PALEMBANG, fornews.co – Puluhan massa yang datang dari Kabupaten Lahat mendatangi gedung Bawaslu Sumsel. Mereka menuntut bertemu dengan komisioner Bawaslu untuk menyampaikan aspirasi mereka soal dugaan kecurangan di Pilkada Lahat.
Tiba di gedung Bawaslu sekitar pukul 14.15 WIB, massa yang berasal dari GARPU (Gerakan Rakyat Anti Politik Uang), GRAMP (Gerakan Rakyat Anti Money Politics) dan Aliansi Kelompok Cipayung Kabupaten Lahat langsung menggelar orasi mengenai dugaan kecurangan di Pilkada Lahat yang dilakukan salah satu paslon. Sempat terlibat saling dorong dengan petugas kepolisian yang mengamankan gedung Bawaslu, situasi mereda saat perwakilan massa diterima ke dalam.
Perwakilan massa membawa berkas dan bukti lain soal dugaan kecurangan paslon nomor urut 3 yaitu Cik Ujang – Haryanto yang melakukan praktik money politics secara terstruktur, sistematik dan masif (TSM). Berdasarkan laporan masyarakat dan investigasi di lapangan, paslon Cik Ujang – Haryanto melalui tim suksesnya membagi-bagikan uang dengan nominal Rp150.000 – Rp200.000 kepada masyarakat disertai ajakan memilih paslon nomor urut 3 pada Pilkada Lahat 2018.
Bahkan aksi money politics itu melibatkan tim sukses dan pengurus partai, termasuk dua orang anggota DPRD, dan dilakukan di 24 kecamatan di Kabupaten Lahat, melibatkan 60% kepala desa, 60% perangkat RT/RW, anggota Panwas kecamatan dan anggota KPPS di Kabupaten Lahat.
“Temuan dan data soal dugaan money politics itu sudah kami kumpulkan dan laporkan ke Gakkumdu dan Panwaslu Lahat, akan tetapi kasus ini sepertinya dibiarkan oleh Panwaslu dan PPL yang bertugas di Kabupaten Lahat,” ujar Koordinator GARPU Khairul Anwar pada orasinya di depan gedung Bawaslu Sumsel, Selasa (03/07).
Sekitar pukul 15.45 WIB perwakilan massa yang diterima komisioner Bawaslu keluar dan menerangkan bahwa sampai detik ini, keputusan Bawaslu tidak jelas.
“Hal ini menunjukkan ketidakberpihakan Bawaslu pada kita yang menolak money politics. Ada opsi menyandingkan data tapi Bawaslu tidak berani. Mereka (Bawaslu) menyebutkan data kita kurang dari 50%,” kata Koordinator GRAMP Saryono.
Hingga pukul 16.35 WIB, komisioner Bawaslu dan perwakilan massa masih berdiskusi di dalam gedung Bawaslu. Sementara massa di luar berkumpul di median Jalan OPI Raya. Satu jalur jalan yang menuju ke komplek OPI pun ditutup mulai dari simpang OPI. (ije)

















