PALEMBANG, fornews.co – Kegelisahan akan ancaman rusaknya Sungai Musi bagi kehidupan akan disampaikan dalam pertunjukan tari berjudul ‘Rahim Sungai Musi’ secara streaming melalui kanal YouTube Rumah Sriksetra, Selasa 13 Oktober 2020.
“Ini kerja kolaborasi antara dunia nyata, maya (internet), dan spiritual,” ujar Koreografer ‘Rahim Sungai Musi’ Sonia Anisah Utami, Selasa (06/10).
Menurut Sonia, eksistensi Sungai Musi kini terancam akibat pembangunan dan aktivitas ekonomi yang tidak berkelanjutan. Dampak ekologi seperti pendangkalan, abrasi, atau tercemar limbah sudah terjadi. Selain itu, akibat perubahan lanskap juga berdampak pada perilaku budaya masyarakatnya, seperti beberapa tradisi komunal yang mulai ditinggalkan.
“Apabila Sungai Musi rusak, rakyat Sumsel selanjutnya akan kehilangan sumber air bersih hingga identitas bersama peradabannya sebagai bangsa bahari,” kata dia.
Adapun salah satu nilai dari peradaban bahari itu, yakni menjunjung nilai-nilai kebhinekaan. Semua budaya disatukan dengan kearifan lokal terhadap Sungai Musi, misalnya tentang tata cara mandi, mencuci, mencari ikan, berperahu, serta berbahasa dan berinteraksi dalam berdagang.
“Semua komunitas mengenal sedekah sungai,” jelas Sonia.
Ia menyoroti, para perempuan memiliki peran penting dalam membangun hubungan antarkomunitas masyarakat dengan Sungai Musi. Sebab, perempuan setiap saat membutuhkan air dan pangan (ikan) dari Sungai Musi untuk mengurus dan membesarkan anak-anaknya. Jika Sungai Musi mengalami kerusakan atau perubahan, tentu saja kelompok perempuan yang kali pertama menerima atau merasakan dampaknya. Mulai dari bencana banjir, kekeringan, kesehatan, dan ekonomi.
Karena itu, kaum perempuan harus berada di depan untuk menyelamatkan Sungai Musi. Salah satu upaya tersebut melalui kesenian, seperti seni tari. Karya tarinya ini pun didukung 43 perempuan dari berbagai wilayah aliran delapan anak sungai Musi.
“Harapan saya, tari ‘Rahim Sungai Musi’ menjadi titik awal kaum perempuan di tepian Sungai Musi mengembalikan posisi Sungai Musi sebagai rahim peradaban bahari,” cetus Sonia.
Diharapkannya, pemerintah daerah juga dapat menunjukan kepeduliannya dengan Sungai Musi dengan melahirkan peraturan daerah (Perda) tentang perlindungan Sungai Musi.
“Sungguh ini pengalaman kerja kolaborasi performance yang menantang, sekaligus membawa ilmu dan pengalaman baru bagi saya,” ungkapnya. (yas)
















