Fornews.co – Gerahnya saat menggunakan baju dan perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) saat bertugas menangani pasien Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) tak menyurutkan semangat dr Aulia Giffarinnisa mengabdikan diri membantu Indonesia dalam melawan pandemi.
Wanita yang akrab disapa Farin ini menceritakan, tekadnya untuk merelakan diri mengabdi melawan pandemi awalnya tak mendapatkan izin dari orangtuanya. Hal ini bukan tak beralasan, mengingat pasien yang terinfeksi dan korban jiwa dari virus ini terus berjatuhan.
“Berperang” melawan virus yang begitu cepat berpindah dan menginfeksi banyak orang ini membuat keluarga Farin ragu dengan keputusan yang diambil dokter yang pernah bertugas di daerah Sulawesi Selatan ini.
“Saya tidak menyerah dengan keinginan saya untuk mengabdikan diri, saya terus meyakinkan orang tua dan keluarga. Akhirnya izin dari orangtua saya keluar pada Agustus lalu dan mulai September saya bertugas di Wisma Atlet,” ungkapnya dalam Dialog Produktif yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di Media Center KPCPEN, Jumat (04/11).
Diceritakannya, selama bertugas banyak suka duka yang dihadapi. Apalagi pada September lalu, tempat tidur di komplek Wisma Atlet hampir penuh. “Awalnya takut, namun akhirnya cepat beradaptasi. Sistem kerja shift 8 jam namun karena memakai APD maka harus bersiap satu jam sebelumnya. Selama bertugas juga tidak boleh membuka APD jadi tidak boleh buang air dan terpaksa puasa,” jelasnya.
Meski termasuk dokter muda dan dari daerah, Farin merasa aman dan nyaman selama melayani pasien. Dia juga tidak merasa berjarak dengan tenaga medis dan kesehatan lainnya. “Di sini semuanya satu misi untuk menangani COVID-19 jadi semuanya disiplin. Beda dengan di luar, masih ada yang cuek dengan protokol kesehatan,” ungkapnya.
Diakuinya, dalam dinamika bertugas pasti ada sejumlah tantangan utamanya dari para pasien yang dirawatnya, apalagi Farin bertugas untuk menangani pasien yang masuk kategori bergejala berat. “Agak tertekan ketika menghadapi pasien yang ngeyel karena tidak nyaman dalam perawatan. Kadang mereka sering melepas selang oksigen padahal mereka sangat perlu hanya mereka merasa tidak nyaman,” ujarnya.
Jika menemukan pasien-pasien seperti itu, Farin mengaku telah memiliki cara yaitu dengan pendekatan secara psikologis. Dia berusaha memahami para pasien banyak tertekan karena tidak ditemani oleh keluarga.
“Mereka hanya didampingi dokter dan tenaga kesehatan. Salah satu pengalaman tidak terlupakan menyaksikan bagaimana proses pasien yang satu bulan dirawat dengan gejala parah sekali hingga akhirnya bisa sembuh dan dinyatakan negatif dan diijinkan pulang,” ujarnya.
Melihat pandemi yang hingga saat ini masih menyerang, Farin berpesan agar masyarakat jangan ragununtuk untuk turut berkontribusi dalam menangani pandemi dengan cara masing-masing dan dimulai dari diri sendiri. Dia mencontohkan, kontribusi itu bisa dengan melakukan atau menerapkan protokol kesehatan dengan menjalankan 3 M.
“Kontribusi minimal yang dapat dilakukanadalah mencegah penularan dari diri sendiri dan orang sekitar,” tegasnya. (ads/rif)
#satgascovid19 #ingatpesanibu #ingatpesanibupakaimasker #ingatpesanibujagajarak #ingatpesanibucucitangan #pakaimasker #jagarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

















