JOGJA, fornews.co – Di tengah meningkatnya isu kerusakan lingkungan dan menurunnya ruang berekspresi bagi anak, puluhan pemeran cilik akan menghadirkan pesan berbeda melalui panggung teater.
Bertajuk “Negeri dalam Senandung Rinai”, pementasan yang digelar di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) Jogjakarta, pada 26 Juli 2026 itu mengangkat kritik terhadap keserakahan penguasa, perusakan hutan, hingga pentingnya keberanian anak menyuarakan perubahan.
Sutradara pementasan, Aswarun Barera, mengatakan persiapan produksi telah memasuki tahap akhir.
Hingga pertengahan Juli, materi pementasan telah mencapai 75 persen, setelah para pemain menjalani 17 kali pertemuan latihan. Sebelum hari pementasan, total latihan dijadwalkan mencapai 20 kali dengan intensitas dua kali setiap pekan.
“Anak-anak sudah sangat siap. Tinggal menyempurnakan beberapa bagian menjelang pementasan,” ujar Aswarun kepada fornews.co, Rabu.
Keunikan pertunjukan ini tidak hanya terletak pada cerita yang sarat pesan sosial, tetapi juga pada keterlibatan anak-anak dalam berbagai unsur artistik. Musik pengiring digarap oleh para pemain sendiri dengan pendampingan seorang musisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Salah satu penampilan yang menjadi sorotan adalah hadirnya Syifa Ardiani, penyanyi tunanetra yang baru lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs). Syifa akan membuka pertunjukan melalui lantunan lagu yang membangun suasana sebelum cerita dimulai.
Sementara itu, tata artistik panggung akan menampilkan visual hutan yang dikerjakan bersama tim kreatif untuk memperkuat atmosfer cerita.
Aswarun menjelaskan, “Negeri dalam Senandung Rinai” berkisah tentang sebuah negeri yang dilanda penderitaan akibat keserakahan penguasa. Raja menaikkan pajak, membiarkan penebangan hutan dan eksploitasi alam berlangsung tanpa kendali hingga memicu bencana kekeringan serta hilangnya habitat satwa liar.
Konflik bermula ketika putri raja bernama Rini, mempertanyakan kebijakan ayahnya yang dianggap menyengsarakan rakyat dan merusak alam.
Pengembaraannya ke hutan mempertemukannya dengan satwa-satwa yang turut menjadi korban kerusakan lingkungan.
Dalam perjalanan itu, Rini menyaksikan sendiri dampak kerusakan hutan terhadap kehidupan manusia maupun hewan.
Ketika bencana semakin meluas dan rakyat hidup dalam kesulitan, sang raja akhirnya dihadapkan pada pilihan berat yang mengubah jalan cerita sekaligus membuka ruang refleksi tentang kepemimpinan dan tanggung jawab.
Pertunjukan tersebut memadukan teater, tari, musik, dialog, serta nyanyian, termasuk sentuhan musik jazz yang dibawakan para pemain.
Lebih dari sebatas pertunjukan, Aswarun menegaskan pementasan ini menjadi media pendidikan karakter bagi anak-anak.
“Kami ingin anak-anak belajar berpikir kritis terhadap lingkungan sekitarnya, memiliki ruang berekspresi, sekaligus merasakan bahwa teater adalah proses yang menyenangkan. Tidak ada tekanan dan tidak ada istilah gagal bagi mereka,” katanya.
Pementasan melibatkan peserta dengan rentang usia yang beragam, mulai dari anak berusia 3 tahun hingga pelajar SMA kelas X serta mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai sekolah di Jogjakarta, Magelang, dan Kulon Progo, di antaranya SD Kanisius Demangan Baru, SD Muhammadiyah Karangwaru, SD Muhammadiyah Tegalrejo, SD Taruna Bangsa, SD Budya Wacana, SD Kalam Kudus, SD Kanisius Duwet, SDN Deresan, SDN Sentolo Kulon Progo, TK Budi Mulia 2 Sedayu, TK Negeri 2 Jogjakarta, SMP Negeri 1 Jogjakarta, SMP Muhammadiyah 2 Jogjakarta, Universitas Sanata Dharma, serta sejumlah sekolah lainnya.

Menurut Aswarun, kolaborasi lintas sekolah tersebut menunjukkan semakin besarnya kepedulian dunia pendidikan terhadap seni pertunjukan sebagai media pembelajaran.
Bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional, ia berharap pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa anak-anak membutuhkan ruang untuk tumbuh, berkarya, dan menyampaikan gagasannya.
Pertunjukkan teater ini diselenggarakan oleh Nayaka Bhoomi yang beberapa waktu lalu sempat menggelar pementasan Morsa di THR.
“Mari arahkan anak-anak pada kegiatan yang membangun, melatih mereka berpikir kritis dan peduli terhadap lingkungan. Mereka adalah masa depan Indonesia,” pungkasnya.
















