JOGJA, fornews.co — Jum’at pagi, 6 Februari, Malioboro tidak hanya diisi lalu-lalang wisatawan, petugas dan relawan memunguti sampah di sela-sela kursi dan pembatas jalan. Di titik lain kota, aktivitas serupa berlangsung serentak di 14 ruang publik.
Aksi bagian dari Gerakan Jogja Berhati Nyaman itu digerakkan Pemerintah Kota setempat bersama berbagai instansi. Program ini disambungkan dengan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) yang diarahkan Presiden RI Prabowo Subianto.
Namun, di balik hiruk-pikuk kerja bakti, muncul pertanyaan yang lebih besar, apakah bersih-bersih massal cukup untuk merawat kota yang setiap hari memproduksi sampah dan tekanan ruang?
Malioboro menjadi etalase utama dengan ribuan orang melintas setiap hari, dari pedagang, wisatawan, hingga pekerja. Ruang publik ini mudah terlihat bersih di pagi hari, tetapi juga cepat kembali kotor jika perilaku pengguna ruang tidak berubah.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menyebut gerakan ASRI sebagai upaya membangun kota dari hal-hal sederhana melalui gotong royong.
Menurutnya, kebersihan tidak selalu membutuhkan biaya besar, melainkan kemauan bersama.
“Program aman, sehat, resik, dan indah itu cocok dengan filosofi Jogja. Kita membangun dari yang sederhana. Gotong royong itu tidak mahal, tapi dampaknya besar kalau dilakukan bersama,” katanya.
Sebelum arahan nasional muncul, Pemkot bersama warga sebenarnya sudah rutin menggelar kerja bakti, mulai dari Jogja Tanpa Rumput, pembersihan sungai, hingga Gerakan Reresik Sekolah.
Dua pekan terakhir, jalur Pojok Beteng Kulon hingga Ngabean juga dibersihkan. Kini, Pemkot merencanakan kerja bakti rutin setiap Jum’at, disertai surat edaran agar warga membersihkan lingkungan depan rumah masing-masing.
Langkah itu penting, tetapi tantangan kebersihan kota bukan hanya soal menyapu jalan. Di banyak kawasan, persoalan muncul dari saluran air tersumbat, sampah tercampur, hingga kebiasaan pengguna ruang yang belum disiplin.
Di Malioboro, armada Damkar diturunkan bukan untuk memadamkan api, melainkan menyiram pedestrian agar mudah dibersihkan.
Selang air milik Dinas Pemadam Kebakaran menyapu pedestrian, mengikis lumut yang menempel di lantai, bola pembatas, dan tempat sampah menjadi sasaran utama.
“Kami lakukan penyiraman awal supaya pembersihan maksimal, terutama fasilitas umum yang sudah banyak lumut,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Jogja, Taukhid.
Bagi sebagian pedagang, kebersihan Malioboro bukan hanya menjai urusan pemerintah. Salah seorang pedagang minuman di kawasan tersebut, mengatakan kawasan bisa cepat kotor lagi jika pengunjung tak ikut menjaga.
“Pagi dibersihkan, sore kadang sudah banyak plastik dan puntung rokok lagi. Kalau cuma petugas yang bergerak, ya capek sendiri,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa gerakan kebersihan tidak bisa berhenti pada mobilisasi aparat.
Kota adalah ruang bersama. Tanpa perubahan perilaku warga, wisatawan, dan pelaku usaha, kerja bakti berisiko hanya menjadi agenda rutin tanpa dampak jangka panjang.
Karena itu, Gerakan Jogja Berhati Nyaman mulai dipahami bukan hanya sebagai aksi fisik, tetapi sebagai upaya membangun budaya merawat kota.
Selain itu, bukan pula hanya membersihkan saat ada agenda, tetapi memastikan ruang publik dirawat setiap hari oleh semua pihak.
Jogja hidup dari ruang budayanya. Malioboro, sungai, sekolah, dan permukiman adalah bagian dari wajah kota.
Kerja bakti adalah pintu masuk, tetapi kota yang benar-benar aman, sehat, resik, dan indah baru terwujud ketika kebersihan berubah dari kegiatan menjadi kebiasaan.

















