JAKARTA, fornews.co – Aksi damai Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) di Jakarta, yang dimulai Selasa (21/05), memakan ratusan korban. Enam orang dikabarkan meninggal dan 200 orang mendapat perawatan medis di rumah sakit.
Para korban diduga akibat terlibat bentrok dengan aparat kepolisian yang pecah pada malam hingga dini hari tadi, Rabu (22/05). Berdasarkan informasi yang dihimpun, bentrok terjadi di beberapa wilayah, di antaranya Jalan KS Tubun Tanah Abang, Jalan MH Thamrin, dan Jalan Petamburan.
“Menyangkut jumlah korban, per data jam 09.00 WIB tadi pagi, ada sekitar 200 orang yang dibawa ke rumah sakit yang dibawa oleh tim AGD (Ambulans Gawat Darurat) kita, dan ada 6 orang wafat,” kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam wawancara telepon yang disiarkan secara live oleh TvOne, Rabu (22/05).
Para korban sendiri ditampung di 5 rumah sakit di Jakarta, yang sebelumnya telah diinstruksikan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk memberikan pelayanan terbaik kepada siapa saja yang mengalami masalah kesehatan dalam peristiwa nasional ini.
“Semua korban kita tanggung biayanya, apabila mereka tidak memiliki BPJS. Dan rumah sakit-rumah sakit diinstruksikan untuk merawat korban tanpa mengkhawatirkan soal biaya, karena Pemprov DKI Jakarta yang akan menutup biayanya yang menjadi korban,” ujarnya.
“Nah ini semua, nanti akan dilakukan investigasi, akan dilakukan visum sehingga dari situ kita akan tahu penyebabnya dan lain-lain,” imbuhnya.

Untuk itu, Anies mengimbau agar seluruh pihak dapat menjaga ketertiban dan keamanan. Baik yang datang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan maupun mereka yang datang untuk menjaga keamanan.
“Bagi semuanya yang berada di lapangan, sinar matahari boleh saja panas, tapi jaga hati jangan terbawa panas. Tenang dalam suasana, di mana kita dalam mengungkapkan pandangan, pikiran, dan yang mengamankan juga tenang,” ujarnya.
Dengan begitu, kata Anies, jumlah orang banyak yang berkumpul tak berarti akan memunculkan masalah kekerasan maupun konflik.
“Kami akan menangani bila ada korban, tapi kami tidak ingin ada korban. Dan tidak ada orang tua satu pun yang ingin menjemput anaknya ke rumah sakit dalam kondisi tidak bernyawa,” ungkapnya.
“Tadi pagi saya bertemu dengan orang tua pasangan suami istri yang menjemput anaknya yang masih usia belia. Dan mereka tak pernah membayangkan, bahwa di tengah bulan puasa seperti ini, menjemput anaknya dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa lagi. Ini sesuatu yang harus dihindari,” imbuhnya.(bas)
















