JOGJA, fornews.co – Antusiasme masyarakat menyaksikan perhelatan Piala Dunia harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat fondasi sepak bola nasional.
Tingginya harapan publik agar Tim Nasional Indonesia mampu tampil di putaran final Piala Dunia dinilai menjadi dorongan kuat untuk membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekedar nmengejar hasil instan.
Hal itu disampaikan Anggota DPD RI Provinsi DIY, Ir. Ahmad Syauqi Soeratno M.M saat nonton bersama (nobar) final Piala Dunia yang digelar di halaman Dewan Perwakilan Daerah RI DIY di Jalan Kusumanegara Senin dini hari, 20 Juli.
Menurut Syauqi, penyelenggaraan nobar merupakan bentuk partisipasi masyarakat Indonesia sebagai bagian dari komunitas sepak bola dunia.
Selain menjadi hiburan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu membangkitkan optimisme dan motivasi masyarakat terhadap masa depan sepak bola Indonesia.
“Sebagai bagian dari masyarakat sepak bola dunia, kita ikut menyambut kemeriahan Piala Dunia. Ini juga menjadi hiburan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mengatakan, dokumentasi kegiatan nobar akan disampaikan kepada Komisi III DPD, PSSI, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai gambaran besarnya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola nasional.
Menurutnya, tingginya hasrat masyarakat untuk melihat Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia harus menjadi titik awal pembenahan sepak bola nasional secara menyeluruh.
“Hasrat masyarakat untuk menyaksikan Timnas Indonesia bermain di Piala Dunia sudah sangat luar biasa. Ini harus menjadi titik tolak untuk membenahi sepak bola nasional, dimulai dari pembinaan yang kuat sejak usia dini,” katanya.
Syauqi menegaskan, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan langkah-langkah instan dalam membangun prestasi. Pembinaan pemain usia muda di daerah harus menjadi prioritas karena menjadi fondasi utama lahirnya pemain berkualitas.
Ia memberikan contoh negara-negara finalis Piala Dunia yang memiliki tradisi panjang dalam pembinaan usia muda, kompetisi domestik yang berkualitas, serta kesempatan bagi pemain terbaik untuk berkembang di liga-liga yang lebih kompetitif, termasuk di Eropa.
“Tidak cukup hanya mendatangkan pemain-pemain bagus. Akar pembinaan sepak bola usia muda di daerah harus diperkuat, kualitas dan akuntabilitas kompetisi nasional juga harus ditingkatkan,” ungkapnya.
Setelah itu, lanjut Syauqi, pemain-pemain terbaik dapat memperoleh pengalaman di kompetisi yang lebih maju. Dengan fondasi seperti itu, peluang Indonesia tampil di Piala Dunia akan semakin besar.
Ia berharap semangat masyarakat yang terlihat dalam kegiatan nobar tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa cita-cita membawa Indonesia ke Piala Dunia hanya dapat diwujudkan melalui pembinaan yang terencana, berjenjang, dan berkelanjutan.
















