PALEMBANG, fornews.co – Usai dikukuhkan Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru, kepengurusan Dewan Riset Daerah (DRD) Sumsel periode 2020-2022 ditantang untuk merekomendasikan inovasi atau teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Sumsel.
HD mengatakan, potensi pertanian di Sumsel sangatlah besar. Namun sayangnya hal itu belum optimal digarap untuk membawa kesejahteraan petani. Tak ingin petaninya menjadi buruh di tanahnya sendiri, HD berpendapat bahwa satu-satunya cara yang mendesak dilakukan adalah dengan meningkatkan produktivitas hasil pertanian dari sebelumnya dibawah 5 ton menjadi rata-rata 6 ton per hektare.
“Petani tidak bisa kita biarkan bergerak sendiri. Saya sering lakukan hitung-hitungan, mereka masih menjadi buruh di tanahnya sendiri dengan penghasilan Rp80.000 sampai Rp100.000. Makanya saya tantang bapak ibu sekalian (Dewan Riset Daerah) untuk membenahi pola pikir petani juga inovasi apa yang bisa dilakukan pada Alsintan (Alat Mesin Pertanian),” ujar HD saat mengukuhkan kepengurusan Dewan Riset Daerah (DRD) Sumsel periode 2020-2022 di Graha Bina Praja (Auditorium) Pemprov Sumsel, Selasa (27/10).
Menurut HD, alat pertanian cenderung sangat mahal mencapai ratusan juta rupiah sehingga sulit dijangkau para petani. Melalui inovasi alat pertanian diharapkan ada alternatif alat yang bisa dimanfaatkan petani untuk meningkatkan produksinya.
“Saya tentu perlu dibantu para ahli. Agar segala kebijakan ini kena sasaran, efektif dan efisien. Semuanya masih mungkin diperbaiki dan ini harus menjadi pemikiran komprehensif. Kita tidak bisa bergerak parsial,” katanya.
HD mengatakan, masukan dan pertimbangan para Dewan Riset sangat dibutuhkan apalagi menyangkut kebijakan yang melibatkan orang banyak. HD berharap setiap inovasi terus ditindaklanjuti perkembangannya sehingga tidak hanya menjadi gong yang bergema di awal saja.
“Saya mengajak mereka untuk membuat penelitian atau riset terhadap semua permasalahan yang ada, misal tentang bagaimana kita meningkatkan pangan, budaya, teknologi. Itulah yang menjadi pijakan untuk para pemimpin dalam mengambil kebijakan,” tutur HD.
HD menegaskan, hal paling penting yang harus diingat adalah jiwa mental inovator jangan hanya menjadi slogan karena sebenarnya inovasi bisa mulai dilakukan dari hal kecil dan murah.
“Saya pernah membuktikan sendiri saat menjadi Bupati (OKU Timur) bahkan sampai mendapat penghargaan pada 2007. Saya mendapat penghargaan karena dapat membangun daerah dengan cost rendah. Semua saya libatkan, mulai dari petani, buruh, ASN dan terpenting para ahli,” jelasnya.
HD pun membagikan 4 jurus utama dalam inovasi yakni 4S. Setiap orang adalah inovator, setiap masalah menjadi peluang inovasi, sinergi dalam menyusun solusi, dan setiap inovasi yang konkret hasilnya.
Sementara itu, Kepala Balitbangda Provinsi Sumsel Ekowati Retnaningsih menjelaskan, Dewan Riset Daerah mempunyai tugas dan fungsi memberikan masukan kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan melalui Balitbangda Provinsi Sumatra Selatan untuk menyusun arah, prioritas, serta kerangka kebijakan pemerintah daerah di bidang Iptek. Kemudian DRD juga sebagai gudang pakar (brain trust) yang berperan aktif untuk mencarikan alternatif pemecahan permasalahan Iptek yang dihadapi pemerintah provinsi.
Sementara itu mengenai total inovasi Sumsel sepanjang tahun 2019 yang berasal dari semua OPD dan lembaga Litbang serta perguruan tinggi mencapai 795 inovasi. Inovasi itu terdiri dari tata kelola pemerintah 70 inovasi, pelayanan publik 196 inovasi. Sedangkan inovasi lainnya 529. (ije)

















