YOGYA, fornews.co—Kadipaten Puro Pakualaman menggelar wayang kulit dan lampah ratri, menyambut peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1444 H atau 1 Sura pada Jum’at (29/7/2022) malam.
Prosesi Lampah Ratri Mubeng Beteng Kadipaten Pakualaman yang dilaksanakan tepat pukul 00.00 WIB itu dipimpin langsung oleh Gusti Pangeran Haryo (GPH) Indrokusumo dan Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Kusumo Aminoto.
Salah seorang juru bicara Kadipaten Pakualaman, KMT Satrodiprojo, menyampaikan bahwa mubeng beteng pada malam Sura itu sebagai permohonan doa dan kesejahteraan Kadipaten Projo Pakualaman.

Rute lampah ratri mubeng beteng tanpa berbicara itu dimulai dari Kadipaten Puro Pakualaman, keluar dari pintu sisi barat, melewati Jalan Gajah Mada, Jalan Sultan Agung, Jalan Harjono, Jalan Purwanggan, dan Jalan Harjowinatan.
Namun, prosesi lampah ratri tahun ini dilaksanakan terbatas mengingat pandemi belum sepenuhnya berakhir.
Lampah ratri terbatas oleh Sentana dan Abdi Dalem dilaksanakan dengan mengenakan pakaian adat jawa Kadipaten Pakualaman lengkap berikut kalung samir.
Kalung samir merupakan kelengkapan busana Abdi Dalem yang menyerupai pita sebagai tanda sedang menjalankan tugas yang tidak sembarang orang boleh memakai.
“Masyarakat tidak diperkenankan masuk ke dalam Pura Pakualaman, tetapi dapat menyaksikan prosesi di sepanjang jalan yang dilalui Lampah Ratri Mubeng Beteng Kadipaten Pakualaman,” ujarnya.
Acara yang diawali dengan prosesi pembuatan jenang Manggul pada pukul 14.00 WIB itu nantinya akan dibagikan ke sejumlah tempat di Jawa dan masyarakat yang hadir dalam peringatan malam Sura dan prosesi lampah ratri.
“Jenang Manggul berisi bubur beras putih, irisan telur dadar, bregedel, dan sambal krecek,” jelas KMT Satrodiprojo.

Setelah waktu Ashar, pukul 17.00 WIB, prosesi dilanjutkan dengan meletakan beberapa uba rampe sesaji di Regol Danawara tempat akan dilangsungkan pagelaran Ringgit Suran atau wayang semalam suntuk.
Meski pagelaran wayang belum dimulai, namun, pada pukul 19.00 WIB sebagian masyarakat Yogya sudah memadati Alun-alun Sewandanan Kadipaten Pakualaman.
Wayang semalam suntuk dengan lakon ‘Pandhawa Mbangun Candhi Saptaharga’ dibuka dengan prosesi penyerahan tokoh wayang Ratu Pendawa Yudhistira dan Puntodewa kepada dalang.
Kedua tokoh wayang itu diserahkan oleh BPH Kusumo Bimantoro kepada Dalang Ki Margiyono alias Jajar Mas Darmowiguno merupakan dalang abdi dalem Pakualaman.

Sementara itu saat pagelaran wayang berlangsung, masyakarat yang yang memadati Alun-alun Sewandanan Pakualaman berhamburan ke sisi Barat Regol Danawara bersamaan dengan ratusan orang yang tumpah dari arah Masjid Besar Kadipaten Pakualaman usai mengikuti prosesi lampah ratri.
Mereka mendatangi para abdi dalem yang membagikan jenang Manggul lebih dari seribu mangkuk.
Dalam hitungan menit, lebih dari seribu mangkuk jenang Manggul ludes.

Bahkan terdapat anak-anak yang ikut dalam antrean untuk mendapatkan jenang Manggul.
Menariknya, Puro Pakualaman memberikan kebebasan kepada para pedagang untuk berjualan di Alun-alun Sewandanan meski malam Sura terkesan sakral.
Hal itu mencerminkan Raja Nagari Pakualaman, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X, mengayomi masyarakat.
Selang waktu beberapa jam, setelah jenang Manggul dinikmati, Alun-alun Sewandanan mulai hening. Tidak seriuh dan sepadat beberapa jam sebelumnya.
Hingga pukul 04.00 WIB, mendekati bubarnya Pagelaran Wayang, hanya puluhan orang yang masih bertahan di Alun-alun Sewandanan menunggu lakon ‘Pandhawa Mbangun Candhi Saptaharga’ tuntas. (adam)

















