PALEMBANG, fornews.co – Bulu hidung kerap mengganggu penampilan seseorang. Namun, di balik itu ternyatabuluhkdu g memiliki fungsi yang penting bagi tubuh selain menangkal debu agar tak masuk ke sistem pernapasan.
Bulu hidung merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh. Adanya bulu ini membantu menghalau debu, alergen, dan partikel lainnya agar tidak masuk ke dalam paru-paru.
Di sisi lain, ada juga orang yang terbiasa mencabut bulu hidung, padahal kegiatan seperti inilah yang dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap alergen (penyebab alergi). Rambut-rambut halus di hidung merupakan penyaring debu, serbuk sari, dan alergen lainnya agar tidak terhirup serta masuk ke dalam paru-paru.
Ketika ada partikel asing masuk ke hidung, mereka akan menempel di lapisan lendir tipis di bulu hidung. Sebagai respons, seseorang akan mengalami batuk atau bersin, dan tidak menutup kemungkinan pula, partikel itu tertelan dan hancur bersamaan dengan proses cerna.
Di saat yang sama, fungsi bulu hidung ini juga selaras dengan peran rambut berukuran sangat kecil (mikroskopik) bernama cilia. Bulu halus yang terletak di rongga pernapasan ini juga membantu mendorong lendir dan partikel asing lain agar tidak sampai masuk ke paru-paru.
Cilia bergerak maju mundur secara konstan untuk mengusir molekul berbahaya yang masuk ke tenggorokan.
Bahkan, bulu halus ini bekerja beberapa lama hingga seseorang telah meninggal dunia sekalipun. Itulah yang membuat terkadang, ahli forensik meraba area cilia untuk menentukan secara pasti kapan waktu meninggalnya seseorang.
Fungsi bulu hidung tak berhenti sebagai bagian dari pertahanan tubuh saja. mereka juga menjaga udara tetap lembap hingga masuk ke saluran pernapasan. Kelembapan sekitar 40-50% adalah yang paling ideal untuk kulit dan juga sinus.
Sebaiknya Jangan Cukur Bulu Hidung
Terkadang, ada orang yang merasa terganggu ketika bulu hidung tumbuh lebat dan panjang. Padahal, ini adalah konsekuensi yang wajar terjadi seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Sama seperti yang terjadi di rambut sekitar telinga dan punggung.
Menariknya, para peneliti di Hacettepe University School of Medicine di Turki menemukan korelasi antara lebatnya bulu hidung dengan kesehatan. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, pasien dengan bulu hidung jarang 3 kali lipat lebih rentan mengalami asma. Data ini terkumpul setelah membandingkannya dengan partisipan berdaun hidung lebih lebat.
Dilansir dari sehatq, Senin (22/03), kebiasaan mencabut bulu hidung bisa menimbulkan sejumlah komplikasi seperti:
Rambut tumbuh ke dalam
Disebut juga dengan ingrown hair, ini adalah jenis komplikasi yang paling umum terjadi ketika mencukur rambut atau bulu di badan. Kondisi ini bisa terjadi ketika rambut yang sudah tercukur justru tumbuh masuk ke dalam kulit dan tidak bisa keluar dari folikelnya.
Utamanya, kondisi ini paling rentan terjadi di tempat yang rambutnya kerap dicukur seperti wajah, ketiak, dan kemaluan. Ciri-cirinya adalah muncul benjolan seperti jerawat, iritasi, disertai dengan rasa gatal dan nyeri.
Nasal vestibulitis
Ini adalah infeksi yang terjadi pada bagian hidung yang disebut nasal vestibule, bagian dalam dari hidung yang menonjol di wajah. Umumnya, infeksi ini terjadi ketika infeksi bakteri Staphylococcus masuk ke dalam luka di wajah.
Setiap jenis luka – baik yang kecil sekalipun – bisa menjadi pintu masuknya bakteri. Termasuk luka akibat mencabut bulu hidung, tindik hidung, membuang ingus berlebihan, atau cara mengupil yang salah.
Gejala yang paling umum muncul adalah kemerahan di dalam dan luar lubang hidung, benjolan seperti jerawat di tempat tumbuhnya bulu hidung, kerak di sekitar bulu hidung, hingga rasa nyeri.
Nasal furunculosis
Infeksi cukup dalam pada folikel bulu hidung disebut dengan nasal furunculosis. Kondisi ini paling umum terjadi pada orang yang menderita masalah autoimun. Gejalanya adalah rasa nyeri, bengkak, dan tampak kemerahan.
Pada kasus yang lebih langka, kondisi ini bisa mengakibatkan komplikasi serius. Utamanya, apabila infeksi melebar ke pembuluh darah yang berakhir ke otak.
Risiko asma
Mencabut terlalu banyak bulu hidung dapat meningkatkan risiko menderita asma. Alasannya karena tidak ada cukup bulu hidung yang bisa mengusir debu dan alergen sebelum masuk ke rongga hidung.
Menurut sebuah studi pada tahun 2011, terlihat hubungan antara bulu hidung dan risiko mengalami asma pada orang yang menderita alergi musiman. Partisipan studi sebanyak 233 orang dibagi dalam 3 kelompok. Ada yang tidak memiliki bulu hidung atau sedikit sekali, sedang, dan lebat. Hasilnya, partisipan dengan jumlah bulu hidung paling sedikit berisiko lebih signifikan menderita asma. (rif/*)
















