
TANJUNGPANDAN-Wajar jika Menteri Pariwisata Arif Yahya, menyebut Kabupaten Belitung sebagai Maldives-nya Indonesia. Karena daerah yang terdiri dari gugusan pulau-pulau ini, memiliki pesona alam yang luar biasa.
Selain panorama pulau yang eksotis, kota yang memiliki jumlah penduduk 175.000 jiwa ini, memiliki usia non produktif lebih kecil dari produktif. Jadi, cukup fair jika pemerintah pusat menyematkan Kabupaten Belitung sebagai satu dari 10 destinasi wisata di Indonesia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Belitung Hermanto mengungkapkan, sebenarnya potensi-potensi pariwisata Belitung itu sudah ada. Hanya saja, selama ini secara perekonomian masih didominasi keberadaan pertambangan, sehingga secara legal formalnya belum dilakukan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Akhirnya disadari bahwa keberadaan timah, sebagai salah satu penopang perekonomian daerah ini, lambat laun akan segera habis. Jadi, pemerintah daerah harus berani mencari sektor alternatif, diantaranya kita lihat potensi Belitung, seperti pariwisata, perikanan dan kelautan, serta perhubungan. Pemerintah lalu mencoba pariwisata, dengan memoles berbagai hal salah satunya membenahi aksesibilitas terlebih dulu,” ungkapnya, saat menjadi pembicara pada Gathering Otorita Jasa Keuangan (OJK) dan Pelatihan Media di Grand Hatika Hotel, Tanjung Pandan, Jumat (16/12) lalu.

Hermanto menjelaskan, kalau dilihat dari sisi anggaran APBD Kabupaten Belitung, sebenarnya dari dulu menyatakan bahwa pariwisata ini bukan sektor yang berdiri sendiri. Artinya bukan hanya urusan Dinas Pariwisata, tapi juga urusan SKPD lain. Pariwisata hanya termasuk dalam 8 urusan pilihan, bukan dalam 26 urusan wajib bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belitung.
“Sebenarnya 90% anggarannya sudah habis untuk urusan wajib. Jadi kalau untuk pariwisata hanya 10% dibagi delepan. Jadi, untuk mensiasati itu, tentu kami punya strategi. Kebetulan sebelum menjabat Kepala Dinas Pariwisata, saya pernah menjabat Kepala Bappeda. Semua urusan wajib kami buatkan rencana aksinya untuk mendukung pariwisata,” jelasnya.
“Tapi ada peningkatan anggaran pariwisata Belitung, sebelum ditetapkan sebagai daerah destinasi wisata Indonesia. Dari Rp9 miliar (tahun 2014), kemudian anggaran tahun 2015 Rp15 miliar dan tahun 2016 Rp16 miliar. support dari Kementerian Pariwisata terhadap Kabupaten Belitung sudah sangat baik, mulai dari peningkatan SDM, yang berkaitan dengan masalah pemasaran, terkait infrastruktur fisik,” tukasnya.
Hermanto mencontohkan, misalnya urusan wajib Pekerjaan Umum (PU), intinya jalan yang menuju ke kawasan pariwisata harus bagus. Begitu juga dari sisi kesehatan, untuk wilayah pariwisata harus ada puskesmas yang bisa menangani kalau ada gawat darurat tingkat pertama yang berstandar.
“Memang Belitung ini secara politik tidak seksi, tapi ada keseksian di bidang lain. Kami juga memberikan peluang untuk berinvestasi pada pulau-pulau yang ada di Belitung. Karena, jika dilihat dari sebaran gunung berapi, pulau ini berada pada titik putih atau sangat aman dari mencana gempa ataupun tsunami,” ujarnya.
Hermanto memaparkan, berdasarkan RPJPD 2005-2025 dan RPJMD 2013-2018, ada tiga sektor yang akan dilakukan Pemkab Belitung, yakni pariwisata, kelautan dan perikanan, serta perhubungan. Khusus pengembangan pariwisata, Belitung punya 5 nilai strategis, yakni posisi, kondisi, pontensi, kebijakan dan momentum. Sudah tentu, misi Pemkab Belitung saat ini meningkatkan kualitas SDM, Ekonomi, dan masih banyak lagi. Lagi pula, pariwisata Belitung menggunakan konsep sinergi 5 unsur, pemerintah, dunia bisnis, akademisi, komunitas (masyarakat) dan media.
“Dengan luas wilayah 229.369 hektare (Ha), yang terbagi atas 5 kecamatan, 7 kelurahan, 42 desa dan 100 pulau, masing-masing wilayah punya kelebihan masing-masing. Seperti Kecamatan Sijuk lebih kepada pariwisata, Kecamatan Tanjung Pandan sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan, Kecamatan Nasik sebagai lokasi perikanan kelautan, Kecamatan Badau khusus industri, Kecamatan Membalang untuk agropolitan. Namun pada masing-masing kecamatan terhadap spot-spot pariwisata yang bagus,” paparnya.
Untuk bisa menuju ke Pulau Belitung, tuturnya, bisa ditempuh dengan pesawat terbang dalam waktu 30 menit dari Pulau Bangka, kalau jalan laut sekitar 5 hingga 6 jam. Sementara dari Pontianak jarak tempuh lewat laut waktu tempuhnya mencapai 14 jam, sama dengan dari Jakarta.
Saat ini, jumlah wisatawan yang datang ke Belitung, terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 berjumlah 199.823 pengunjung, tahun 2015 251.440 pengunjung, dan tahun 2016 hingga September sudah mencapai 204.936. Diharapkan sampai akhir tahun 2016 mencapai angka 300an ribu pengunjung. “Peningkatan jumlah pengunjung ini, diikuti dengan pertumbuhan hotel, pada 2015 lalu ada 42 hotel, sedangkan tahun 2016 ini sudah ada 51 hotel, dengan hotel bintang 4 ada dua dan hotel bintang 3 ada 6. Itu tidak termasuk hotel yang akan dibangun,” tandasnya. (tul)

















