PALEMBANG, fornews.co – Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Indonesia. Legenda sepak bola Tanah Air, Zulkarnaen Lubis mengembuskan nafas terakhir di RS Pertamina Pendopo, Kabupaten PALI, Sumatra Selatan, sekitar pukul 07.45 WIB, Jumat (11/5).
Bukan hanya legenda tim nasional Indonesia, Zulkarnaen juga malang melintang bersama beberapa klub Tanah Air. Salah satu klub yang membuat kemampuannya semakin bersinar adalah Kramayudha Tiga Berlian, sebuah tim Galatama asal Palembang.
Menutup karier pemainnya di akhir 1990-an, Zulkarnaen melanjutkan karier sebagai pelatih. Namun bukan memegang klub di kompetisi profesional, Zulkarnaen justru memilih mengabdikan diri membangun sepak bola di daerah. Bahkan sebelum meninggal dunia, Zulkarnaen masih tercatat sebagai Pelatih PS PALI.
Meski putra asli Binjai, Sumatra Utara, namun Sriwijaya FC merasakan kedekatan emosional dengan sosok almarhum. Sebab karier kepelatihan Zulkarnaen Lubis begitu lekat dengan Sumatra Selatan.
“Beliau juga turut berjasa memajukan sepak bola di Sumsel. Sejak tahun 2012 di Muba, bahkan ditutup usia sebagai pelatih sepak bola di PALI. Saya selaku Presiden SFC turut berbelasungkawa. Besok SFC juga akan menggunakan pita hitam saat menjamu Bhayangkara FC, sebagai tanda berduka cita dan penghormatan kepada almarhum Zulkarnaen Lubis,” kata Dodi, Jumat (11/5) sore.
Dikutip dari www.wikipedia.org Zulkarnaen Lubis lahir di Binjai, Sumatra Utara 21 Desember 1958. Beberapa klub besar pernah diperkuat pemain yang dijuluki Maradona Indonesia ini seperti PSMS Medan (1979-1980), Mercu Buana Medan (1981-1982), Yanita Utama Bogor (1983-1985), Kramayudha Tiga Berlian (1985-1989), Persegres Gresik, Petrokimia Putra, PSM Makassar.
Zulkarnaen juga pernah menjadi andalan timnas Merah Putih di berbagai ajang. Masuk skuat timnas Indonesia di era 1983-1986, Zulkarnaen merupakan “pelayan” striker seperti Bambang Nurdiansyah, Dede Sulaiman dan Noah Meriem karena menjadi sumber umpan-umpan matang untuk mencetak gol. Menurut rencana, suami dari anggota Komite Eksekutif PSSI Papat Yunisal ini akan dimakamkan di Bandung.
“Saat MCM tadi juga sudah disepakati oleh pengawas pertandingan dan tim tamu Bhayangkara FC. Usulan kita untuk pakai pita hitam sesuai permintaan Presiden SFC disetujui. Kita juga akan ada mengheningkan cipta sebagai penghormatan kepada almarhum sebelum laga dimulai,” kata Media Officer SFC Muhammad Moeslim. (ije)

















