JOGJA, fornews.co – Keragaman latar belakang seniman menjadi kekuatan utama dalam Pameran Seni Rupa “Merdeka dalam Perbedaan”.
Pameran yang mempertemukan puluhan seniman dari berbagai daerah di Indonesia ini berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Galeri Bale Gadeng, Jalan Kartini Nomor 1A.
Pameran yang resmi dibuka pada Sabtu, 15 Agustus 2026 mempertemukan puluhan seniman dari berbagai daerah di Indonesia.
Karya-karya yang ditampilkan menjadi ruang perjumpaan beragam gagasan, pengalaman, identitas, dan cara pandang terhadap kehidupan dalam bingkai kebhinekaan.
Pembukaan pameran dilakukan Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Hermawan, SE, MM. Kegiatan tersebut turut dihadiri penegelola Bale Gadeng, Tazbir Abdullah, M.Hum, para seniman peserta pameran, serta sejumlah pegiat seni dan budaya.
Pameran “Merdeka dalam Perbedaan” tidak hanya menampilkan karya seni rupa, tetapi juga menghadirkan sejumlah pertunjukan dan aktivitas pendukung. Di antaranya performance musik gitar tunggal oleh Rimawan Ardono akrab disapa Donas serta demonstrasi tekstil tanpa limbah yang dipandu oleh Petrus Chrisna.
Karya-karya yang dipamerkan berasal dari seniman dengan latar geografis yang beragam, mulai dari Jogja, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sumatra, hingga perwakilan seniman Indonesia di Tokyo.
Sejumlah nama yang tercatat sebagai peserta antara lain Yopy Lilyweri dari NTT, Bay Juri dari Jogja, R. Asri HW/Nino dari Pasuruan, Marmin Galnas dari Solo, Sithowati Sandrarini dari Jogja, Bono Pitengtangsen dari Wonosari, Liliek Priatmojo dari Klaten, Hery Maizul dari Jogja, Drajat Nurangkoso dari Banjarnegara, serta Barbara Natalia dari Ambarawa.
Peserta lainnya di antaranya Yan Santana Putubiung dari Bantul, Petrus Chrisna dan Angga Sukma Permana dari Jogja, Jati Suryono dari Bekasi, Achid Fotografi dari Bantul, Arfial Arsad Hakim dari Solo, Giovanni dari Semarang, serta sejumlah seniman yang tergabung dalam komunitas Roemah Difabel Semarang (KSD).
Keterlibatan KSD menjadi salah satu bagian penting dalam pameran ini. Sejumlah peserta dari komunitas tersebut antara lain Yohan, Danang, Rizky Amelia, Nike, Yuni, Rafi, Willi, Faradhela, Venan, Sheva, dan lainnya.
Pameran juga melibatkan sejumlah seniman senior dan akademisi seni, seperti Prof. M. Dwi Marianto, Prof. Rahayu Abdullah, serta Prof. Drg. Ahmad Syaify. Dari Jogja dan sekitarnya turut berpartisipasi sejumlah nama seperti Subandi Giyanto, Agoes Dancer, Aruman, Sutrisno dari Prambanan, Sriyadi Srintil dari Sleman, Taufik Soponyono, Anang S., Roni, Andang Suprihadi, M. Mursid dari Bantul, hingga Wiro dari Kalasan dan Donas dari Jogja.
Kehadiran seniman dari berbagai wilayah tersebut memperkuat pesan utama pameran bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan dapat menjadi sumber dialog dan kekayaan dalam penciptaan karya.
Selain seniman dari berbagai kota di Indonesia, pameran ini juga menghadirkan peserta dari jaringan Hellooart Lampung, termasuk Nadya Ajeng, Amiera Putri, Shammy Putra, Ashkia B. Zeamaya, serta M. Rasyid Ramadhan. Dari Tokyo turut berpartisipasi Ashka Zufar dan Ashkia B. Zeamaya.
Sementara dari Tasikmalaya hadir Dida Rusdi, Asep Wawan Setiawan, dan Zafar Oyok. Peserta lain datang dari Batam, Pringsewu Lampung, Wonogiri, Gunung Kidul, Pangkalpinang, hingga Kalimantan.
Dengan rentang peserta yang luas tersebut, “Merdeka dalam Perbedaan” menjadi semacam peta kecil perjalanan seni rupa Indonesia. Beragam karakter dan pendekatan artistik dipertemukan dalam satu ruang, tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.
Pameran dibuka setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB selama periode 15–30 Agustus 2026 di Galeri Bale Gadeng, Sagan.
Kehadiran pameran ini sekaligus menawarkan ruang alternatif bagi publik untuk menikmati seni rupa sekaligus melihat bagaimana keberagaman dapat dirayakan melalui karya seni.
















