Tren pendakian gunung kian terlihat di berbagai daerah. Jalur-jalur populer dipadati anak muda yang membawa carrier besar, berburu matahari terbit dan lanskap awan di ketinggian.
fornews.co — Gunung dipahami sebagai ruang jeda dari rutinitas kota menjadi tempat memulihkan diri, merayakan kebersamaan, dan merasakan kebebasan yang sulit ditemukan di ruang-ruang serba digital.
Namun di balik lonjakan minat itu, muncul pertanyaan mendasar: benarkah antusiasme telah berjalan seiring dengan literasi keselamatan dan etika lingkungan?
Antara Euforia dan Realitas Risiko
Data dari sejumlah komunitas pecinta alam menunjukkan insiden pendakian masih berulang dengan pola yang hampir sama, yakni perencanaan terburu-buru, perlengkapan tidak memadai, dan pengabaian prosedur.
Gunung sering diperlakukan sebagai destinasi akhir pekan, padahal gunung adalah bentang alam dengan karakter yang tegas memiliki perubahan cuaca yang cepat, suhu turun drastis, jalur licin, serta komunikasi terbatas.
Orientasi yang terlampau bertumpu pada capaian puncak turut memperbesar risiko. Banyak pendaki memaksakan langkah ketika tubuh mulai kehilangan daya tahan atau ketika kabut dan hujan mengaburkan pandangan.
Padahal nilai pendakian terletak pada kemampuan membaca situasi, menjaga ritme, dan memastikan seluruh anggota tim kembali dengan selamat.
Mendaki sejatinya adalah praktik manajemen risiko di alam terbuka.

Pendidikan Pendakian: Fondasi yang Tak Bisa Ditunda
Lonjakan jumlah pendaki menuntut penguatan edukasi, terutama bagi pemula. Setiap gunung memiliki ekosistem dan tingkat kesulitan berbeda.
Informasi mengenai jalur resmi, sumber air, estimasi waktu tempuh, hingga pola cuaca perlu dipelajari sebelum keberangkatan. Pengetahuan ini membantu menyusun strategi logistik dan menentukan batas aman perjalanan.
Prosedur administrasi seperti pengurusan SIMAKSI di basecamp bukan formalitas belaka. Sistem pendataan tersebut memudahkan pemantauan dan mempercepat respons ketika terjadi kondisi darurat. Disiplin pelaporan menjadi bagian dari budaya keselamatan kolektif.
Perubahan pola pikir juga penting sebab pendakian bukan arena pembuktian diri, melainkan ruang pembelajaran tentang keterbatasan manusia di hadapan alam.
Persiapan Dimulai dari Rumah
Keamanan tidak ditentukan saat kaki menapak jalur, tetapi jauh sebelum itu. Kondisi fisik perlu dipersiapkan melalui latihan kardio ringan seperti jogging atau bersepeda. Asupan gizi dan istirahat cukup menjaga stamina menghadapi suhu dingin dan lintasan panjang.
Kesiapan mental tak kalah krusial. Gunung menghadirkan ketidakpastian. Misalnya mendadak turun hujan, angin kencang, jalur berbatu, atau rasa lelah yang datang bergelombang.
Selain itu, kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan rasional sering kali menjadi pembeda antara perjalanan yang terkendali dan situasi krisis.
Perlengkapan adalah Investasi Keselamatan
Perlengkapan bukan soal gaya, melainkan perlindungan. Tas carrier yang ergonomis membantu distribusi beban. Sepatu gunung dengan grip kuat meminimalkan risiko terpeleset.
Padahal jaket tahan angin, jas hujan, sarung tangan, dan kaos kaki cadangan menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Untuk bermalam, tenda, sleeping bag, dan matras menjadi perlindungan utama dari hawa dingin. Headlamp memastikan visibilitas saat gelap. Peralatan darurat seperti peluit, pisau lipat, dan korek api dapat menjadi penentu dalam kondisi tak terduga.
Logistik pun harus diperhitungkan matang seperti air minum yang cukup, makanan berenergi, serta kompor portable untuk memasak. Kotak P3K, obat pribadi, peta, kompas, atau GPS memperkuat aspek navigasi dan pertolongan pertama.
Pendakian tektok tanpa kalkulasi sering dianggap praktis, padahal tetap membutuhkan kesiapan setara. Tubuh dan cuaca tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya.

Disiplin di Jalur dan Etika terhadap Alam
Pendakian idealnya dimulai pagi hari dengan langkah stabil dan ritme terjaga. Istirahat berkala membantu tubuh beradaptasi.
Minum sedikit tetapi rutin mencegah dehidrasi. Tetap berada di jalur resmi dan tidak memisahkan diri dari rombongan adalah aturan dasar yang tak boleh dilanggar.
Ketika cuaca memburuk, keputusan untuk berhenti atau turun bukan tanda kegagalan. Dalam praktik pendakian dikenal prinsip 3T, yaitu tidak tergesa-gesa, tidak memaksakan diri, dan tidak ceroboh. Prinsip ini merefleksikan sikap rendah hati terhadap alam.
Aspek lingkungan juga mendesak untuk diperhatikan. Gunung adalah ekosistem rapuh. Setiap sampah yang tertinggal, vegetasi yang dirusak, atau api unggun yang lalai dipadamkan berpotensi meninggalkan dampak panjang.
Namun, memperhatikan kebersihan lingkungan juga menjadi penting. Budaya membawa turun kembali sampah harus menjadi standar bersama, bukan imbauan sesaat.
Dari Hobi ke Tanggung Jawab Kolektif
Meningkatnya minat mendaki sebenarnya membuka peluang membangun budaya outdoor yang lebih matang. Komunitas, pengelola kawasan, dan pendaki individu memiliki peran saling terkait dengan memperluas edukasi, memperketat prosedur, serta menanamkan etika konservasi.
Target pendakian bukan hanya berdiri di titik tertinggi, tetapi pulang dalam kondisi utuh—fisik terjaga, tim lengkap, dan alam tetap lestari.
Jika orientasi ini tertanam, gunung tidak lagi dipandang sebagai panggung pencapaian personal, melainkan ruang belajar tentang batas, solidaritas, dan tanggung jawab.
Di tengah tren yang terus tumbuh, perubahan paradigma menjadi kebutuhan mendesak. Pendakian yang aman dan berkelanjutan tidak lahir dari keberanian semata, tetapi dari kesadaran, disiplin, dan komitmen untuk menjaga alam sekaligus diri sendiri.
Mengutip kalimat Bob Mayer, mantan anggota United States Army Special Forces (“Green Berets”) yang kini menjadi penulis produktif di Amerika Serikat.
“Dan yang paling penting adalah memberitahu seseorang ke mana Anda pergi, kapan akan kembali, dan kapan mereka harus menghubungi bantuan.”

















