan Persatuan Nusantara, Jakarta : Balai Pustaka, 2008. Hlm. 67.
- Sexton, Colleen A., Philippines in Pictures, Minneapolis : Twenty-First Century Books,2006. Hlm. 22.
- Hasrinuksmo, Bambang S., S. Lumintu, Ensiklopedi Budaya Nasional : Keris dan Senjata Tradisional Lainnya, Jakarta : Cipta Adi Pustaka, 1988. Hlm. 200.
- Munandar, Agus Aris, Gajah Mada : Biografi Politik, Jakarta : Komunitas Bambu, 2010. Hlm. 52-53.
- Halili, M.C., Philippine History, Manila : Rex Bookstore, Hlm. 46.
- Boquet, Yves, The Philippine Archipelago, Cham-Switzerland : Springer International Publishing AG, 2017. Hlm. 64.
- Ooi, Keat Gin, Southeast Asia : A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor, California : ABC- CLIO, 2004. Hlm. 1167.
- Schliesinger, Joachim, Early Port Cities in the Malay Peninsula, Bangkok : Booksmango, 2017. Hlm. 79.
- Melebek, Abdul Rashid, Sejarah Bahasa Melayu, Kuala Lumpur : Utusan Publication, 2006. Hlm. 37.
- Boquet, Yves, The Philippine Archipelago, Cham-Switzerland : Springer International Publishing AG, 2017. Hlm. 64.
- Malaka, Tan, Dari Penjara ke Penjara, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 162.
















