PALEMBANG, fornews.co — Transformasi energi tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi, tetapi juga menyangkut perubahan sosial dan ekonomi yang harus berjalan secara adil dan inklusif.
Hal tersebut disampaikan Field Coordinator Yayasan Mitra Hijau (YMH) wilayah Sumatera Selatan, Ressy Tri Mulyani, SH, MH, pada Pelatihan Pengemasan dan Desain Label Produk UMKM bagi Forum Perempuan Energi Berkeadilan di Kota Palembang, Rabu (6/5/2026).
“Yayasan Mitra Hijau kembali menegaskan komitmen mendorong transformasi ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Momen ini bagian dari implementasi program IKI–JET (Innovation Regions for a Just Energy Transition) yang didukung Pemerintah Jerman,” ujar dia.
Ressy mengatakan, peserta pelatihan berasal dari berbagai organisasi dan komunitas perempuan di Sumsel, termasuk kelompok keagamaan dan komunitas lingkungan seperti bank sampah yang tergabung dalam Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan.
“Perempuan punya peran strategis menjaga ketahanan ekonomi keluarga dan komunitas. Lewat penguatan UMKM, perempuan bisa menjadi aktor utama mendorong transformasi ekonomi lokal, terutama di wilayah yang terdampak transisi energi seperti Sumatera Selatan,” kata dia.
Pada sesi pertama, ungkap Ressy, peserta diajak memahami pentingnya UMKM sebagai fondasi transformasi ekonomi. UMKM tidak hanya menjadi penopang ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Tetapi juga menjadi solusi alternatif bagi masyarakat di wilayah yang selama ini bergantung pada sektor pertambangan batubara,” ungkap dia.
Kemudian, jelas Ressy, Provinsi Sumsel yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap industri ekstraktif, menghadapi tantangan besar dalam proses transisi menuju energi bersih.
Dalam konteks ini, sambung dia, pengembangan UMKM menjadi strategi penting untuk menciptakan sumber penghidupan baru yang berkelanjutan, khususnya bagi perempuan sebagai kelompok yang sering kali kurang terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
“Pelatihan ini tidak hanya memberikan pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan praktis terkait pengemasan dan desain label produk. Peserta dibekali dengan pengetahuan mengenai pemilihan material kemasan, prinsip desain visual, serta regulasi pelabelan seperti P-IRT dan BPOM,” jelas dia.
“Peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan kemasan dan teknik foto produk untuk meningkatkan daya saing produk di pasar,” imbuh dia.
Sementara narasumber, Prof Ir Erna Yuliwati, MT, Ph.D., IPU, ASEAN-Eng menilai, kemasan dan label produk memiliki peran penting tidak hanya sebagai pelindung, tetapi juga sebagai alat komunikasi dan promosi yang mampu membentuk persepsi konsumen terhadap kualitas produk.
“Produk UMKM lokal sering kali memiliki kualitas yang baik, namun kurang mampu bersaing karena tampilan visual yang belum optimal. Melalui desain kemasan dan label yang tepat, nilai tambah produk dapat meningkat secara signifikan,” tandas dia.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Mitra Hijau berharap dapat mendorong lahirnya UMKM perempuan yang lebih kompetitif, inovatif, dan berdaya saing, serta mampu berkontribusi dalam pembangunan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.
Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan diharapkan menjadi ruang kolaboratif yang mampu memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan dalam agenda transisi energi yang adil. (kaf)

















