JOGJA, fornews.co — Jika kehidupan sosial dipandang sebagai pertunjukan drama sebagaimana analogi Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959), maka setiap individu adalah aktor yang menampilkan citra dirinya melalui dua panggung.
Hal itu diungkapkan Mahmud Elqadri kepada fornews.co di sela persiapan pementasan drama sinema “Selamat Pagi Donna”, Desember lalu, di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Mahmud menyebut setiap individu adalah aktor yang menampilkan citra dirinya melalui dua panggung, yaitu Front Stage dan Back Stage.
Front Stage adalah panggung depan yang penuh pencitraan dan kepura-puraan. Sedangkan Back Stage adalah ruang belakang yang memuat kehidupan nyata tanpa topeng.
“Dalam konteks ini, puisi justru hadir sebagai representasi autentik dari panggung belakang itu,” terangnya.
Di kehidupan sosial, manusia berusaha mengatur isyarat verbal dan non-verbal untuk menunjukkan persona ideal di hadapan publik.
Namun, puisi tidak tunduk pada panggung kepalsuan tersebut. Ia lahir dari wilayah gelap realitas yang sering ditutupi kebohongan dan kemunafikan sosial.
Dari kacamata Mahmud, puisi bekerja sebagai cermin yang memantulkan perangai masyarakat, bahkan menguak hal-hal yang tidak ingin ditampilkan di depan publik.
“Dengan demikian, puisi bukan sebatas seni bahasa, melainkan praktik refleksi sosial. Ia tidak hanya bertanya “apa itu puisi?”, tetapi lebih jauh, “mengapa puisi dituliskan?” jelasnya.
Pertanyaan inilah yang menjadikan puisi tampil sebagai wujud kesaksian dan kritik sosial, terlebih ketika lahir dari pengalaman langsung seorang penyair di dalam pusaran realitas sosial.
Mahmud bahkan menyebut antologi puisi “Negeri Sontoloyo #3: Angin Bersenandung” merupakan contoh nyata bagaimana puisi bekerja sebagai panggung belakang.
Kumpulan puisi tersebut tidak hanya menyingkap absurditas kekuasaan, kebobrokan politik, atau tragedi sosial, tetapi juga memelihara sisi kontemplatif, keheningan batin, dan pengalaman keseharian.
Puisi-puisinya mengolah diksinya secara satir, estetik, sekaligus kritis jelas mencerminkan kompleksitas sosial yang dijalani para penyairnya.
Menariknya, para penyair dalam antologi ini adalah eksponen Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI).
Mereka bukan hanya terbiasa dengan dunia teater dan film (dunia pencitraan Front Stage), tetapi justru memilih menggunakan puisi untuk menyuarakan realitas Back Stage.
Dengan latar profesi yang beragam, dari dosen hingga pengangguran, keberagaman perspektif mereka memperkaya cara pandang estetika dan kedalaman kritik dalam puisi-puisinya.
Sebagaimana drama menciptakan realitas rekaan, puisi justru menangkap realitas yang tidak direkayasa.
Dalam antologi “Angin Bersenandung”, puisi-puisi tidak hanya menyasar kekuasaan yang “melawan akal sehat”, tetapi juga memotret pengalaman hidup, kenangan, kesakitan, dan kegelisahan jiwa.
Puisi menjadi ruang berpikir dan ekspresi estetik, sekaligus menjadi wadah pelarian dari tekanan sosial dan ekonomi yang menjerat kehidupan sehari-hari.
Di sinilah posisi penyair sebagai saksi sosial menjadi menarik–mereka tidak perlu meyakinkan publik bahwa mereka penyair.
“Justru melalui puisi, mereka memperlihatkan kehidupan sosial yang tersembunyi di luar bahasa pencitraan,” katanya.
Mahmud menambahkan, jika Front Stage adalah ruang manipulasi sosial, maka puisi berdiri sebagai medium Back Stage yang jujur.
Puisi dalam antologi “Negeri Sontoloyo” tidak hanya menghibur, melainkan mengungkap fakta sosial yang sulit diterima dan sering disembunyikan masyarakat.
Mahmud mengatakan, melalui perspektif dramaturgi Goffman, kita dapat melihat bahwa puisi adalah bentuk kehadiran perlawanan terhadap sandiwara sosial.
Ia menggugat, mengingatkan, dan menjadi saksi yang tidak bisa dibungkam.
Maka, jelas Mahmud, lebih penting daripada memperdebatkan definisi puisi, adalah memahami mengapa puisi perlu dituliskan.
“Ditulis karena sebagai upaya menguak panggung belakang kehidupan yang nyata, rapuh, dan penuh luka, tetapi justru di sanalah kejujuran kemanusiaan berada,” pungkasnya.

















