JOGJA, fornews.co — Kirab Gunungan 1.000 Apem menandai dimulainya Sarkem Fest 2025. Masyarakat Jogja tumpah dalam tradisi ruwahan apeman.
Ruwahan apeman dimulai sejak pukul 06.00 WIB dengan pembuatan apem oleh warga setempat.
Sarkem Fest tahun ini merupakan kolaborasi warga Kelurahan Sosromenduran dan Pemerintah Kota Jogja.
Pemerintah setempat melalui Dinas Pariwisata Kota Jogja mengucapkan terima kasih kepada warga Kelurahan Sosromenduran yang terus menggelar Festival Pasar Kembang.
Sarkem Fest menjadi salah satu promosi pariwisata yang menarik.
“Beribu-ribu terima kasih kepada segenap ekosistem yang ada di Sosrowijayan dan Pasar Kembang, kita secara konsisten dapat menyelenggarakan event ini tiap tahun,” kata Wahyu Hendratmoko, S.E., M.M., selaku Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja, Jum’at sore, 21 Februari 2025.

Pariwisata Jogja yang sedang dalam posisi bagus, kata Wahyu, namun, dapat berubah 180 derajat jika masyarakat tidak menjaga dengan baik.
Ini berkaitan dengan masyarakat Jogja yang belakangan terus minus terhadap wisatawan yang datang ke Kota Gudeg.
Parkiran dan warung makan “nuthuk” atau pengamen yang memaksa pengunjung, menjadi persoalan serius yang harus ditindak tegas! Bukan hanya sebatas lisan.
Wahyu mengajak warga Kota Jogja untuk selalu menjaga kebersihan dan memberikan pelayanan terbaik terhadap wisatawan.
Dengan memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada wisatawan, Jogja akan terus menjadi tujuan wisata terfavorit di Indonesia.
“Mari selalu kita percantik wajah dan perganteng wajah Kota kita dengan selalu ramah kepada wisatawan,” ajak Wahyu.
Pihaknya berharap jika masyarakat Jogja melayani wisatawan dengan baik akan membuat wisatawan mengajak komunitas yang lebih banyak untuk berkunjung ke Jogjakarta tercinta.
“Ayo wisata terus ke Jogja, Jogja istimewa yang selalu ngangeni.”

Ruwahan
SEBELUM memimpin doa, Sigit Aprianto, selaku Ketua LPMK Sosromenduran menjelaskan kepada masyarakat yang hadir tentang ruwahan apeman.
Ruwahan apeman berarti kolak, ketan, dan apem.
“Kirab dan kenduri yang sudah berlangsung dari tahun ke tahun ini tidak hanya menarik masyarakat kota setempat, namun, juga wisatawan yang datang ke Jogja,” katanya.
Bagi tradisi orang Jawa, Bulan Ruwah dikaitkan dengan bulan arwah yang disimbolkan dengan ketan, kolak dan apem.
Ada pula nyadran yaitu mendatangi makam untuk mendoakan leluhur yang terlebih dahulu diwafatkan dengan harapan diampuni segala dosa dan kekhilafannya serta diterima amal kebaikannya oleh Allaah Ta’alla.

Ruwahan yang disimbolkan dengan ketan, kolak dan apem berasal dari bahasa Arab.
Ketan berasal dari bahasa Arab khataan yang berarti kesalahan. Harapannya sebelum memasuki Ramadhan manusia sudah saling memaafkan dan memohon ampunan dari Allaah.
Kolak dari kata khalaqa berasal dari kata khaliq yang berarti pencipta atau sang pencipta dengan harapan sebagai manusia untuk bertaqwa kepada Allaah.
Apem dari kata afuwan yaitu permohonan ampun agar segala kesalahan diampuni oleh Allaah.
“Dengan doa-doa yang terpanjat dalam ruwahan, kata dia, harapannya tingkat kemiskinan masyarakat Kota Jogja bisa ditekan sehingga semakin sejahtera,” pungkasnya.
















