JOGJA, fornews.co — Pemerintah Kota Jogja terus mengembangkan inovasi pengelolaan sampah melalui pengolahan pupuk basah berbasis sampah organik rumah tangga.
Program tersebut dinilai efektif menekan volume residu yang masuk depo sekaligus memberi nilai tambah bagi sektor pertanian dan peternakan.
“Kurang lebih 60 persen sampah kita itu organik. Kalau ini bisa kita kelola di masyarakat, maka yang dibawa ke depo tinggal sekitar 40 persen saja dan itu jauh lebih mudah ditangani,” kata Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, Senin, 26 Januari.
Hasto, mengatakan kebijakan itu lahir dari fakta mayoritas sampah kota merupakan material organik. Jika ditangani dari hulu, beban pengelolaan di hilir akan jauh berkurang.
Pengelolaan sampah organik dilakukan melalui metode emberisasi, yakni pemisahan sampah organik basah sejak dari sumbernya.
Warga diminta memisahkan sisa makanan, sayur, dan limbah dapur dari sampah lain, lalu menempatkannya dalam ember tertutup agar tidak tercampur dan tetap berkualitas untuk diolah.
Kata Hasto, strategi pengurangan sampah dilakukan bertahap dengan membangun kebiasaan memilah sejak rumah tangga. Dengan begitu, residu yang masuk ke sistem pengelolaan kota menjadi lebih sedikit dan efisien.
“Tugas kita sekarang adalah menguasai pengelolaan organik basah dan kering. Kalau dua ini berjalan, volume sampah kota bisa ditekan secara signifikan,” ujarnya.
Dari hasil pelaksanaan program tahun sebelumnya, Pemerintah setempat berhasil mengumpulkan sekira 1.000 ember sampah organik basah atau setara 25 ton. Dan pada pengembangan berikutnya, ditargetkan ada peningkatan hingga 50 ton atau sekitar 2.000 ember.
Selain organik basah, sampah organik kering seperti daun, ranting, serta hasil sapuan jalan juga diolah menjadi pupuk.
Material tersebut diproses di sejumlah unit pengolahan, antara lain di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Jogja, serta unit baru yang tengah disiapkan di wilayah Tegalrejo dan Tegalgendu.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan DLH Kota Jogja, Supriyanto, menjelaskan bahwa saat ini pengelolaan sampah organik basah sudah berjalan rutin setiap hari.
“Rata-rata per hari kami mengelola 1.100 ember atau setara 27,5 ton. Hasilnya disalurkan ke mitra offtaker seperti peternak ayam, bebek, ikan, maggot, sampai babi,” jelasnya.
Khusus sampah organik kering, DLH mengangkut tiga truk per hari atau kurang lebih 7,5 ton. Seluruh proses penjemputan dilakukan di 45 titik yang tersebar di seluruh wilayah Kota Jogja.
“Semua kelurahan sudah menjalankan emberisasi. Kami juga melibatkan 12 mitra mandiri sebagai pemanfaat hasil organik, sehingga sampah tidak berhenti sebagai limbah, tapi langsung dimanfaatkan,” ujarnya.
Untuk mendukung program tersebut, Pemerintah kota setempat telah membagikan ribuan ember kepada penggerobak di tiap kelurahan.
Penggerobak mengambil sampah basah dari rumah warga yang dikumpulkan dalam galon atau wadah khusus. Sementara sampah organik kering dikumpulkan di tingkat kelurahan untuk kemudian dijemput petugas DLH.
Supriyanto berharap partisipasi warga terus meningkat agar proses pengolahan lebih mudah dan maksimal.
Jika masyarakat mengalami kesulitan, mereka dapat menghubungi petugas pengawas pemilahan sampah di masing-masing kelurahan.
Melalui inovasi pupuk basah ini, Pemkot Jogja tidak hanya menekan beban TPA, tetapi juga membuka peluang ekonomi dari limbah rumah tangga.
Sampah yang sebelumnya tidak bernilai kini berubah menjadi sumber daya yang mendukung pertanian, peternakan, dan keberlanjutan lingkungan kota.

















