YOGYAKARTA, fornews.co—Jemparingan telah menjadi ikon bagi warga kampung Pujokusuman, kelurahan Keparakan, kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta. Namun, peminat jemparingan di Yogyakarta masih kesulitan mendapatkan anak panah.
“Sayangnya untuk anak panahnya, di Kota Jogja sendiri belum ada yang memproduksi,” kata Danang pegiat jemparingan yang tergabung di komunitas jemparingan Hantu Maut.
Meski tidak mudah mendapatkan anak panah karena harus dibeli di luar Kota Yogya, pelatihan pembuatan anak panah pernah diusulkan pada Musrenbang Kemantren Mergangsan pada tahun 2020. Karena pandemi usulan itu ditangguhkan.
Padahal, kata Danang, anak-anak di Kota Yogyakarta mulai menyukai jemparingan. Ini dapat menjadi ruang kreatif untuk menumbuhkembangkan karakter melalui panahan.
Bagi orang Jawa, jemparingan atau panahan yang sudah ada di masa Kerajaan Mataram Islam, memiliki makna filosofi tinggi.
Namun, sejak Sri Sultan Hamengku Buwono I membawa jemparingan ke dalam Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, jemparingan bertujuan membentuk manusia berwatak kstaria.
“Pamenthanging gandewa pamenthenging cipta” yang berarti pemanah menggunakan hatinya untuk mengincar sasaran, tidak lagi menggunakan bidikan mata, melainkan berdasarkan perasaan.
“Tujuannya bukan lagi untuk persiapan pertempuran, tetapi untuk membentuk watak ksatria,”katanya, Rabu.
Jemparingan gaya Mataram Yogyakarta berbeda dengan panahan pada umumnya karena cara membidik sasaran tidak dengan mata melainkan dengan perasaan.
Dijelaskan Danang, posisi busur yang berada di depan perut dengan posisi terlentang menjadikan bidikan berdasarkan perasaan. Ini memberikan pemahaman bahwa mengincar dengan hati merupakan hal yang utama.
Konon, tradisi kegiatan memanah dalam posisi duduk bersila itu disebabkan oleh bentuk bangunan di Yogya (baca Jawa) yang rata-rata cukup rendah.
Memanah dalam posisi duduk juga membuat perasaan pemanah menjadi lebih tenang.
Bagi warga kemantren Mergangsan, jemparingan secara rutin dilakukan oleh anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia.
Latihan setiap Senin, Rabu, dan Jum’at, pukul 16.00 WIB rutin dilakukan secara mandiri di komplek Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pujokusuman.
Sedangkan setiap Sabtu Pahing, komunitas jemparingan Hantu Maut mengadakan gladen gede, yakni pertemuan besar bagi pemanah dari bebagai daerah di luar Kota Yogyakarta.
Selain menjadi ajang pertemuan, Gladen Gede itu menjadi ajang tempat latihan bersama atau bertanding persahabatan bagi para pemanah dari berbagai usia.
Danang berharap tradisi budaya jemparingan dapat dilestarikan di setiap kampung di Kota Yogyakarta. Dirinya pun menyilakan bagi yang ingin berlatih atau belajar jemparingan.
“Kami siap mendampingi komunitas-komunitas jemparingan di luar Pujokusuman hingga mandiri,” kata Danang. (adam)

















