PALEMBANG, fornews.co – Dukungan terhadap Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin terus mengalir. Kali ini giliran Alumni Sriwijaya Bersatu yang mendeklarasikan dukungan kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 ini.
Deklarasi diselenggarakan di Palembang Sport & Convention Center (PSCC) Sabtu (09/03). Pernyataan dukungan ini pun dihadiri langsung Capres Joko Widodo.
“Dengan ini, kami menyatakan bersama-sama menyatukan suara untuk Indonesia Maju bersama Jokowi dan KH Ma’ruf Amin,” ujar Ketua Alumni Sriwijaya Bersatu, Eddy Ganefo.
Eddy menegaskan, Alumni Sriwijaya Bersatu siap menjaga Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta mendukung penuh Jokowi melanjutkan kembali kepemimpinannya.
“Kami mendukung penuh Jokowi menjadi presiden 2 periode. Semoga doa kami terwujud Jokowi – KH Ma’ruf Amin menjadi Presiden dan Wapres RI periode 2019-2024,” katanya.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh Alumni Sriwijaya Bersatu yang menyempatkan diri hadir dari seluruh penjuru Indonesia untuk menyatakan dukungan kepada dirinya.
“Terima kasih sebesar-besarnya. Sekali lagi terima kasih,” kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, Indonesia harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang berpengalaman seperti dirinya. Tidak hanya pernah menjadi Wali Kota di Solo, Jokowi juga pernah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta sebelum akhirnya mendapat amanah duduk di kursi Presiden RI.
“Negara sebesar Indonesia dengan 17 ribu pulau, 260 juta penduduk tidak mudah mengelolanya. Dibutuhkan pengalaman dalam pengelolaannya. Jangan sampai (kepemimpinan) negara sebesar ini diberikan pada orang yang belum berpengalaman. Jangan sampai rakyat dibawa kepada hal yang pesimis. Rakyat perlu dipompa semangat dan motivasinya agar semua optimis. Jangan sampai rakyat ditakuti Indonesia akan bubar dan punah, itu namanya mengajak rakyat untuk pesimis,” tegasnya.
Jokowi juga menyampaikan pesan agar pendukungnya lebih militan dalam membantah berita dan isu yang tidak benar tentang dirinya. Sebab, beberapa berita hoaks dan isu seperti kriminalisasi ulama, melegalkan pernikahan sejenis, dan larangan azan membuat elektabilitasnya turun hingga 8%.
“Kita harus militan. Ini penting. Sampaikan kepada teman dan masyarakat secara door to door, bahwa (informasi) yang benar itu benar, yang salah itu salah,” tukasnya. (irs)
















