JOGJA, fornews.co—Tidak ingin tradisi dan sumber mata air hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu warga Padukuhan Karangwuni, Kelurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menggelar Merti Umbul.
Melalui Merti Umbul, masyarakat membangun gerakan bersama untuk merawat sumber air sekaligus menghidupkan kembali berbagai kesenian dan potensi budaya lokal.
Ketua Panitia Merti Umbul, Udi Artya Setyawan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kesadaran kolektif warga terhadap pentingnya menjaga keberadaan sumber mata air.
Menurut Udi, mata air bukan hanya menjadi kebutuhan manusia, tetapi juga menopang kehidupan lingkungan dan ekosistem di sekitarnya.
“Kegiatan Merti Umbul adalah gerakan kita semua untuk sadar secara kolektif merawat keberadaan sumber mata air. Kita sadar betul bahwa sumber mata air ini menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat, baik manusia maupun alam lingkungan,” kata Ketua RW.02 Padukuhan Karangwuni.
Karena itu, warga didorong tidak berhenti hanya pada kegiatan yang digelar. Merti Umbul akan dilanjutkan dengan program revitalisasi belik (mata air) pada tahun mendatang.
Air dari umbul selama ini dialirkan menuju belik yang juga menjadi bagian penting dari tata kelola sumber air masyarakat.
“Dengan adanya umbul ini, air dialirkan ke belik. Kemudian belik itu akan kita revitalisasi di tahun yang akan datang,” ujarnya.
Bagi warga Karangwuni, Merti Umbul yang digelar perdana pada Ahad, 23 Agustus, juga menjadi momentum untuk menghidupkan dan merawat budaya Jogja. Sejumlah kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari seni tari, jathilan hingga karawitan.
Kegiatan tersebut bahkan dikembangkan menjadi program yang lebih luas. Warga berencana menggelar kegiatan membatik dan mencetuskan motif batik khas Karangwuni yang diharapkan menjadi identitas budaya baru bagi wilayah tersebut.
“Dalam waktu dekat kami akan mencetuskan batik motif Karangwuni yang hanya dimiliki oleh Karangwuni,” kata Udi.

Tidak berhenti di sana, Karangwuni juga membuka ruang kolaborasi dengan mahasiswa asing yang tinggal di sekitar wilayah tersebut dan menempuh pendidikan di UGM.
Warga bekerja sama dengan lembaga yang menaungi mahasiswa Australia untuk menjadikan Karangwuni sebagai salah satu ruang belajar budaya Jogja.
Salah satu program yang telah disepakati adalah pembelajaran seni karawitan secara langsung bersama masyarakat.
“Mahasiswa itu nanti akan belajar bersama kami, belajar seni karawitan,” ujarnya.

Ruang kolaborasi juga dibuka bagi komunitas seni rupa. Dalam kegiatan Merti Umbul, komunitas Sumber Art Community (SAC) melakukan aktivitas melukis secara langsung dengan mengangkat tema Merti Umbul.
Menurut Udi, kehadiran para seniman menjadi bagian penting dalam memperluas apresiasi sekaligus memperkenalkan potensi Karangwuni kepada masyarakat yang lebih luas.
Ia berharap para seniman tersebut ke depan dapat masuk dalam program kolaborasi dengan wisatawan asing, sehingga kesenian lokal tidak hanya hidup di tengah masyarakat, tetapi juga dapat menjadi pintu pengenalan budaya Jogjakarta kepada dunia.
“Kami sangat senang dengan keberadaan teman-teman seni lukis. Kami berharap nanti mereka juga bisa masuk program kami untuk berkolaborasi dengan wisatawan asing guna memperkenalkan berbagai potensi seni yang ada di wilayah Padukuhan Karangwuni,” ungkapnya.
Udi menegaskan, gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya warga menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan, kebudayaan dan pengembangan potensi masyarakat.
“Junjung terus seni budaya lokal, seni budaya Jogjakarta. Kita perkenalkan ke mancanegara supaya ini menjadi kebanggaan kita semua, khususnya bangsa Indonesia,” tandas.
















