SLEMAN, fornews.co – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, menyerahkan ubarampe dari Karaton Yogyakarta kepada Juru Kunci Merapi, Mas Wedana Suraksaharga, di Kantor Kapanewon Cangrkingan, Sleman, DIY.
“Labuhan Merapi menjadi tradisi untuk memperingati Tingalan Jumenengan Ndalem tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja Yogyakarta,” jelas Bupati Sleman.
Baca: Ratusan Generasi Milenial Ikuti Labuhan Merapi
Di antara ubarampe Labuhan Merapi yang diserahkan yakni berupa Sinjang Cangkring, Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadhung, Semekan Gadhung Melati, Destar Daramuluk, Destar Udaraga, Kampuh Paleng dan Arta Tindhih.
Menurut Bupati Sleman, Labuhan Merapi bukan sekadar tradisi, namun, merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Labuhan ini adalah salah satu upacara adat sejak Kerajaan Mataram Islam abad 17 sebagai bentuk doa untuk negara dan rakyat dengan harapan keselamatan, tenteram dan sejahtera.

Pihaknya pun mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat yang turut meramaikan jalannya rangkaian Upacara Labuhan Merapi tahun ini.
Meski upacara adat Labuhan Merapi digelar oleh Karaton, namun, dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki rasa handarbeni yang tinggi terhadap budaya dan tradisi lokal di tengah santernya arus budaya asing,” ungkapnya.
Baca: Labuhan Merapi Tahun Ini Digelar Terbatas dan Tertutup untuk Umum
Upacara adat Labuhan Merapi dimulai dengan mengarak gunungan dan ubarampe dari Kantor Kapanewon Cangkringan menuju pendapa di petilasan Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.
Sesampainya di Kinahrejo, ubarampe kemudian diserahkan oleh Penewu Cangkringan kepada Juru Kunci Merapi.
Malamnya, di pelataran Kinahrejo dilanjutkan dengan Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon “Jumenengan Parikesit” oleh dalang Ki Sigit Manggolo Seputra yang dimeriahkan pertunjukan Sendratari Endhog Jagad. (adam)

















