fornews.co — Andong, warisan transportasi tradisional Jogja, hingga hari ini masih dapat ditemui di jalan-jalan kota meski kendaraan bermotor terus menyesaki ruang publik.
Keberadaannya bukan sebatas alat angkut wisata, melainkan jejak sejarah panjang yang tumbuh bersama perkembangan kota dan kebudayaannya.
Andong mulai dikenal di Jogjakarta sejak masa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada awal kemunculannya digunakan oleh kalangan bangsawan karaton dan pejabat kerajaan sebagai sarana transportasi resmi.

Moda transportasi tradisional beroda empat ini ditarik kuda yang mencerminkan status sosial penggunanya. Kerangka kayu dipadukan dengan ornamen Jawa, sementara interior dibuat nyaman untuk perjalanan jarak pendek.
Pada masa itu, rakyat biasa lebih sering menggunakan dokar atau berjalan kaki. Andong menjadi simbol prestise sekaligus alat mobilitas elite di lingkungan kota kerajaan.
Pengaruh budaya Eropa pada abad ke-18 dan ke-19 turut membentuk rupa andong. Kereta kuda ala Eropa diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda, lalu diadaptasi dengan cita rasa lokal.
Seiring waktu, penggunaan andong meluas ke masyarakat umum. Ia menjadi angkutan kota yang lazim digunakan di sekitar Karaton, Malioboro, Pasar Beringharjo, dan kampung-kampung sekitar. Andong menjadi bagian dari denyut harian Kota Jogja.

Memasuki awal abad ke-20, kendaraan bermotor mulai menggantikan peran andong. Mobil dan sepeda motor menawarkan kecepatan dan efisiensi.
Banyak moda tradisional menghilang, tetapi andong tetap bertahan berkat nilai budaya yang melekat kuat.
Pemerintah daerah dan Karaton Jogjakarta memandang andong sebagai identitas kota. Sejumlah aturan diterapkan untuk menjaga eksistensinya, termasuk penataan jalur operasional dan pembinaan kusir.
Bagi para kusir, andong bukan sebatas mata pencaharian, melainkan warisan keluarga. Profesi ini kerap diwariskan lintas generasi, lengkap dengan pengetahuan merawat kuda, memahami rute, serta melayani penumpang dengan etika.
Tantangan tetap hadir di era modern. Persaingan transportasi daring, perubahan pola wisata, hingga isu kesejahteraan hewan menjadi perhatian. Pemerintah dan komunitas kusir berupaya meningkatkan standar perawatan kuda serta keselamatan operasional.

Kini, andong lebih sering difungsikan sebagai transportasi wisata budaya. Wisatawan lokal maupun mancanegara menjadikannya pengalaman khas Jogjakarta. Denting tapal kuda menghadirkan suasana tempo dulu di tengah kota modern.
Keberadaan andong menunjukkan cara Jogja merawat sejarah tanpa menolak perubahan. Tradisi tidak dibekukan, tetapi dihidupkan dalam keseharian. Andong menjadi simbol keseimbangan antara masa lalu dan masa kini.
Meski jumlahnya kian berkurang, andong masih melintas di ruas-ruas tertentu. Langkahnya yang perlahan mengingatkan bahwa kota ini dibangun bukan hanya oleh kecepatan, tetapi juga oleh kesabaran sejarah.

















