JOGJA, fornews.co — Pemanfaatan lahan sempit untuk pertanian terus menjadi tren di Kota Jogja dan wilayah sekitarnya.
Gerakan ini mendorong ketahanan pangan mandiri di tingkat keluarga, salah satunya dilakukan oleh Sholehuddin, warga Padukuhan Grubug, Nanggulan, Kulon Progo, DIY.
Sholeh memanfaatkan area sempit di lantai atas garasinya yang berukuran 14×6 meter untuk ditanami beragam sayuran konsumsi.

Ia mengaku mulai menanam sejak 2003, bermula dari satu jenis tanaman hingga kini belasan jenis pernah ia coba.
“Dengan menanam sayuran sendiri, tidak perlu belanja ke pasar. Minimal hemat Rp50 ribu per hari,” ujarnya kepada fornews.co.
Inspirasi itu datang setelah ia menonton video warga Jepang yang memanfaatkan lantai atas rumah sebagai kebun.
Kini, Sholeh menanam pare, cabai, labu, tomat, terong, salad, bayam, sawi, hingga berbagai bumbu dapur.

Menariknya, ia tidak mengeluarkan biaya untuk media tanam. Limbah spanduk ia sulap menjadi wadah pengganti polybag, sementara media tanam dibuat dari sekam, tanah, pupuk kandang, dan kompos berbahan sampah organik.
“Allaah sudah memberi tanah dan pupuk alami. Semua gratis, tinggal kita manfaatkan,” ujarnya.
Alih-alih dijual, seluruh hasil panennya ia bagikan kepada para tetangga. Bagi Sholeh, kebermanfaatan panen yang dirasakan warga sekitar jauh lebih penting.
Gerakan sederhana ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak harus menunggu lahan luas, cukup kemauan, kreativitas, dan kepedulian untuk berbagi.
















