PALEMBANG, fornews.co – Ambrolnya badan Jembatan Pematang Panggang saat dilintasi truk, bukan hanya karena faktor overload, namun juga dikarenakan hal lain.
Staf Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR RI, CH. Kornel M.T. Sihaloho mengatakan, kendala yang dialami di jembatan itu bukan hanya dari kendaraan yang overload saja, tetapi yang membuat semakin rumit kendaraan yang tersangkut di jembatan juga mengalami over dimensi. Kondisi over dimensi ini bisa menyebabkan penyanggah-penyanggah yang ada pada jembatan ikut tertarik jika proses evakuasi truk tersebut tidak dengan hati-hati dan didukung peralatan yang memadai.
“Pekerjaan saat ini belum dimulai, tapi alat-alat sudah dimobilisasi. Kita masih fokus untuk mengevakuasi kendaraan yang nyangkut,” katanya ditemui usai Rapat Koordinasi di The Alts Hotel Palembang, Selasa (18/06).
Menurut Kornel, proses evakuasi dan perbaikan jembatan membutuhkan waktu paling cepat sekitar dua minggu. Oleh karenanya, untuk sementara pengendara yang melintas diarahkan ke jalan tol.
“Butuh 14 hari sejak kendaraan nyangkut disana bisa di evakuasi. Artinya tol disituasionalkan. Tapi karena di jalan tol belum ada penerangan maka tol juga dibuka dari jam 06.00 – 14.00 WIB,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumsel Kombes Pol Dwi Asmoro menerangkan, Dirlantas bekerjasama dengan Polres OKI akan melakukan rekayasa lalu lintas di wilayah terdampak.
“Berdasarkan hasil rapat koordinasi, bila tol Palembang-Lampung tidak bisa dilintasi karena dalam pengerjaan, maka semua arus lalu lintas dialihkan melalui Jalinteng. Bila kondisi di lapangan mengalami kemacetan, baru secara situasional tol Palembang-Lampung dibuka,” kata Dwi.
Menurut Dwi, selama perbaikan Jembatan Pematang Panggang, seluruh kendaraan baik pribadi maupun angkutan barang akan dialihkan melalui lintas tengah. Selain itu, Dwi mengimbau kepada masyarakat yang hendak menuju ke Lampung, diharapkan melewati Indralaya-Prabumulih-Muara Enim. Karena jika pengendara lewat Prabumulih masuk ke Beringin maka akan berbahaya dikarenakan kondisi jalan yang rusak.
“Jangan lewat Beringin, karena ada jalan longsor dan berbahaya buat kendaraan yang bermuatan tinggi,” tegasnya.
Sementara itu dari pantauan di lapangan, kemacetan masih terjadi di ruas Jalan Lintas Timur (Jalintim) tepatnya di Kecamatan Kayuagung, Kabupaten OKI dan Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir, Selasa (18/06). Hal ini merupakan imbas dari ambrolnya Jembatan Way Mesuji di KM 174 atau Jembatan Pematang Panggang, Sabtu (15/06) malam lalu.

Penumpukan kendaraan ini didominasi kendaraan pribadi dan angkutan barang baik truk sedang maupun besar. Selain itu, adanya beberapa kendaraan jenis truk besar yang terlanjur masuk ke arah Kota Kayuagung (pintu Tol Celikah) semakin membuat rute perjalanan ini semakin padat.
Untuk mengurai padatnya lalulintas ini, pihak-pihak terkait telah melakukan berbagai langkah antisipasi diantaranya dengan membuka kembali fungsional Tol PPKA serta mengalihkan arus kendaraan khususnya kendaraan besar untuk melalui Jalan Lintas Tengah (Jalinteng).
Disamping itu, selama padatnya kendaraan yang lalu-lalang di Jalintim ini aparat kepolisian tetap akan melakukan berbagai upaya di lapangan agar penumpukan kendaraan tidak terjadi. “Akan terus kita upayakan agar lalu lintas ini bisa terurai,” kata Kanit Laka Satlantas Polres OKI, Ipda Tri Sapto saat dikonfirmasi.
Menurutnya, untuk mengurai kendaraan yang menumpuk di wilayahnya ini, awalnya sedikit sulit karena kendaraan yang datang terus bertambah, dan diperparah dengan beberapa truk Fuso yang terlanjur masuk ke jalan dalam Kota Kayuagung.
“Kita terus arahkan mereka ke jalan yang lebih lengang, dan terus berkoordinasi dengan pihak lain termasuk dari wilayah lain,” tandasnya. (irs/rif)
















