INDRALAYA, fornews.co – Tanah kering dan bergambut seluas kurang lebih 1.200 hektar yang berada di perbatasan Kota Palembang, menjadi karakeristik luasan lahan Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel).
Penghasilan warga Desa Pulau Semambu sebagian besar diperoleh dari sektor pertanian. Mata pencaharian pertanian yang tergantung musim akan sangat tak menentu tergantung dengan alam.

Kekeringan menjadi masalah khusunya pada musim kemarau, dimana kebun tidak produktif akibat tidak ada sumber pengairan. Warga akan beralih dari petani menjadi pekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan semasa musim kemarau, ditambah kebakaran lahan gambut yang menjadi bencana ekologis kabut asap, yang mengancam kesehatan warga desa.

Hal ini menimbulkan permasalahan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang diperparah dengan perubahan iklim. Ancaman kekeringan tersebut menemukan angin segar, setelah PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Integrated Terminal (IT) Palembang menginisasi lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sinergi Semambu.

Dengan metode pemberdayaan masyarakat berupa bantuan, pelatihan dan pendampingan. Secara terintegrasi dilakukan dengan pembuatan sumur bor, filtrasi irigasi, pemberian bantuan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan berbagai peralatan dan pelatihan.

Dengan bantuan ini tercipta irigasi modern dengan sistem Spider Web Irrigation System (SWIS) berbasis tenaga surya, dimana air dari sumur bor disedot dengan tenaga listrik yang dihasilkan mini PLTS dialirkan ke penampungan setinggi kurang lebih 30 meter, selanjutkan air didistribusikan ke lahan dengan penyemprotan otomatis.

Sumber air yang dihasilkan ini juga akan distribusikan ke rumah warga setelah melalui sistem filtrasi yang dipasang di tandon penampung air sehingga aman untuk kebutuhan rumah tangga dan konsumsi. Listrik yang dihasilkan PLTS dapat menerangi rumah dan kandang ternak dan ini dapat mengurangi pengeluaran listrik.

Irigasi modern energi surya ini telah berhasil menjadi solusi nyata atasi kekeringan. Kebun yang biasanya produktif hanya pada musim hujan kini bisa menghasilkan sepanjang tahun, kesulitan airpun tidak lagi menjadi momok.

Selain itu dampak luar biasa dari program ini adalah penurunan signifikan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hal ini terjadi karena lahan gambut yang kering dan terbakar kini menjadi produktif, dan tersedianya cadangan air yang cukup untuk pemadaman jika terjadi karhutlabun.

Berjalannya program ini membuat pendapat para petani meningkat, sehingga dapat memenuhi berbagai kebutuhan dari rumah tangga, pendidikan anak, hingga modal untuk berkebun dan berternak.

Tidak hanya sebatas itu pengembangan dan perluasan potensi desa dilakukan dengan dampingan dan transfer pengetahuan seperti peternakan ayam dan kambing, serta pengembangan produk turunan seperti keripik bayam yang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.

Kerja kolaborasi ini membuat Desa Pulau Semambu menjadi desa tangguh yang mampu menggabungkan kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, dan kelestarian lingkungan. Ini terbukti dengan raihan penghargaan Desa Program Kampung Iklim (ProkKlim) Lestari tahun 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Program ini juga menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan Pertamina, sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) tentang penanganan perubahan iklim.
Kini dihamparan lahan kebun kangkung yang dipanen senyum Yatina bersama suami Sungkono, serta 130 petani lainnya akan selalu menghiasi hijaunya kebun di hari-hari yang penuh harapan baru di Desa Energi Berdikari Pertamina, Selasa (14/10/2025). (ful)
















