JOGJA, fornews.co – Berawal dari pertunjukan sederhana di trotoar Malioboro depan Gedung DPRD DIY saat perayaan jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwana X pada pertengahan 1980-an, sanggar Sangkerta yang sebelumnya bernama Dhe’Sangar berkembang menjadi salah satu ruang kreatif di Jogjakarta.
Sangkerta merupakan akronim dari Sanggar Kesenian Peranserta. Komunitas ini lahir sekira tahun 1985 sebagai badan otonom bidang seni budaya di bawah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang kala itu digagas Ali Mustofa Trajutisna, bersama sejumlah tokoh lainnya.
Salah satu penggagas Sangkerta, Mujar, menuturkan embrio komunitas tersebut berawal dari aksi seni kolaboratif yang melibatkan berbagai disiplin.
Di Malioboro saat itu, kata Mujar, para seniman menggelar pembacaan puisi yang dipadukan dengan musik modern, pertunjukan ansambel, hingga melukis wajah secara langsung di ruang publik.
“Keesokan harinya kami membuat arak-arakan keliling Benteng Karaton dengan gerobak panjang diiringi musik patrol sebagai bagian dari mangayubagya jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwana X. Dari situlah semangat berkesenian bersama terus berkembang,” ujarnya.
Awalnya, Sangkerta hanya bertugas merancang instalasi seni dan penataan artistik untuk berbagai kegiatan PPM. Namun, seiring meningkatnya aktivitas berkesenian, kemudian berdiri sebagai sanggar yang menghimpun para pelaku seni dari beragam latar belakang.

Anggotanya tidak hanya berasal dari kalangan akademisi, tetapi juga seniman otodidak, praktisi seni, penulis, hingga anak-anak jalanan yang memiliki minat besar terhadap dunia seni dan budaya.
Selain Mujar, sejumlah tokoh yang terlibat dalam pendirian Sangkerta antara lain Badrus Zaman, Totong Lis, almarhum Ali Mustofa, serta Nunik Tasnim Haryani alumnus UGM yang dikenal sebagai penulis dan pegiat seni.
Memasuki pertengahan 1990-an, Sangkerta semakin dikenal setelah menginisiasi Festival Teater Pelajar tingkat SLTA di Jogjakarta. Saat itu aktivitas teater dinilai sedang mengalami kevakuman sehingga festival tersebut menjadi ruang baru bagi pelajar untuk kembali menampilkan karya mereka.
Festival tersebut digelar tiga tahun berturut-turut dan menjadi salah satu agenda seni yang mendapat perhatian luas.
Pada setiap penyelenggaraannya, Teater Sangkerta juga menampilkan pementasan sebagai penutup, sekaligus memberi ruang bagi lahirnya aktor dan pekerja seni muda.
Tidak berhenti pada dunia teater, Sangkerta juga aktif menggelar pameran seni rupa, pertunjukan kolaboratif, performance art, hingga terlibat dalam produksi sinetron di TVRI. Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri, mulai dari riset lapangan, penyusunan naskah, hingga pementasan.

Mujar mengungkapkan Sangkerta sejak awal hadir sebagai ruang alternatif bagi para seniman muda yang memiliki karya berkualitas, tetapi belum memperoleh ruang berekspresi di lingkungan akademik maupun institusi seni formal.
“Kami ingin memberi tempat bagi siapa saja yang berkarya. Banyak mahasiswa seni rupa dan desain yang sebenarnya sangat kreatif, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Di Sangkerta mereka bisa bertemu, berkolaborasi, dan berkarya bersama,” terangnya.
Atas kiprahnya di dunia seni budaya, Mujar memperoleh gelar kehormatan “Ki”. Gelar tersebut diberikan oleh Menteri Kebudayaan, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro pada era 1993–1998 sebagai bentuk pengakuan terhadap kiprahnya di bidang seni dan budaya.
Saat itu sempat muncul usulan pemberian gelar “Mpu“, namun karena usianya masih muda, akhirnya disepakati penggunaan gelar “Ki“, yang dimaknai sebagai sebutan bagi sosok pendidik dan budayawan, sebagaimana tradisi di lingkungan Tamansiswa.
Hingga kini, semangat yang dibangun Sangkerta tetap sama seperti saat pertama kali lahir di Jogjakarta, yang menjadikan seni sebagai ruang partisipasi, kolaborasi, sekaligus media pemberdayaan masyarakat.
















