fornews.co — Sabtu siang, 11 Oktober, Jogja terasa seperti tungku besar. Udara bergetar panas, memantulkan cahaya di halaman SMK Bopkri 2, Bintaran.
Dari dapur praktik sekolah aroma keju yang meleleh bercampur dengan wangi ayam goreng mentega menguap pelan, membentuk kabut tipis di udara.
Di tengah riuh suara spatula dan wajan, seorang perempuan berkacamata bulat mirip Moscot, berambut pendek agak pirang tampak mengipasi wajahnya.
“Hari ini cukup panas,” katanya dalam bahasa Indonesia sedikit terbata.
Perempuan itu adalah Margaux Nemmouchi, Direktur Institut Français Indonesia (IFI) Jogja. Siang itu, ia bukan hanya menyaksikan lomba memasak Chicken Cordon Bleu antar-SMK se-DIY, tetapi juga menghadirkan sebuah ironi indah makanan aristokrat Prancis yang lahir di tengah sejarah ketimpangan, kini dimasak oleh tangan-tangan muda Indonesia di sekolah bekas peninggalan kolonial Belanda.
Sekolah yang menjadi tempat berlangsungnya perlombaan bukan sembarang sekolah. SMK Bopkri 2 berdiri di atas bangunan tua bergaya indis yang dibangun pada 1919, saat Hindia Belanda masih berkuasa.

Dinding yang tebal, jendela besar, dan ventilasi dibuat tinggi agar angin mengalir di tengah teriknya tropis. Dahulu gedung itu bernama Prinses Juliana School (PJS), sekolah teknik pertama untuk pribumi.
Kini, di ruang yang pernah jadi bengkel teknik, berdiri meja-meja stainless, wajan modern, dan oven digital. Di sinilah sejarah dan modernitas menjadi istimewa.
Di tempat yang dulu menjadi simbol pendidikan kolonial itu, kini para siswa Boga menafsir ulang resep klasik Prancis–Chicken Cordon Bleu–dengan sentuhan lokal.
Chicken Cordon Bleu adalah hidangan klasik Eropa berupa dada ayam tanpa tulang yang diisi dengan keju dan ham (atau smoked beef), lalu digulung, dilapisi tepung roti, dan digoreng hingga renyah.
Hidangan ini menyajikan perpaduan rasa yang gurih dan asin dengan tekstur luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut serta juicy.

Margaux dan Makanan yang Menyimpan Kenangan
Bagi Margaux, lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi kuliner. Ia membawa kenangan masa kecilnya ke dapur itu.
“Saya mencintai Chicken Cordon Bleu sejak umur empat tahun,” katanya dalam bahasa Prancis yang diterjemahkan asistennya Inta Fitriya Devi.
Bagi Margaux, makanan adalah bahasa universal cara manusia berhubungan tanpa perlu kata-kata.
Di bawah kepemimpinannya saat ini, IFI Jogja menjadikan gastronomi sebagai alat diplomasi untuk berbagi, bukan hanya tentang rasa, tapi juga kisah di balik setiap bahan tentang pertanian, lingkungan, hingga budaya meja makan.
Namun, Chicken Cordon Bleu bukan sekadar hidangan berisi ayam, keju, dan ham. Namanya, cordon bleu, berarti “pita biru” yang menjadi lambang kehormatan tertinggi bagi para kesatria Prancis pada abad ke-16.
Versi modernnya muncul di Paris sekitar tahun 1840-an, masa ketika Eropa sedang mabuk kemewahan dan Hindia Belanda tengah dililit sistem tanam paksa (cultuurstelsel).
Sementara para bangsawan Prancis menyantap daging sapi muda berbalut keju dan saus mentega, para pribumi Jawa menanam kopi dan tebu untuk kekayaan yang tidak pernah mereka nikmati.
Dua dunia berjalan sejajar, satu memanjakan lidahnya, satu lagi menahan lapar
Sebelum revolusi, Prancis terbagi bukan hanya oleh kelas sosial, tapi juga oleh makanan.
Dalam tulisan George Dilliard berjudul “Sejarah Chicken Cordon Bleu”, di Versailles, Marie Antoinette menyantap empat jenis sup dan dua lusin hidangan daging dalam satu jamuan makan.
Di desa-desa Prancis, rakyat jelata bertahan hidup hanya dengan roti keras dan bubur gandum.
Ketika harga roti melambung hingga menelan 80 persen upah buruh, amarah pun meluap.
Roti menjadi bahan bakar revolusi, dan kepala para bangsawan berguguran di bawah guillotine.
Ironisnya, dari reruntuhan revolusi itu pula lahir dunia kuliner modern. Para koki istana yang kehilangan majikan membuka restoran pertama di Paris.
Dari sanalah Le Cordon Bleu muncul sebagai simbol baru keahlian bukan lagi milik bangsawan, tapi hasil kerja keras. Namun, ini tidak ada hubungannya dengan sekolah di London.

Gastronomi Sebagai Diplomasi
Di bawah kipas angin tua di ruang sekolah SMK Bopkri 2 Bintaran, semangat itu hidup kembali dalam versi lebih lembut. Siswa-siswi SMK Boga dari seluruh DIY mengolah ayam dan keju dengan penuh ketelitian.
Di antara lain yang ikut dalam perlombaan memasak yaitu SMK 1 Kalasan, SMK Berbudi, SMK Muhammadiyah 4, SMK 1 Sewon, dan tuan rumah SMK Bopkri 2.
Margaux menyebut lomba ini sebagai “perayaan meja makan.”
“Dalam satu meja, semua orang duduk bersama tanpa perbedaan,” ujarnya. “Kita semua setara di hadapan makanan.”

Di tengah ruang berarsitektur kolonial itu, Cordon Bleu bukan sekadar resep. Ia adalah metafora tentang perjumpaan dua dunia–Eropa dan Nusantara–masa lalu dan masa depan, panas Jogja dan dinginnya adalah dapur Prancis.
Margaux memandangi para peserta yang menata piring saji dengan hati-hati.
“Inilah bentuk diplomasi paling sederhana,” ujarnya pelan. “Kita berbicara lewat rasa.”
Dan mungkin, di antara aroma ayam goreng dan keju yang mencair itu, sejarah berputar kembali dengan cara yang lebih lembut, lebih manusiawi, dan tentu saja, lebih lezat.
“Kami ingin berbagi bukan hanya resep, tapi juga cerita di baliknya tentang pertanian, lingkungan, dan keberlanjutan,” ujar Margaux melalui asistennya, Inta Fitriya Devi.
Hidangan ini memang kaya makna sejarah. Ketika resep ini berkembang di Paris pada 1840-an, di belahan bumi lain–di Jawa–rakyat sedang menanggung beban tanam paksa.

Dua dunia yang berbeda nasib itu kini bertemu kembali lewat piring saji di Jogja.
Bagi para siswa SMK, lomba ini adalah ruang belajar sekaligus jembatan lintas budaya. Mereka menimbang adonan tepung, mencairkan keju, dan menata piring dengan cermat. Di antara mereka, ada yang berbisik, “rasanya seperti chef Prancis,”
“Inilah perayaan meja makan. Semua duduk bersama, tanpa perbedaan. Kita semua setara di hadapan makanan,” kata Margaux.
Sejarah, rasa, dan manusia bersatu di atas satu meja. Mungkin di situlah, diplomasi paling lembut bekerja bukan lewat pidato atau dokumen resmi, melainkan lewat aroma keju yang mencair perlahan, mengikat dua bangsa dengan rasa yang sama lezat, hangat, dan penuh cerita.
















