JOGJA, fornews.co — Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada akhir November 2025 menewaskan lebih dari 400 orang dan merusak ratusan desa.
Hujan ekstrem akibat pengaruh Siklon Tropis Senyar memicu meluapnya sungai dan runtuhnya lereng bukit, sementara infrastruktur vital di tiga provinsi lumpuh.
BNPB mencatat 2.726 bencana hidrometeorologi terjadi sejak awal 2025, dengan banjir akhir November menjadi salah satu yang paling mematikan dalam dua dekade terakhir.
Para gubernur di tiga provinsi terdampak telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari.
Menurut Dr. Hatma Suryatmojo, Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, bencana ini tidak hanya dipicu cuaca ekstrem, tetapi juga merupakan “akumulasi kerusakan ekologis” di kawasan hulu.
“Cuaca ekstrem hanyalah pemicu. Daya rusaknya diperparah oleh rapuhnya benteng alam di hulu DAS,” ujarnya dikutip fornews.co dari laman resmi UGM, Selasa, 16 Desember.
Hatma menjelaskan bahwa hilangnya tutupan hutan telah mengganggu fungsi hidrologis penting seperti intersepsi, infiltrasi, dan evapotranspirasi.
Tanpa hutan yang utuh sebagian besar hujan berubah menjadi limpasan permukaan yang mengalir deras ke hilir dan memicu banjir bandang.
Deforestasi masif di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebut menjadi faktor kunci meningkatnya risiko.
Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan dalam 30 tahun terakhir, Sumut hanya memiliki 29% hutan tersisa, sementara Sumbar mencatat deforestasi hingga 32 ribu hektare pada 2024.
“Tragedi November 2025 ini harus menjadi peringatan. Tanpa perbaikan tata lingkungan, setiap musim hujan berpotensi membawa bencana serupa,” kata Hatma.
Ia menekankan perlunya kombinasi mitigasi struktural dan ekologis, termasuk perlindungan hutan hulu, konservasi DAS, penegakan tata ruang, rehabilitasi lahan kritis, serta penguatan sistem peringatan dini.
Teknologi modifikasi cuaca (TMC) dapat digunakan secara terbatas, namun bukan solusi utama.
“Keselamatan masyarakat sangat bergantung pada keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam. Kita butuh langkah tegas mengakhiri deforestasi dan memperkuat kolaborasi dari hulu hingga hilir,” pungkasnya.

















