YOGYAKARTA, fornews.co–Tiba-tiba asap putih kecoklatan mengepul di pos penjagaan tidak jauh dari Istana Negara di kawasan Titik Nol Kilometer, Kantor Pos Indonesia.
Bersamaan pekik serbu, suara ledakan terdengar berulang-ulang. Puluhan orang berseragam dan bersenjata laras panjang berlari ke arah Titik Nol Kilometer dari depan gerbang Istana dan benteng Vredeburg. Sebagian lain berlari dari arah Kantor Pos sambil menembakkan senjata.
Beberapa menit kemudian, pasukan berseragam doreng lengkap dengan senjata dan kendaraan perang merambat di selatan Istana Gedung Agung. Mereka menduduki pos pertahanan gerilyawan di Jalan Ahmad Yani, Malioboro, menancapkan bendera merah-putih-biru.
Tidak lama kemudian gerilyawan menyerang pasukan musuh dari berbagai arah setelah mendapat perintah untuk menggempur Belanda. Pasukan Belanda berhasil dihabisi dalam waktu enam jam.
Aksi teatrikal Serangan Umum 1 Maret yang diperankan oleh Djogkjakarta 1945, Historie van Bandoeng, dan komunitas lain dari berbagai kota di Indonesia. Mereka mengisahkan peristiwa perang enam jam di Yogyakarta sebagai bukti bahwa Indonesia masih ada.
Ketua PWK-III Cabang Yogyakarta, S. Sudjono, berkilas sejarah tentang Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta.
Belanda berbohong kepada PBB agar pihaknya mendapatkan dukungan untuk tetap memerintah di wilayah Indonesia. Namun PBB tidak mengijinkan dan langsung mengirimkan perwakilannya ke Yogyakarta.
“Melalui perwakilannya, PBB datang langsung ke Yogyakarta membuktikan apakah benar yang dikatakan Belanda bahwa Republik Indonesia dan tentaranya sudah tidak ada,” ujar Sujono, Ahad (1/3/2020).
Mendegar kabar PBB akan ke Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal Sudirman melakukan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut diputuskan untuk segera melakukan serangan fajar hingga batas waktu siang, pada akhir Februari di awal Maret.
“Mengapa jangan sampai masuk waktu sore?” tanya Sujono.
Perang enam jam di Yogyakarta dilakukan dengan maksud agar pihak yang mengklaim keberadaan NKRI dapat dipatahkan.
Peristiwa Serangan Umum 1 Maret (1949) dan Yogya Kembali (1949) merupakan dua peristiwa penting di dunia yang membuktikan bahwa NKRI masih kokoh.
“Serangan Umum 1 Maret harus dimulai saat fajar,” ungkap Sujono.
Sebab, lanjutnya, jika penyerangan dilakukan hingga sore pihak musuh akan mendapatkan bala tentara dari luar kota, salah satunya dari Semarang.
“Kita akan kalah senjata dan pasukan.”
Waktu itu Indonesia sedang menjadi pusat perhatian dunia. Banyak media massa yang memberitakan perang sengit di Indonesia. Banyak wartawan yang menjadi saksi bahwa Indonesia masih memiliki persatuan dan kesatuan. Seluruh rakyat Indonesia bersatu-padu melakukan perlawanan terhadap penjajahan.
“Setelah peristiwa Serangan Umum 1 Maret, pada tanggal 29 Juni 1949, Belanda mengundurkan diri. Peristiwa ini dikenal dengan Jogja Kembali,” pungkas Sujono.
Rahma Utami Alfisa, mahasiswi asal Tegal merasa sangat antusias. Ia memanfaatkan Hari Peringatan Serangan Umum 1 Maret sebagai momen penting untuk bisa terus menghargai jasa-jasa pahlawan.
“Momen ini sangat penting bagi generasi penerus sebagai penanda bahwa Indonesia lahir dari Yogyakarta,” katanya.
Sebagai kaum muda, generasi bangsa Indonesia, Rahma berharap perjuangan para pahlawan tidak begitu saja dilupakan. Terlebih mempertaruhkan jiwanya hanya untuk memerdekakan bangsa Indonesia.
“Kita sebagai kaum muda harus lebih menghargai para phlawan yang sudah berjuang melawan penjajah,” tutupnya.
Sebelumnya, usai upacara di Monumen SO 1 Maret, pawai ratusan peserta dari berbagai daerah dan provinsi di Indonesia juga turut meramaikan peringatan Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta. Takketinggalan pula drum band dari Akademi Militer. (adam)
FORNEWS OFFICIAL
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















