fornews.co — Kita bisa tersesat dengan berbagai cara di hutan, di gunung, di padang pasir, bahkan di tengah kota. Tapi barangkali, yang paling menakutkan adalah ketika kita tersesat di alam liar dan sadar tidak ada satu pun petunjuk yang bisa membantu kecuali diri sendiri.
Begitulah ungkapan Bob Mayer, mantan anggota United States Army Special Forces (“Green Berets”) yang kini menjadi penulis produktif di Amerika Serikat.
Mayer menulis pengalamannya di media sosial. Ia mengaku tidak pernah benar-benar tersesat, tapi pernah bingung selama beberapa pekan.
“Saya tidak pernah tersesat, tetapi saya akui pernah bingung selama beberapa minggu,” ujarnya mengutip kata-kata pelopor penjelajah Amerika, Daniel Boone.
Kalimat itu sederhana, namun, mengandung hikmah yang dalam, kata Mayer.
Dalam dunia petualangan, “bingung” bisa berarti perbedaan antara selamat dan tidak kembali sama sekali.

Menurut Mayer, pendaki bukanlah pemula. Ia telah lama terbiasa dengan peta dan kompas, menempuh pelatihan navigasi darat siang dan malam.
Namun, seperti katanya, bahkan pengalaman tak selalu melindungi seseorang dari kebingungan.
“Begitu Anda tersesat, keadaan bisa dengan mudah memburuk,” tulisnya. “Kecuali Anda tahu apa yang harus dilakukan.”
Di dunia pendakian, tersesat bukan sekadar kehilangan arah melaikan kehilangan kendali atas diri sendiri, dan panik adalah musuh terbesar.
Di sinilah prinsip sederhana, namun, penting muncul kata berhenti! kata Mayer. Sebuah akronim yang menjadi mantra bagi setiap petualang.
Mayer mengingatkan jika sewaktu-waktu tersesat untuk tetap tenang dan tidak panik. Berpikir dengan logika.

Ada empat hal yang harus dilakukan jika dalam keadaan tersesat.
1. Berhenti segera ketika merasa tersesat.
2. Evaluasi keadaan dan pikirkan langkah yang sudah diambil.
3. Rencanakan tindakan berdasarkan logika, bukan panik.
4. Hadapi situasi dengan tenang, karena ketenangan menyelamatkan.
Dalam tulisannya tentang dunia pendakian Mayer menyebutkan banyak hal teknis perlengkapan wajib seperti GPS, kompas, peta kertas, peluit, hingga cermin sinyal.
Tetapi yang paling penting bukan pada alatnya, melainkan cara berpikir seorang penjelajah.
“Kompas tidak berguna jika Anda tidak tahu di mana Anda berada,” tulisnya.
Karena itu, belajar navigasi adalah keterampilan dasar. Di beberapa toko perlengkapan outdoor seperti REI, kursus navigasi darat diajarkan agar para pendaki tidak sekadar mengandalkan teknologi, tapi memahami medan dengan insting dan logika.

Dalam kegiatan off-road, arah “aman” adalah kunci. Artinya, mengenali ke mana harus menuju untuk akhirnya bertemu batas yang dikenal seperti sungai, rel, atau jalan raya. Karena itulah, sebelum berangkat selalu buat rencana darurat.
“Beri tahu seseorang ke mana Anda pergi, kapan akan kembali, dan kapan mereka harus menghubungi bantuan,” tulisnya.
“Saya bahkan melakukannya ketika hanya bersepeda atau berlari.”
Bahkan catatan kecil di dashboard mobil, izin di pos ranger, atau pesan singkat kepada keluarga bisa menjadi penyelamat hidup.
Apa yang harus dilakukan saat benar-benar tersesat?
Jika semuanya gagal, dan Anda benar-benar kehilangan arah, prinsip bertahan hidup tetap sama yaitu diamlah.
Kebanyakan operasi pencarian dimulai dari titik terakhir Anda terlihat. Bergerak tanpa arah bisa menjauhkan Anda dari area pencarian.
Bila cedera, jangan paksakan diri. Pencarian dan penyelamatan biasanya gratis, tim sukarelawan lebih mengutamakan nyawa daripada biaya.
Gunakan pesan teks ketimbang panggilan suara jika sinyal lemah. Melalui teks lebih mungkin terkirim.
Dan ketika malam tiba jangan bergerak. Banyak kecelakaan fatal terjadi karena pendaki memaksakan diri berjalan dalam gelap.
“Saat kami ke Grand Canyon, istri saya bilang, ‘Aku yakin banyak orang jatuh ke sana.’ Dan setelah melihat tebing-tebingnya, saya tahu dia benar,” tulis Mayer.

Mengirimkan sinyal darurat
Sinyal darurat bisa datang dari hal-hal sederhana, misalnya tiga tiupan peluit, asap tebal dari daun basah atau karet yang dibakar, dan cermin yang diarahkan ke langit.
Pantulan cahaya bisa dilihat sejauh kilometer sebagai tanda kehidupan di tengah sunyi.
Dan jika Anda harus menyelamatkan diri sendiri, lakukan perlahan. Istirahatlah. Jangan biarkan kelelahan mengambil alih. Makan, minum, dan tandai setiap langkah yang Anda buat.
Jejak cabang patah, batu yang ditumpuk, atau coretan di tanah bisa menjadi peta kecil yang menyelamatkan.
Tersesat mengajarkan kita satu hal penting bahwa orientasi bukan sekadar arah di peta, tetapi kesadaran akan posisi diri di dunia.
Kadang, kita tidak benar-benar kehilangan jalan. Kita hanya berhenti memperhatikan tanda-tanda di sekitar.
“Dan di situlah, seperti kata sang pendaki, kebingungan menjadi guru yang paling jujur.
Bahwa bertahan hidup bukan hanya soal peralatan atau fisik, melainkan kemampuan untuk berhenti, berpikir, dan percaya bahwa kita bisa menemukan jalan pulang,” kata Mayer mengakhiri tulisannya.

















