JOGJA, fornews.co – Di tengah menjamurnya kafe modern dan ruang komersial di Jogja, sebuah ruang sederhana bernama Tegal Pakel justru menawarkan pengalaman yang berbeda.
Berawal dari lahan yang lama terbengkalai dan dipenuhi timbunan sampah, tempat ini disulap menjadi ruang temu yang mengedepankan percakapan, kesetaraan, dan kehidupan sosial ketimbang sebatas menjual makanan atau kopi.
Gagasan itu lahir dari Enrico bersama Lila Novi Astanti. Keduanya membangun Tegal Pakel bukan semata sebagai bisnis kuliner, melainkan sebuah eksperimen sosial yang berangkat dari hal-hal kecil yang kerap dilupakan masyarakat.
“Saya memposisikan diri sebagai orang luar Jogja yang sedang belajar tentang Jogja,” kata Enrico kepada fornews.co.
Saat ini Enrico tengah menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Sanata Dharma pada program Kajian Budaya, Seni, dan Masyarakat. Perspektif akademiknya berpadu dengan pengalaman keseharian dalam merancang Tegal Pakel sebagai ruang hidup yang dekat dengan masyarakat.
Menurut Enrico, konsep yang dibangun sengaja mengambil bentuk warmindo, tempat makan sederhana yang akrab bagi hampir semua kalangan di Jogja.
“Warmindo itu standar di Jogja, tidak mewah. Justru menarik karena siapa pun tidak takut datang ke sana. Orang dari kelas sosial mana pun bisa duduk, makan, lalu ngobrol,” ujarnya.
Baginya, percakapan merupakan inti dari ruang tersebut. Saat orang mulai berbincang, sekat-sekat sosial perlahan menghilang.
“Kalau sudah makan dan ngobrol, orang jadi lebih waras. Ruang seperti itu yang kami bayangkan,” katanya.
Tegal Pakel juga dibangun dengan pendekatan arsitektur yang sederhana. Beragam material bekas seperti kayu dan seng gelombang dimanfaatkan tanpa berusaha menutupi kesan apa adanya.
Enrico sengaja membiarkan pengunjung memaknai sendiri bangunan tersebut. Ada yang mengasosiasikannya dengan bedeng, bangunan lawas, bahkan memunculkan berbagai imajinasi tentang masa lalu.
Seluruh sisi bangunan dirancang dapat dibuka sehingga ruang terasa terbuka dan mudah beradaptasi dengan berbagai aktivitas.
“Kontemporer, tetapi tetap punya rasa Jogja. Orang bisa melihat masa lalu, tetapi juga membayangkan masa depan,” ujarnya.
Sosok lain di balik Tegal Pakel adalah Lila Novi Astanti, seorang perancang busana sekaligus penulis. Bukunya telah diterbitkan berjudul “Antologi puisi 55281” yang diambil dari kode pos salah satu kawasan di Jogja.
Selain berkarya di bidang sastra, Lila juga dikenal sebagai penari klasik. Ia pernah mewakili Indonesia tampil di Rusia melalui prakarsa budayawan Jaya Suprana. Hubungannya dengan wartawan senior Kompas, Ninok Leksono, juga membawanya tampil di berbagai panggung seni di sejumlah negara.
Latar belakang seni dan budaya yang dimiliki Lila turut memberi warna pada konsep Tegal Pakel yang memadukan ruang kreatif dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Meski mengaku tidak melulu mengejar keramaian, Enrico dan Lila justru membatasi kapasitas pengunjung agar interaksi tetap terjaga.
Dalam satu waktu, mereka lebih nyaman menerima sekitar 20 orang sehingga tetap memiliki kesempatan melayani berikut berbincang dengan setiap tamu.
Sebagian besar pengunjung datang secara spontan. Ada warga sekitar, komunitas, hingga orang yang kebetulan melintas lalu mampir karena penasaran.
Komunitas pecinta bangunan dan kawasan lawas rutin berkumpul setiap pasaran Pahing. Sementara saat Pasar Tiban digelar, jumlah pengunjung memang meningkat, tetapi suasana tetap dijaga agar tidak kehilangan kekhasan tradisionalnya.
“Kalau terlalu ramai, kami justru tidak bisa ngobrol. Padahal itu yang paling penting,” seloroh Enrico.
Kini Tegal Pakel bahkan telah menjadi titik temu berbagai komunitas. Ada kelompok yang rutin singgah sebelum beraktivitas malam, menikmati kopi, berbincang, lalu kembali lagi setelah kegiatan selesai untuk melanjutkan diskusi hingga larut malam.
Kesederhanaan juga tercermin dari menu yang disajikan. Pengunjung bisa menikmati mi instan lengkap dengan telur, kopi, hingga olahan singkong.
Namun bagi Enrico, yang dijual bukan hanya makanan dan minuman.
“Orang datang bisa makan Indomie, minum kopi, atau singkong. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah obrolannya. Dari situ kita mengenal manusia. Itu yang menyenangkan,” ujarnya.
Di tangan Enrico dan Lila, Tegal Pakel dibuktikan bahwa ruang sederhana dapat menghadirkan makna besar.
Berangkat dari lahan yang pernah terlupakan, tempat ini tumbuh menjadi ruang publik alternatif yang menghidupkan kembali tradisi bertemu, berbincang, dan membangun relasi antarmanusia, sesuatu yang semakin langka di tengah kehidupan kota yang kian sibuk.
















