JOGJA, fornews.co — Pada awal tahun 1960-an, trotoar kawasan Malioboro menjadi ruang pertemuan gagasan. Di bawah patung Jenderal Sudirman, sejumlah penulis muda menjalin pertemanan yang kemudian dikenal sebagai Sastrawan Malioboro.
Di sanalah nama-nama seperti Nasjah Djamin, Motinggo Busje, Kirdjomuljo dan Adjib Hamzah, menghubungkan diskusi sastra dengan percakapan tentang seni, politik kebudayaan, dan realitas sosial.
Kesaksian mengenai kebersamaan itu dituliskan oleh M. Nizar di harian Sinar Pagi pada tanggal 18 April 1999. Tulisan tersebut lahir dari kenangan yang kembali menguat ketika satu per satu sahabatnya berpulang pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Mereka tidak bertemu di ruang akademik atau kantor redaksi, tetapi di bangku trotoar, warung sederhana, dan sudut jalan hidup sepanjang malam.
Mereka menorehkan pengaruh penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern.
Dalam tulisannya Nizar menceritakan, pada masa itu Malioboro berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas sastra di luar Jakarta.
Jika ibu kota memiliki ruang redaksi dan forum resmi, Jogja menghadirkan bentuk lain, yakni diskusi terbuka di ruang publik.
Setiap malam selepas pukul tujuh, para seniman datang tanpa undangan formal. Jika tidak berada di Warung Mbak Retno, mereka biasanya berkumpul di bawah patung Pak Dirman.
Percakapan yang berlangsung tidak berhenti pada estetika karya, tetapi juga menyentuh arah kebudayaan nasional dan peran seniman dalam masyarakat.
Dari percakapan-percakapan panjang itu lahirlah cerpen, novel, naskah drama, dan esai yang kemudian memperkaya peta sastra Indonesia.
Mereka merupakan tokoh sastra Indonesia dengan masing-masing gagasan.
Nasjah Djamin tidak hanya dikenal sebagai pengarang, tetapi juga pelukis. Novel Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968) mencerminkan keberanian tematik dan eksplorasi psikologis.
Dia juga terlibat dalam pendirian organisasi seni rupa serta dikenal sebagai ilustrator buku.
Adjib Hamzah bergerak di dunia sastra dan jurnalistik. Ia aktif menulis novel, cerpen, serta drama, juga terlibat dalam kejadian kebudayaan pada masa Manifesto Kebudayaan.
Dalam kariernya di media, ia pernah memimpin majalah Suara Muhammadiyah hingga memperluas jangkauan pembacanya.
Motinggo Busje menempuh jalur yang lebih beragam sebagai penulis, pelukis, hingga sutradara. Novel-novelnya seperti Di Balik Pintu Dosa dan Insan Kesepian menjadi bagian penting sastra populer Indonesia, sementara drama Malam Jahanam menegaskan keasliannya di panggung teater.
Adapun Kirdjomuljo dikenal melalui karya sastra dan kontribusinya dalam dunia seni pertunjukan, termasuk penciptaan himne Sanggarbambu.
Naskah-naskah mereka kini tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin sebagai bagian dari arsip penting sastra Indonesia.
Kreativitas dari Ruang Publik
Salah satu kisah yang dikenang Nizar berawal dari percakapan santai di bawah patung Jenderal Sudirman. Nasjah Djamin menawarkan cerpen untuk dimuat di majalah Minggu Pagi dan berseloroh bahwa judulnya “mahal”. Ketika akhirnya terungkap Di Bawah Kaki Pak Dirman adalah cerita pengalaman mereka berkumpul di tempat tersebut.
Setelah tulisan dimuat dan kehormatan diterima, Nasjah mengajak sahabat-sahabatnya makan gudeg di warung Yu Siyem di seberang patung.
Peristiwa kecil itu sering terjadi bukan sebagai soal traktiran, melainkan sebagai gambaran kebersamaan yang membangun energi kreatif di antara mereka.
Warisan bagi Masa Kini
Seiring berjalannya waktu, generasi perlahan berputar. Namun, jejaknya tidak hilang. Malioboro pernah menunjukkan bahwa percakapan kebudayaan dapat tumbuh dari ruang publik yang terbuka dan egaliter.
Hari ini kawasan itu tetap ramai oleh wisatawan dan aktivitas perdagangan. Di balik hiruk pikuknya tersimpan sejarah tentang sekelompok penulis yang menjadikan trotoar sebagai laboratorium gagasan, menjadi tempat persahabatan, kritik sosial, dan imajinasi sastra saling menguatkan.
Warisan Sastrawan Malioboro tidak hanya berupa karya, tetapi juga cara memandang ruang kota sebagai tempat bertemu, berdialog, dan merumuskan masa depan kebudayaan.

















