
JAKARTA-Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengungkapkan, pelaku yang diduga akan meledakkan bom di Istana Negara, bakal melancarkan aksinya saat pergantian jaga pos penjagaan Istana Kepresidenan.
“Rencana serangan mereka sebetulnya memang di pos penjagaan Istana Kepresidenan itu. Pada saat terjadi pergantian jaga, itukan biasanya menarik banyak massa. Alhamdulillah serangan bom, dapat kita gagalkan sehingga tentunya tidak ada korban dan lain-lainnya,” ujar Tito, usai menghadiri pelepasan Presiden Joko Widodo, melakukan kunjungan kerja ke India dan Iran, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (11/12) malam.
Namun, dengan cekatan aparat keamanan berhasil menggagalkan rencana pelaku. Bahkan, sampai saat ini sudah enam orang terduga teroris yang berhasil ditangkap pihak kepolisian, setelah rencana mereka meledakkan bom di Istana Negara berhasil digagalkan oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri, Sabtu (10/12) lalu.
Mengenai keenam orang yang berhasil ditangkap oleh Tim Densus 88, Tito menjelaskan, mereka merupakan sel kecil yang langsung berhubungan dan didanai oleh Bahrun Naim. Mereka belajar cara membuat bom berdaya ledak tinggi termasuk bom pressurized cooker (panci nasi yang di-pressurized untuk bandeng presto) secara online. “Bukan rice cooker biasa ini, karena kalau ditekan dan ditutup itu memiliki daya ledak, mampet nanti dan bisa meledak. Prinsipnya seperti granat,” paparnya.
Lanjut Tito, dalang utama atau mastermind teroris yang berencana meledakkan bom di Istana Kepresidenan itu adalah Bahrun Naim, yang sekarang ada di Raqqa, Syiria. Dia pun berjanji, Polri akan tetap melakukan langkah-langkah koordinasi dengan mitranya di luar negeri untuk memburu Bahrun Naim. Densus 88 maupun jajaran Polri lainnya, bekerja sama dengan TNI, Pemda, serta semua jaringan intelijen seperti BIN dan lain-lain, untuk mendeteksi semua potensi-potensi serangan.
Saat ditanya wartawan terkait deteksi dugaan peledakan bom di Istana Kepresidenen, Tito mengemukakan rencana tersebut sudah dimonitor kurang lebih selama dua minggu baik di Solo, Bekasi, maupun tempat lainnya. “Begitu kemudian di kontrakan yang di Bintara, Bekasi, diyakini ada barang bukti maka digrebek dan ditangkap. Betul ada (barang bukti) dan dengan teknik-teknik tertentu maka mereka tidak bisa mengelak lagi,” tandasnya. (ekaf))
















