JOGJA, fornews.co — Pierre Emmanuel Barth menyebut film Indonesia masih sulit menembus pasar dunia.
Mantan Kepala Pemasaran Pathé France yang kini tinggal Jogja itu tidak menampik banyak karya-karya film Indonesia yang bermunculan.
Namun, sangat jarang film Indonesia yang dapat menembus pasar dunia–kecuali “Daun di Atas Bantal” karya Garin Nugroho.
“Kebanyan film di Indonesia mengangkat tema horor dan komedi, ini sangat sulit menembus pasar dunia,” katanya dalam Creative Crossroads yang digelar IFI-LIP Jogja, Kamis, 16 Oktober 2025.
Kata Pierre, film asal Kanada, US, UK, Korea, Jerman, China, dan Spanyol, malah lebih sering menembus pasar dunia.
Pierre diketahui pernah dipercaya menangani pemasaran dan promosi film selain tugas-tugas tradisional sebagai direktur pemasaran.
Pandangan tajam Pierre terhadap film Indonesia menjadi pemantik bagi sineas maupun penyelenggara film di Indonesia untuk lebih kreatif dan selektif memilah-milih film yang dapat menembus pasar dunia.
“Apa yang diungkapkan Pierre dapat mendorong film Indonesia untuk tidak mempertahankan film berjenis horor maupun komedi,” kata Resti salah satu yang hadir dalam acara itu.
Resti punya harapan besar film Indonesia mampu diterima masyarakat luas di luar negeri asalkan tidak melulu horor dan komedi.
Ia memberi contoh film-film fiksi yang berkaitan dengan sains yang dapat memberikan pengetahuan keilmuan kepada penonton.
Berbeda dengan film horor atau komedi yang tidak memberikan apa-apa–kecuali hanya hiburan semata.
Acara yang digelar oleh IFI-LIP Jogja tersebut menyoroti film-film Indonesia sekaligus memperkenalkan sejumlah festival film internasional.
IFI menyebut empat festival dalam acara ini antara lain Festival Film Dokumenter dan Mois du Doc, Festival Kineidoscope, Festival Sinema Prancis, dan CRAFT International Animation Festival.
Creative Crossroads juga dihadiri oleh komunitas film, profesional muda, dan lembaga internasional.
Selain itu, juga ada pemutaran film karya sutradara Indonesia, Riskya Duavania berjudul “Il n’y a pas de mots”.
La Ultima Cena karya Lara (Paraguay), The Courtesan’s Ubermensch karya Fabrice Sidoine (Cameroon), In Between Dream karya Arista, There Are No Words karya Rsikya Duavina (Indonesia), dan Everything Is Wind karya Jingyi (China).
IFI-LIP Jogja menyebut melalui kegiatan ini berkomitmen mendukung pertumbuhan ekosistem perfilman di Indonesia.

















