PALEMBANG, fornews.co – Dua hari menjelang Pemilihan umum (Pemilu) pada 17 April 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), digeruduk puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kota Palembang, Senin (15/04).
Massa yang sebelumnya berkumpul sekitar pukul 13.00 WIB di Bundaran Air Mancur Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, ini kemudian melakukan konvoi menuju gedung KPU Sumsel di Jakabaring.
Aliansi gabungan yang terdiri dari berbagai organisasi seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ( KAMMI), BEM, LDK menuntut, agar KPU Sumsel dan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk bersikap netral selama pemilu berlangsung.
Mereka menilai, Pemilu 2019 berpotensi menjadi pemilu yang terburuk apabila KPU Sumsel gagal mengatasi berbagai masalah yang terus bermunculan, seperti adanya data yang invalid, ganda dan data yang tidak melalui proses Coklit (pencocokan dan penelitian). Hal itu ditegaskan Koordinator Aliansi Mahasiswa Kota Palembang, Riki Saputra di depan gedung KPU SUmsel.
“Adanya laporan DPT bermasalah, di antaranya jumlah pemilih dengan tanggal kelahiran 1 Januari sebanyak 2,3 juta. Kemudian jumlah pemilih kelahiran 1 Juli ada 9,8 juta dan Pemilihan 31 Desember sebanyak 5,4 juta. Setelah itu ditemukan pada sebuah TPS adanya 288 orang yang lahir pada tanggal yang sama,” ungkapnya.
Selain itu, imbuh Riki, maraknya surat suara rusak di berbagai daerah, juga harus menjadi perhatian dan menjadi pembelajaran serta tindakan preventif bagi KPU Sumsel.
“Bawaslu Maluku menemukan kerusakan surat suara di 10 kabupaten/kota di Maluku sebanyak 316.785 lembar dan KPU DIY menemukan 27.282 Suara suara rusak. Kemudian sedikitnya 9.305 lembar surat suara Pemilu 2019 yang dikirim ke percetakan KPU Jombang, KPU Jatim dalam kondisi rusak,” beber Riki.
Riki menegaskan, kedatangan mereka ingin langsung berbicara kepada jajaran tertinggi KPU, bukan perwakilannya. Ia berharap KPU Sumsel harus bisa melakukan pengontorlan dan proses produksi secara ketat.
“Kami ingin bicara langsung dengan ketua dan wakilnya, kami ini sebagai tamu. Kalau tidak ada berarti mereka takut,” tegasnya.
Kedatangan mahasiswa akhirnya ditanggapi Kabag Hukum dan Masyarakat KPU Sumsel, Abdullah yang merupakan perwakilan dari KPU Sumsel. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan Aliansi Mahasiswa Kota Palembang.
Abdullah mengatakan, Ketua dan Wakil KPU beserta jajarannya sedang melaksanakan tugas di luar daerah, sedangkan jajaran komisioner melakukan pemantauan logistik. Pun demikian, ia meyakinkan bahwa pihak KPU Sumsel tetap menjaga netralitas dalam Pemilu 2019.
“Terima kasih tak terhingga, ini salah satu tindakan luar biasa, kami berharap tidak ada kontaminasi dalam aksi ini. Saya selaku orang tua di sini, artinya anak mengingatkan kami orang tua. Tapi yakinlah, kami dan jajarannya dengan kopilisian tetap menjaga netralitas sehingga tidak terjadi kecurangan,” katanya.
Karena tidak bisa menemui para petinggi KPU Sumsel, Aliansi Mahasiswa Palembang yang kecewa akhirnya melakukan penandatanganan dengan perwakilan KPU, untuk memastikan KPU netral dan tidak ada kecurangan. Jika suatu saat terjadi kecurangan, Aliansi Mahasiswa Palembang berjanji kembali melakukan demo secara besar-besaran.(irs)

















